TEORI JUAL BELI mu‘āṭah


JUAL BELI muāah
A.    Pengertian jual beli
Jual beli dalam bahasa arab disebut ba’i yang secara bahasa adalah tukar menukar[i] sedangkan menurut istilah adalah tukar menukar atau peralihan kepemilikan dengan cara pergantian menurut bentuk yang diperbolehkan oleh syara’[ii] atau menukarkan barang dengan barang atau barang dengan uang, dengan jalan melepaskan hak milik dari seseorang terhadap orang lainnya atas kerelaan kedua belah pihak.[iii] Hukum melakukan jual beli adalah boleh (جواز) atau (مباح), sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275:
وأحل الله البيع وحرم الربا (البقرة:)
Artinya: Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba
dan hadist Nabi yang berasal dari Rufa’ah bin Rafi’ menurut riwayat al- Bazar yang disahkan oleh al-Hakim:
أن النبى صلى الله عليه وسلم سئل أى الكسب أطيب قال عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور
Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW, pernah ditanya tentang usaha apa yang paling baik; nabi berkata: “Usaha seseorang dengan tangannya dan jual beli yang mabrur”.
Hikmah diperbolehkannya jual beli adalah menghindarkan manusia dari kesulitan dalam bermu’amalah.[iv]
Rukun Jual Beli dalam kitab syafiiyah antara lain adalah:[v]
a)      Adanya ‘aqid (عاقد) yaitu penjual dan pembeli.
b)      Adanya ma’qud ‘alaih (معقود عليه) yaitu adanya harta (uang) dan barang yang dijual.
c)      Adanya sighat (صيغة) yaitu adanya ijab dan qobul. Ijab adalah penyerahan penjual kepada pembeli sedangkan qobul adalah penerimaan dari pihak pembeli.
Namun sebenarnya para fuqaha berbeda pendapat tentang batasan rukun dan hal lain pada akad; apakah ia terbatas pada sighat (kalimat transaksi, ijab dan qabul) atau kumpulan dari sighat dan ‘âqidayn (pembeli dan penjual) serta ma’qûd alayh atau mahal al-‘aqd (barang yang dijual dan harganya). Para ulama (yakni para ulama Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah) sepakat bahwa ini semua adalah rukun dari jual-beli.  Walhasil, rukun jual-beli yang disepakati oleh para ulama ada 5 perkara, yaitu:
a)      Penjual. Hendaknya ia pemilik sah dari barang yang dijualnya atau orang yang mendapat izin menjual dan berakal sehat, bukan orang yang terkena larangan mengelola harta.
b)      Pembeli. Hendaknya ia termasuk orang yang diperbolehkan menggunakan hartanya, bukan orang boros, dan bukan pula anak kecil yang tidak mendapat izin mengelola harta. (Lihat: QS an-Nisa’ [5]: 5).
c)      Barang yang dijual dan harganya. Hendaknya barang yang dijualbelikan termasuk barang yang diperbolehkan, suci, dapat diserahterimakan kepada pembelinya dan kondisinya diberitahukan kepada pembelinya, meski hanya gambarannya saja. Sebagian ulama menambahkan, barang yang dijual harus ada ketika terjadi transaksi (akad).[vi]
d)      Kalimat yang menunjukkan transaksi jual-beli, yakni kalimat ijab dan qabul. Contoh: pembeli berkata, “Juallah barang itu kepadaku.” Penjualnya berkata, “Aku menjual barang ini kepadamu.”[vii] Bisa juga dengan sikap mengisyaratkan kalimat transaksi. Misalnya, pembeli berkata, “Juallah pakaian ini kepadaku.” Kemudian penjual memberikan pakaian tersebut kepadanya. Termasuk dalam bentuk ungkapan ijab/qabul adalah dengan menggunakan tulisan. Adapun jual-beli dengan tindakan tanpa ada ungkapan-seperti seseorang membeli barang kemudian menyerahkan harganya; seperti jual-beli roti, koran, perangko, dan sebagainya-maka faktanya ada dua:
1)      Jika harga barang tersebut di pasaran telah diketahui tidak ada tawar-menawar maka tindakan tersebut menunjukkan ijab-qabul dan masuk dalam kategori jual-beli yang oleh fuqaha dinamakan bay’ al- mu’âthah;[viii]
2)      Jika harga barang tersebut memerlukan tawar-menawar kedua belah pihak maka bentuk jual-beli di atas tidak sah. Dengan demikian, setiap ijab-qabul adalah setiap ungkapan, isyarat, ataupun tindakan yang menunjukkan secara qath’i (tegas) adanya ijab-qabul tanpa mengandung unsur perselisihan.[ix]
e)      Ada keridhaan di antara kedua belah pihak. Ini berdasarkan sabda Rasul saw.: Jual-beli itu dianggap sah karena adanya keridhaan. (HR Ibn Hibban dan Ibn Majah).
B.     Baiul muāah
1.      Pengertian muaah
Muaah secara Bahasa diambil dari kata (التعاطي)  atta’athi masdar dari lafad  تعاطىta’atha yang artinya seseorang mengambil dengan tangannya. lafad تعاطى diambil dari fiil sulasi عطى yang bermakna mengambil. Sebagaimana firman allah
 سورة القمر آية / 29 {فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَى فَعَقَرَ}
Artinya maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya mengambil (unta itu) dan membunuhnya.
Mengenai lafad ta’ātha tersebut ada beberapa penafsiran mengenainya pertama ta’atha disini adalah mengmbil alat sembelihan[x], kedua mengambil tindakan seperti memanah unta tersebut dengan busur lalu membunuhnya denagn pedang. [xi]
Menurut istilah muathah dalam jual beli adalah transaksi dimana pembeli menerima suatu barang dan ia membayarnya, atau seorang penjual menyerahkan barangnya lalu pembeli membayarnya. Hal itu, dilakukan tanpa adanya ucapan atau isyarah ari keduanya. Muathah terjadi pada transaksi jual beli atau semacamnya yang termasuk akad muawadhah.[xii]
Muathah menurut syafiiyah adalah jual beli dengan cara saling merelakan barang atau harga penjualan sekalipun sama-sama diam dengan maksud melakukan jual beli.[xiii] Menurut hanafiyah jual beli muathah adalah jual beli dengan cara penjual dan pembeli sama-sama memberikan barang denagan saling rela tanpa ada yang mengucapkan apapun.[xiv] Jadi kalau salahsatu keduanya ada yang menguccapkan ijab atau qabul maka bukan muathah tapi jual beli biasa. Menurut malikiyah muathah adlah jualbeli tanpa adanya ijab qabul namun ada isyarah lafad atau perbuatan bahwa aqidain sama-sama rela.[xv] Sedangkan muathah menurut hambali adalah jual beli tanpa adanya ijab atau qabul atau kedua-duanya dari aqidain.[xvi]
2.      Macam-macam muaah
Bentuk-bentuk muathah antara lain:[xvii]
a)      Jual beli Tanpa adanya ijab dan qabul dari aqidain
b)      Jual beli dengan Adanya ijab dari penjual tapi tidak ada qabul dari pembeli
c)      Jual beli dengan menyerahkan barang tanpa adanya ijab namun ada qabul dari pembeli
3.      Mengenai Hokum jual beli muathah, ulamak dari syafiiyah masihikhtilaf imam syafii senddiri dan kebanyakan pengikutnya tidak mensahkannya karena tidak memenuhi rukun jual beli sedangkan sebagian lainnya membolehkan hanya pada barang-barang remeh.[xviii]
Muathah menurut hanafiyah sah dalam barang-barang yang remeh.[xix]
Muathah menurut malikiyah adalah boleh dan sah baik barang remeh atau tidak[xx]
Menurut hambali jual beli muathah hukumnya boleh karena adanya saling rela itu menggantikan ijab abul.[xxi]
C.    Muāah menurut Mażhab imam Syafii dan Mażhab imam malik
1.      Imam Syafii dan pandangannya terhadap muāah
Nama beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris  bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi'i, nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakeknya Abdul Manaf. Imam Syafi'i lahir pada bulan Rajab pada tahun 150 H. di Gaza, tidak lama kelahiran beliau, ayah beliau wafat. Ibu beliau bernama Fatimal al-Azdiyah, salah satu  kabilah di Yaman.[xxii] Imam Syafi'i kecil memiliki kecerdasan yang mengagumkan serta kecepatan hapalan yang luar biasa. Beliau pernah berkata: "Saat aku di kuttab, aku mendengar guruku mengajar ayat-ayat Alquran, maka aku langsung menghapalkan, apabila dia mendiktekan sesuatu. Belum selesai guruku membacakannya kepada kami, aku telah menghafal seluruh apa yang didiktekannya. Maka dia berkata kepadaku suatu hari: Demi allah, aku tidak pantas mengambil bayaran dari kamu sesen pun". Imam Syafi'i amat gemar mengembara, khususnya bertujuan menuntut ilmu.[xxiii] Beliau pindah ke Madinah untuk belajar fikih kepada Imam Malik, pada usia dua puluh tahun sampai Imam Malik meninggal pada tahun 179 H. pada tahun 184 H, Khalifah Harun Al-Rasyid memerintahkan Imam Syafi'i didatangkan ke Baghdad bersama sembilan orang lainnya atas tuduhan menggulingkan pemerintahan. Namun beliau dapat lepas dari tuduhan itu atas bantuan Muhammad Ibn al-Hasan Al-Syaibani, murid dan teman Imam Hanafi, yang kemudian hari menjadi guru beliau.[xxiv] Tak lama berada di Baghdad, Imam Syafi'i  kembali ke Mekkah al-Mukarramah, dengan membawa ilmu ahl ra'yu, yang dia peroleh dari Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, yang bersinergi dengan ilmu ahl Hijaz, yang diperoleh dari Imam Malik. Pada tahun 195 H, beliau kembali ke Baghdad yang bertujuan untuk berdiskusi tentang fikih. Tidak lama di Baghdad, beliau melanjutkan perjalanan ke Mesir dan tiba di Mesir pada bulan Syawal tahun 199 H. tak lama setelah tinggal di Mesir, tepatnya tahun 2004 204 H, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Konon beliau sebelum wafat menderita penyakit wasir yang parah, hingga terkadang jika naik kuda, darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaos kakinya. Beliau rela menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir. Selain itu, beliau terus mengajar, meneliti, dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.[xxv]
Mengenai guru-guru Imam Syafi'i, beliau merupakan ulama sintesis yang beraliran antara ahl ra'yu dan ahl hadis (Kufah dan Madinah), di Kufah Imam Syafi'i menimba ilmu kepada Muhammad Ibn al-Hasan al Syaibani yang merupakan murid sekaligus sahabat dari Imam Hanafi. Sedangkan di Madinah, beliau belajar kepada Imam Malik, beliau (Imam Malik) dikenal dengan sebutan ahl Hadis. Selain itu, beliau juga berguru kepada ulama-ulama di Yaman, Mekah dan Madinah. Adapun ulama Yaman yang menjadi guru Imam Syafi'i yaitu :
a)      Mutharaf Ibn Mazim,
b)      Hisyam Ibn Yusuf,
c)      'Umar Ibn Abi Salamah,
d)      Yahya Ibn Hasan.
Adapun selama tinggal di Mekkah, Imam Syafi'i belajar kepada beberapa ulama antara lain:
a)      Sufyan Ibn 'Uyainah
b)      Muslim Ibn Khalid al-Zauji
c)      Sa'id Ibn Salim al-Kaddah
d)      Daud Ibn 'Abdurrahman al-'Aththar
e)      'Abdul Hamid 'Abdul aziz Ibn Muhammad ad-Dahrawardi
f)       Ibrahim Ibn Abi Sa'id Ibn Abi Fudaik
g)      'Abdullah Ibn Nafi'.[xxvi]
Selain dua fikih di atas (aliran ra'yu dan hadis), Imam Syafi'i juga belajar fikih aliran al-Auza'i dari 'Umar Ibn Abi Salamah dan fikih al-Laits dari Yahya Ibn Hasan.
Mengenai murid, Imam Syafi'i mempunyai banyak murid alam meneruskan kajian fikih dalam alirannya. Yang paling berperan dalam pengembangan aliran fikih Imam Syafi'i ini antara lain :
a)      Al-Muzani
Nama asli beliau Abu Ibrahim Ismail Ibn Yahya al-Muzani al-Misri yang lahir pada tahun 185 H serta menjadi besar dalam menuntut ilmu dan periwayatan hadis. Saat Imam Syafi'i datang ke Mesir pada tahun 1994, al-Muzani  menemuinya dan belajar fikih kepadanya. Al-Muzani dianggap orang yang paling pandai, serdas serta yang paling banyak menyusun kitab untuk mazhabnya. Beliau meninggal pada tahun 264 H. adapun kitab karangan beliau antara lain al-Jami' al-Kabīr, al-Jami' aş-Şagir, serta yang terkenal al-Mukhtaşar aş-Şagir.[xxvii]
b)      Al-Buwaiti
Nama beliau adalah Abu Ya'qub Yusuf Ibn Yahya al-Buwaiti, yang berasal dari Bani Buwait kampung di Tanah Tinggi  Mesir. Beliau adalah murid sekaligus sahabat Imam Syafi'i yang tertua  bekebangsaan Mesir dan pengganti atau penerus Imam Syafi'i, sepeninggalnya.beliau belajar fikih dari Imam Syafi'i dan mengambil hadis darinya pula serta dari Abdullah bin Wahab dan dari yang lainnya. Imam Syafi'i merupakan sandarannya dalam berfatwa serta pengaduannya apabila diberikan satu masalah padanya. Beliau selalu menghidupkan malam dengan membaca Alquran dan shalat serta selalu menggerakkan kedua bibirnya dengan berdzikir kepada Allah. Beliau wafat pada tahun 231 H. di dalam penjara Baghdad, karena tidak menyetujui paham Mu'tajilah yang merupakan paham resmi negara saat itu, tentang kemakhlukan Alquran. Beliau menghimpun kitab al-fiqh, al-Mukhtaşar al-Kabīr, al-Mukhtaşar aş-Şagir dan al-Fara'id dalam aliran Imam Syafi'i menjadi satu.[xxviii]
Selain mereka berdua, murid-murid Imam Syafi'i yang lain, yaitu ar-Rabi' Ibn Sulaiman al-Marawi, 'Abdullah Ibn Zubair al-Hamidi. Abu Ibrahim, Yunus Ibn Abdul a'la as-Sadafi, Ahmad Ibn Sibti, Yahyah Obn Wazir al-Misri, Harmalah Ibn Yahya Abdullah at-Tujaidi, Ahmad Ibn Hanbal, Hasan Ibn 'Ali al-Karabisi, Abu Saur Ibrahim Ibn Khalid Yamani al-Kalbi serta Hasan Ibn Ibrahim Ibn Muhammad as-Sahab az-Za'farani.[xxix]
Adapun beberapa kitab fikih karangan Imam Syafi'i, seperti kitab al-Umm dan al-Risālah yang merupakan rujukan utama para ulama mazhab syafi'i dalam fikih dan ushul fikih. Selama itu, kitab lain karangan Imam Syafi'i seperti al-Musnad yang merupakan kitab hadis Nabi SAW yang dihimpun dari al-Umm, serta ikhtilāf  al-Hadīś, yaitu kitab yang menguraikan pendapat Imam Syafi'i mengenai perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam hadis.[xxx]
Beberapa kitab kaidah fikih Imam Syafi'i yang dikarang oleh ulama-ulama  bermazhab Syafi'i antara lain :
a)      Qawā'id al-ahkam fī Maşālih al-Anam karya Ibnu 'Abdulsalam (wafat 660 H)
b)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Ibnu Wakil (wafat 716 H)
c)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Taj al-Din al-Subki (wafat 771 H)
d)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Ibnu al-Mulaqqin (wafat 804 H)
e)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H).[xxxi]
Ulama membagi pendapat imam Syafi’i menjadi dua, yaitu Kaul Qadim dan Kaul Jadid. Kaul Qadim adalah pendapat imam Syafi’i yang dikemukakan dan ditulis di Irak. Sedangkan Kaul Jadid adalah pendapat imam Syafi’i yang dikemukakan dan ditulis di Mesir. Di Irak, beliau belajar kepada ulama Irak dan banyak mengambil pendapat ulama Irak yang termasuk ahl al-ra’y. Di antara ulama Irak yang banyak mengambil pendapat imam Syafi’i dan berhasil dipengaruhinya adalah Ahmad bin Hanbal, al-Karabisi, al-Za’farani, dan Abu Tsaur.
Setelah tinggal di Irak, imam Syafi’i melakukan perjalanan ke Mesir kemudian tinggal di sana. Di Mesir, dia bertemu dengan (dan berguru kepada) ulama Mesir yang pada umumnya sahabat imam Malik. Imam Malik adalah penerus fikih Madinah yang dikenal sebagai ahl al-hadits. Karena perjalanan intelektualnya itu, imam Syafi’i mengubah beberapa pendapatnya yang kemudian disebut Kaul Jadid. Dengan demikian, Kaul Qadim adalah pendapat imam Syafi’i yang bercorak ra’yu, sedangkan Kaul Jadid adalah pendapatnya yang bercorak sunnah.[xxxii]

Secara sederhana, dalil-dalil hukum yang digunakan Imam Syafi'i dalam Istinbāţ hukum, antara lain :
a)      Alquran dan sunnah
b)      Ijmak
c)      Menggunakan al-Qiyas dan  at-Takhyir bila menghadapi ikhtilaf.[xxxiii]
Sedangkan manhaj atau langkah-langkah ijtihad Imam Syafi'i, seperti yang dikutip DR. Jaih Mubarok dari Ahmad Amin dalam kitabnya Duha al-Islam, yaitu sebagai berikut :
… rujukan pokok adalah Alquran dan sunnah. Apabila suatu persoalan tidak diatur dalam Alquran dan sunnah, hukumnya ditentukan dengan qiyas. Sunnah digunakan apabila sanadnya sahih. Ijmak diutamakan atas khabar mufrad. Makna yang diambil dari hadis adalah makna zahir. Apabila suatu lafaz ihtimal (mengandung makna lain), maka makna zahir lebih diutamakan.hadis munqati'  ditolak kecuali jalur Ibn Al-Musayyab. As-Asl tidak boleh diqiyaskan kepada al-asl. Kata "mengapa" dan "bagaimana" tidak boleh dipertanyakan kepada Alquran dan sunnah, keduanya dipertanyakan hanya kepada al-Furu'…[xxxiv]
Menurut Rasyad Hasan Khalil, dalam istinbath hukum Imam Syafi’i menggunakan lima sumber, yaitu:
a)      Nash-nash, baik Alquran dan sunnah yang merupakan sumber utama bagi fikih Islam, dan selain keduanya adalah pengikut saja. Para sahabat terkadang sepakat atau berbeda pendapat, tetapi tidak pernah bertentangan dengan Alquran atau sunnah.
b)      Ijmak, merupakan salah satu dasar yang dijadikan hujjah oleh imam Syafi’i menempati urutan setelah Alquran dan sunnah. Beliau mendefinisikannya sebagai kesepakatan ulama suatu zaman tertentu terhadap satu masalah hukum syar’i dengan bersandar kepada dalil. Adapun ijmak pertama yang digunakan oleh imam Syafi’i adalah ijmaknya para sahabat, beliau menetapkan bahwa ijmak diakhirkan dalam berdalil setelah Alquran dan sunnah. Apabila mmasalah yang sudah disepakati bertentangan dengan Alquran dan sunnah maka tidak ada hujjah padanya.
c)      Pendapat para sahabat. Imam Syafi’i membagi pendapat sahabat kepada tiga bagian. Pertama, sesuatu yang sudah disepakati, seperti ijmak mereka untuk membiarkan lahan pertanian hasil rampasan perang tetap dikelola oleh pemiliknya. Ijmak seperti ini adalah hujjah dan termasuk dalam keumumannya serta tidak dapat dikritik. Kedua, pendapat seorang sahabat saja dan tidak ada yang lain dalam suatu masalah, baik setuju atau menolak, maka imam Syafi’i tetap mengambilnya. Ketiga, masalah yang mereka berselisih pendapat, maka dalam hal ini imam Syafi’i akan memilih salah satunya yang paling dekat dengan Alquran, sunnah atau ijmak, atau mrnguatkannya dengan qiyas yang lebih kuat dan beliau tidak akan membuat pendapat baru yang bertentangan dengan pendapat yang sudah ada.
d)      Qiyas. Imam Syafi’i menetapkan qiyas sebagai salah satu sumber hukum bagi syariat Islam untuk mengetahui tafsiran hukum Alquran dan sunnah yang tidak ada nash pasti. Beliau tidak menilai qiyas yang dilakukan untuk menetapkan sebuah hukum dari seorang mujtahid lebih dari sekedar menjelaskan hukum syariat dalam masalah yang sedang digali oleh seorang mujtahid.
e)      Istidlal. Imam Syafi’i memakai jalan istidlal dalam menetapkan hukum, apabila tidak menemukan hukum dari kaidah-kaidah sebelumnya di atas. Dua sumber istidlal yang diakui oleh imam Syafi’i adalah adat istiadat (‘urf) dan undang-undang agama yang diwahyukan sebelum Islam (istishab). Namun begitu, kedua sumber ini tidak termasuk metode yang digunakan oleh imam Syafi’i sebagai dasar istinbath hukum yang digunakan oleh imam Syafi’i.[xxxv]
Mengenai kebolehan transaksi jual beli, allah berfirman dalam kitabnya  yaitu:
{لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ} [النساء: 29]
Artinya: janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil kecuali kalian lakukan dengan cara saling rela.(annisa’ 29)
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى {وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} [البقرة: 275] .
Serta firman allah  dalam surat albaqarah yang artinya:
Allah menghalalkan jualbeli dan mengharamkan riba (albaqarah:275)
Dalam kitab tafsir al-imam assyafii maksud dari ayat tersebut menurut beliau ada dua pertama bahwa allah menghalalkan praktek jual beli barang yang dilakukan oleh keduabelah pihak dengan saling rela. Kedua, bahwa allah menghalalkan jual beli sesuatu yang tidak dilarang oleh rasulullah sebagai penjelas syariat.[xxxvi] Berdasarkan sabda rasul[xxxvii]
«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَنْ بُيُوعٍ تَرَاضَى بِهَا الْمُتَبَايِعَانِ»
Artinya: rasulullah SAW. melarang beberapa jual beli yang sama-sama direlakan oleh penjual dan pembeli
dalam tafsir imam syafii mengenai adanya saling ridho dalam ayat diatas menunjukkan bahwa jual beli bisa sah dengan syarat adanya ijab qabul antara kedua belah pihak berbeda dengan jualbeli dengan cara muāah yang tanpa adanya ijab dan qabul maka, hukumnya tidak sah.[xxxviii]
Dalil tentanng adanya ridho juga disebutkan dalalm hadis nabi yaitu:[xxxix]
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ الدِّمَشْقِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ صَالِحٍ الْمَدَنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ" , (جة) 2185 [قال الألباني]: صحيح
Dalam kitab subulussalam maksud dari hadis tersebut adalah sesungguhnya jualbeli itu bisa sah denagn adanya saling rela yang ditampakkan dengan shigath. Karena ridho adalah perkara yang samar dan tidak diketahui oleh orang kcuali dengan adanya shigath.[xl]
Menurut assyairāzi dan dalam kitab syarhul muhaŻŻab Jual beli dengan muāah tidak sah karena tanpa adanya ijab dan qabul maka tidak bisa dikatakan jual beli sebab jual beli harus saling ridho dan kalau tidak begitu maka transaksinya bukan dikatakan jual beli.[xli]
Dalam kitab al-majmuk alasan ulama Syafi’iyah melarang bentuk perbuatan dalam ijab qobul. Mereka beralasan bahwa perbuatan tidak menunjukkan adanya ‘iwadh atau timbal balik. Sehingga jual beli mu’athoh semacam ini menurut ulama Syafi’iyah tidaklah sah[xlii]
Sebagaimana kita ketahui bahwa sesunggguhnya ridho adalah perkara yang samar sebab itu merupakan pekerjaan hati yang tidak tampak pada orang lain kecuali dirinya sendiri. Oleh karenanya dalam al-wasith fil madzhab adanya ridho harus ditampakkan oleh sebuah lafat atau shigat.[xliii] yang keudian disebut denagn ijab dan qabul. Iajab, merupakan ucapan penyerahan dari seorang penjual denagan mengatakan aku menjual barang ini padamu sedangkan qabul adlah ucapan penerimaan dari pembeli dengan mengatakan saya membeli barang ini padamu dan ucapan yang semisal dengannya.[xliv]
Dan juga dalam alwasith dijelaskan bahwa menurut imam syafii qarinah tidak bisa menempati akad oleh karena itu muathah tidak bias dikatakan jualbeli.[xlv]
Contoh jual beli muathah menurut imam nawawi dalam kitab majmuk dan Dalam kitab addakhair yang dikutip dari kitab tuhfatul muhtaj fi syarhil minhaj adalah seseorang memberikan uang kemudian mengambil barang belian tanpa ada ucapan sama sekali dari keduanya, atau salah satu keduanya ada yang mengucapkan ijab atau qabul sdang yang lain tidak.[xlvi]
Jualbeli muathah menurut imam syafii dalam kitab tuhfatul muhtaj fi syarhil minhaj adlah termasuk jual beli yang fasid.[xlvii] Sebagaimana juga dijelaskan dalam kitab mugni mukhtaj bahwa serah terima dalam jual beli dengan cara muathah adalah sama denagn serah terima jual beli yang fasid.[xlviii]
Dalam kitab hasyiyatul jamal dijelaskan bahwa muathah bukanlah sebuah akad. Olehkaarenanya, jual beli muathah bukanlah akad jual beli.[xlix]
Mengenai halini dalam kitab hasyiyah bujairami alal khatib disebutkan bahwa akad jual beli harus denagn lafad sebab indikasi denagn lafad itu merupakan petunjuk yang sebenarnya dan lebih kuat dari petunjuk yang lain. Oleh karena itu, muathah tidak bisa dikatakan sebagai petunjuk atas adanya kerelaan.[l]
2.      Imam malik dan pandangannya terhadap muāah
Nama lengkap beliau adalah Abu abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirbin Amr bin al-Haris bin Ghaiman bin Jutsail binAmr bin al-Haris Dzi Ashbah. Imama malik dilahirkan di Madinah al Munawwaroh. sedangkan mengenai masalah tahun kelahiranya terdapat perbedaaan riwayat. al-Yafii dalam kitabnya Thabaqat fuqoha meriwayatkan bahwa imam malik dilahirkan pada 94 H. ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahawa imam malik dilahirkan pada 95 H. sedangkan. imam al-Dzahabi meriwayatkan imam malik dilahirkan 90 H. Imam yahya bin bakir meriwayatkan bahwa ia mendengar malik berkata :"aku dilahirkan pada 93 H". dan inilah riwayat yang paling benar (menurut al-Sam'ani dan ibn farhun)[li]. Ayahnya berasal dari kabilah Dzi Ashbah yang ada di Yaman, dan ibunya bernama ‘Aliyah binti syuraik dari kabilah Azdi. Kakek imam Malik datang berhijrah ke negeri Madinah setelah Rasulullah wafat, beliau merupakan seorang pembesar tabi’in, banyak meriwayatkan hadis dari sahabat, seperti Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan ‘Aisyah. Imam malik tidak pernah meninggalkan kota Madinah, kecuali untuk menunaikan ibadah haji sampai beliau wafat pada tanggal 14 Rabi’ul  Awal tahun 179 H dalam usia 87 tahun.
Imam malik mendapatkan ilmu fiqh dan sunnah dari para gurunya, diantaranya Abdurrahman bin Hurzum, Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-zuhry, Abu Az-zanad, Abdullah bin Dzakwan, Yahya bin Sa’id, dan Rabi’ah bin Abdirrahman.
Adapun murid Imam Malik banyak yang menjadi ulama terkenal  pada masa sesudahnya. Berikut ini adalah murid-muridnya yang menjadi fuqaha dan ahli hadis,
Yang berasal dari Mesir antara lain: Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim Al-Quraisyi, Abu Abdillah bin Qosim Al-A’taqi, Asyhab bin Abdul Aziz Al-Qoisy Al-A’miry Al-ja’dy, Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam bin A’yun bin Al-Laits, Ashbah bin Alfaraj Al-Amawi, Muhammad bin Abdul Hakam, Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad Al-Iskandari Al-Ma’ruf  bin ibni Mawaz.
Yang berasal dari afrika dan Andalusia (spanyol) antara lain: Abu Abdillah Ziyad bin Abdurrahman Al-Qurthubi Al-Ma’ruf  bisyabtun, I’sa bin Dinar Al-Andalusi, Yahya bin Yahya bin Katsir Al-Laitsi, Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As-Salami.
Dalam menentukan hukum suatu masalah, seorang imam tentunya punya metode tersendiri ketika nash Al-Qur’an dan As-Sunnah didapati tentang masalah tersebut. Begitu pula Imam Malik, sikap kehati-hatian dan ketelitian yang dimilikinya tentu tak lepas dari metode yang beliau tempuh dalam menggali dan menentukan hukum dari sebuah persoalan. Beberapa sumber hukum yang digunakan oleh Imam Malik adalah sebagai berikut:
a)      Al-Qur’an
b)      As-Sunnah
Pemahaman Imam Malik terhadap As-Sunnah sama halnya ketika dia memahami Al-Qur’an, yakni jika dalil syara’ menghendaki penakwilan maka arti ta’wil yang dijadikan pegangan, jika dhahir Al-Qur’an bertentangan dengan makna Al-Hadis maka dipilih makna dhahir Al-Qur’an. Akan tetapi, jika makna yang terkandung dalam As-Sunnah dikuatkan ijma’ ahli Madinah maka diutamakan as-Sunnah dari pada Al-Qur’an , baik mutawatir, masyhur, maupun hadis ahad.
c)      Ijma’ Ahlu Al-Madinah
Imam Malik menggunakan ijma’ ahlu al-madinah sebagai salah satu sumber hukum, hal ini karena menurut Imam Malik merupakan kesepakatan masyarakat madinah yang yang berasal dari naql, yakni mencontoh Rasululloh dan bukan merupakan hasil ijtihad mereka sendiri.
d)      Fatwa Sahabat
Imam Malik mengambil fatwa sahabat, karena fatwa sahabat merupakan perwujudan hadis yang harus diamalkan jika memang benar periwayatannya, terutama dari para khulafa’ ar-rasyidin jika memang tidak ada nash dalam masalah tersebut. Bahkan madzhab ini lebih mengutamakan fatwa sahabat dari pada qiyas dengan alasan yang telah disebutkan.
e)      Qiyas, Al-mashlahah Al-mursalah, dan Istihsan
Imam Malik menggunakan qiyas dengan maknanya menurut istilah, yaitu menggabungkan hukum satu masalah yang tidak ada nash-nya dengan masalah yang sudah ada nash-nya karena ada persamaan dalam aspek illat-nya. Beliau juga mengamalkan istihsan, yaitu menguatkan hukum satu kemaslahatan yang merupakan cabang dari sebuah qiyas, dan tentunya ia juga mencakup al-maslahah al-mursalah yang merupakan kemaslahatan yang tidak ada dalil yang menolak atau membenarkannya, dengan syarat mengambilnya demi menghilangkan kesusahan dan termasuk jenis kemaslahatan yang memang oleh syariat islam.
f)       Sadd adz-dzara’i
Maksud dari sadd adz-dzara’i adalah sesuatu yang mengakibatkan terjadinya perbuatan haram adalah haram, dan yang dapat membawa kepada yang halal maka hukumnya halal sesuai dengan ukurannya. Dan setiap yang dapat membawa kerusakan maka haram hukumnya.
g)      Istishab
Istishab adalah tetapnya suatu ketentuan hukum untuk masa sekarang atau yang akan datang berdasarakan atas ketentuan hukum yamg sudah berlaku dan sudah diyakini adanya, kemudian datang datang keraguan atas hilangnya sesuatu yang telah diyakini adanya tersebut, maka hukumnya tetap seperti hukum yang pertama yaitu tetap ada.
h)      Syar’u man Qoblana
Adalah suatu hukum yang berlaku untuk umat sebelum kita melalui para rasul, dan hukum tersebut dijelaskan pula dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah, maka hukum tersebut berlaku pula untuk kita.
i)       ‘Urf
‘Urf adalah pekerjaan yang berulang-ulang dilakukan oleh suatu individu atau golongan. Para ulama Malikiyah membagi ‘urf menjadi tiga: pertama, ‘urf yang diambil oleh semua ulama yaitu ‘urf yang berdasarkan nash. Kedua, ‘urf yang jika diambil berarti mengambil sesuatu yang dilarang oleh syara’. Ketiga, ‘urf yang dilarang syara’ dan tidak ditunjuk untuk mengamalkannya.
Kebolehan akad jual beli menurut imam maalik juga berdasarkan firman allah yakni;
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ} [النساء: 29]
Disebutkan dalam kitab attaju wal iklilu lilmukhtaar Khalil dengan memahami ayat tersebut Jual beli mempunyai tiga rukun yaitu shigath jual beli, oranag yang berakad dan barang yang diperjualbelikan. [lii] Sedangkan sigath menurut ibnu hājib adalah sesuatu yang menunjukkan adanyaa kerelaan antara kedua belah pihak baiak dengan ucapan ataupun dengan perbuatan dari keduabelah pihak.[liii] ini menjadi rukun karena jual beli berdasarkan ayat tersebuat harus dilakukan denagn saling rela antara penjual dan pembeli. Adanya kerelaan bisa diketahui dengan perkataan seperti ijab qabul dan juga bisa dengan perbuatan seperti cara muathah.[liv]
Dalam mukhtaar kholil jual beli beli bisa terjadi apabila ada sighat atau sesuatu yang dapat dipahami adanya kerelaan antara kedua belah pihak sekalipun berbentuk gerakan badan. Ibnu syis juga mengatakan bahwa yang menjadikan berpindahnya kepemilikan adalah adanya sighat atau ucapan berupa ijab qabul atau sesuatu yang dapat menggantikannya baik berupa perkataan atau perbuatan.  Jadi sekalipun sighat menjadi rukun jual beli tetapi tidak ada keharusan memakai sighat tertentu, sigaht apapun baik perkataan atau perbuatan itu sama-sama dibenarkan seperti cara muathah.
Bahkan dalam kitab mukhtashar kholil boleh melakukan jual beli dalam keadaan sedang sholat denagan cara isyarah dan muathah.
Imam malik mengatakan jual beli muathah boleh secara muthlak karena memahami ayat
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ} [النساء: 29]
Yang mana ayat tersebut hanya mensyaratkan adanya jual beli harus ada saling rela antara penjual dan pembeli. Sedangkan kerelaan bisa diketahui denagan adanya ucapan atau perbuatan. Sedangkan perbuatan secara urfiyah banyak dilakukan oleh orangorang sebagai indikasi adanya kerelaan didalam transaksi.[lv]
Kemudian dalil bahwa isyarah juga merupakan kalam atau ucapan adalah firman allah
{آيَتُكَ أَلا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ إِلا رَمْزًا} [آل عمران: 41]
Menurut ibnu arafah shigath adalah sesuatu yang menunjukkan baik itu perkataan maupun perbuatan sehingga dalam hal ini isyarah perbuatan yang dipahami sebagai ijab dan qabul maka sama halnya denagan mengucapkannya.[lvi]
Dan juga sesungguhnya yang dimaksud denagn jualbeli adlah mengambilnya seseorang terhadap barang yang ada pada orang lain dengan membayar gantinya.[lvii]
Menurut Muhammad bin abdillah al-kharasyi jual beli bisa dilakukan dengan beberapa cara: pertama, penjual dan pembeli dalam ijab qabulnya sama-sama menggunakan perbuatan bukan ucapan. Kedua, penjual menggunakan shigath lafad sedangkan pembeli menggunakan perbuatan. Ketiga, penjual menggunkan perbuatan ssedang pembeli menggunakan ucapan. Keempat keduanya menggunakan shigath isyarah. Kelima, penjual menggunakan isyarah sedang pembeli menggunkan ucapan. Keenam, penjual mnggunakan ucapan sedang pembeli dengan isyarah.[lviii]
Dalamkitab syarhu mukhtashar Khalil disebutkan bahwa dalalah atau sesuatu yang menunnjukkan atas kerelaan yaitu ucapan, perbuatan, dan juga isyarah. Dalalah tersebut bisa berupa dalalh thabiqiyyah, dalalah tadammuniyyah, dalalh iltizamiyyah dan juga dalalah urfiyah seperti muatah.[lix]
Dan juga dalam kitab bulgatussaalik liaqrabil masalik dijelaskan bahwa muatah bisa diperhitungkan apabila muatah sudah menjadi kebiasaan orang banyak dan harus saling memberi agar jual belinya menjadi luzum.[lx]
Dalam al-muhaddab fi ilmil ushulil fikh al-muqarin disebutkan dnagn jelas bahwa istihsan menjadi dlil diperbolehkannya jual beli muathah[lxi]
3.      Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Allah telah mengaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi.
Lebih legkapnya manfaat teknologi antara lain: pertama memudahkan, hal ini sejalan dengan firmannya:
يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ … (البقرة : 185)
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu,  dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah (2) :185).
Dan ayat:
وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى. (الأعلى : 8)
Artinya: “Dan Kami memberimu kemudahan agar kamu memperoleh kemudahan”. (QS. al‑A’la (87) : 8).
Kedua, Memperoleh Kesenangan dan Kebahagiaan Hidup.
Allah tidak menghendaki manusia hidup susah, tetapi sebaliknya Allah menghendaki manusia hidup senang, hidup bahagia. Ketika Allah menempatkan Adam dan istrinya di bumi, Allah berfirman:
وَلَكُمْ فِي اْلأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ. (البقرة : 36)

Artinya: “ …. dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (Qs. Al-Baqarah (2): 36).
Untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup yang disediakan oleh Allah itu, manusia diberikan sarana kebutuhan yang serba lengkap di bumi, sebagaimana Allah nyatakan:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ. (البقرة : 29)
Artinya:        “Dia-lah Alah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu sekalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah (2): 29).
Ketiga, Menumbuhkan Rasa Syukur Kepada Allah.
kesungguhan untuk mewujudkan rasa syukur dalam amal kehidupan secara riil. Allah mengingatkan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ. (إبراهيم : 7)
Artinya:      “Dan (ingatlah) tatakala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat‑Ku), maka sesungguhnya azab‑Ku sangat pedih “. QS. Ibrahim (14) : 7).
Sekalipun demikian, memang banyak manusia, bahkan kebanyakan manusia tidak menyadari kalau nikmat itu adalah anugerah Allah sehingga ia tidak mensyukuri nikmat tersebut. Hal ini juga diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya:
إِنَّ اللهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُوْنَ. (البقرة : 243)
Artinya “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (QS. Al-Baqarah (2): 243).
Melihat manfaat menikmati kemajuan teknologi tersebut, perlu kiranya mempertimbangkan pendapat yang tidak membolehkan jual beli vending machine. Karena dengan berubahnya zaman harusnya kita menyesuaikan cara hidup maupun hokum yang telah ditetapkan di zaman dulu.
Menurut wahbah zuhaily dalam kitabnya fiqhul islam wa’adillatuhu sesunggunya kebiasaan dan perkembangan zaman itu dapat merubah hokum yang ada sesuai denagan tuntutan zaman.[lxii]
Dalam kitab qawaidul fikih disebutkan qaidah tentang perubahan zaman yaitu لَا يُنكر تغير الْأَحْكَام بِتَغَيُّر الْأَزْمَان
Maksudnya hokum yang sudah ditetapkan oleh ulamak sesuai dengan zamannya dulu itu bisa saja berubah sesuai dengan berubahnya kebiasaan masyarakat setelahnya.[lxiii]
Menurut dr. Muhammad shidqi bahwa urf atau kebiasaan bisa merubah hokum sebelumnya namun tidak dapat menggugurkan hokum sebelumnya namun tetap harus memperhitungkan kebiasaan yang baru bukan yang lama.[lxiv]
qaidah لا ينكر تغير الأحكام بتغير الأزمان maksudnya situasi, kondisi serta tempat bisa merubah hukum kebiasaan sebelumnya. Karena, hukum itu dibangun atas kebiasaan manusia dan perubahan pekerjaannya.[lxv]
Namun menurut dr zuhaili kalau seandainya kebiasaan sebelumnya lebih mendatangkan maslahah maka hokum tidak bisa berubah dengan berlandaskan qaidah ini.[lxvi]












[i]  Imam Ahmad bin Husain, Fathu al-Qorib al-Mujib, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 30.
[ii]  Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 193
[iii]  Ibnu Mas’ud & Zainal Abidin, Fiqih Madzhab Syafi’i, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 22.
[iv]  Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 193-194
[v]  Imam Abi Zakaria al-Anshari, Fathu al-Wahab, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 157.
[vi]  Mausu’ah al-Fiqhiyah Kuwaitiyah, maktabah syamilah
[vii]  Ibn Dhawiyan, Manâr as-Sabîl, I/287.Riyadh: al-Maarif, 1405 H. Cetakan ke-2
[viii]  Ibnu Qudamah, Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi. IV/5
[ix]  Taqqiyudin an-Nabhani, Asy-Syakhisyah al-Islâmiyyah, Darul Ummah. II/295-298.
[x]  Nashiruddin abu said Abdullah albaidawi. Anwaruttanzil waasraruttakwil. Bairut:darul ihyautturas arabi.1418.  hal. 167 juz 5.
[xi]  Abdullah ibnu abbas. Tanwirul miqbas mintafsiri ibni abbas.libanon: darul kutub al-ilmiyah.tth. hal. 449
[xii]  Wizaratul auqaf wassuunil Islamiyah. Almausu’ah alfiqhiyyah al- kuwaitiyah.1404.syamelaa. hal. 198 juz 12
[xiii]  Sulaiman bin muhammadalbujairami. Hasyiyah bujairami ala syarhil minhaj.1950. maktabah syamilah.
[xiv]   Ibnuabidin Muhammad binumar bin abdulaziz. Raddul mukhtar ala ad-darul mukhtar.bairut:darul fikr.1992. hal.513  juz 4
[xv]   Abu abdulah Muhammad bin Muhammad al-abdari. Al-madkhol libni al-haj. Darutturats) hal.156 juz 1
[xvi]  Abdurahman binmuhammad al-ashimi. Hasyiyah arraud al-murabba’ syarhu zada al-mustaqni’.1397 h)hal.330.juz 4
[xvii]  Al Mulakhosh Al Fiqhiy, 2: 8
[xviii]  Mughni mukhtaj ila ma’rifati maani alfadil manhaj.hal. 326 juz 2
[xix]  Zainal abiding(ibnu nujaim). Al-bahru al-raiq syarh kanzuddaqaiq. Darul kitab alislami. Hal. 291 juz 5
[xx]  Ibnu al-hajib al- kurdi. Jamiul ummahat.maktabah syamilah hal.331 juz 1
[xxi]   Abdurrahman bin Muhammad. Hasyiyah arraud al-murabbi’ syarhu zadul mustaqni’.maktabah syamilah. Hal. 331 juz 4
[xxii]  (Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu, 1/76, 472, Siyar A’lamin Nubala’karya Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu, 10/5-6, dan Tahdzibul Asma’ wal Lughatkarya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, 1/44)
[xxiii]  Muhammad Hasan al-Jamal. Hayāh al-Imāmah, diterjemahkan oleh M. Khaled Muslih dan Imam Awaluddin dengan judul Biografi 10 Imam Besar, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007, C. ke 3, h. 59-65. Lihat juga M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada, 2002, h. 203-4.
[xxiv]  Abdul Azis Dahlan (et.al), Ensiklopedi Hukum Islam, artikel "Asy-Syafi'i", Imam" Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, Jilid 5, C. ke I, h. 1680.
[xxv]  M. Hasan Al. Jamal, Hayāh, h. 84.
[xxvi]  Saifudin Nur, Ilmu Fiqh Suatu Pengantar Komprehensif Kepada Hukum Islam, Bandung: Tafakur, 2007, C. Ke I, h.  99-100
[xxvii]  Muhammad Ali As-Sayis, Tārikh al-Fiqh al-Islāmi, diterjemahkan oleh Nurhadi Adengan judul Sejarah  Fikih Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003, C. Ke I, h. 156-7
[xxviii]  Muhammad Ali As-Sayis, Tārikh al-Fiqh al-Islāmi, diterjemahkan oleh Nurhadi Aga dengan judul Sejarah  Fikih Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003, C. Ke I, h. 157
[xxix]  Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, artikel "Syafi'i, Imam", Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2001, Jilid 4, C. ke 5, h. 329. Bandingkan dengan Rasyad Hasan Khalil, Tārikh al-Tasyrī’  al-Islāmi, diterjemahkan oleh Nadirsyah Hawari dengan judul Tarikh Tasyri’, Sejarah Legislasi Hukum Islam, Jakarta; Amzah, 2009, h. 188.
[xxx]  Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, C. ke I, h. 115.
[xxxi]  Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, C. ke I, h. 115.
[xxxii]  Jaih Mubarok, Modifikasi Hukum Islam, Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid,  Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada, 2002, h.  9-11.
[xxxiii]  Khudhari Beik, Tārikh al-Tasyrī’ al-Islāmih. 436-7.
[xxxiv]  Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, C. ke I, h. 105-106
[xxxv]  Khudhari Beik, Tārikh al-Tasyrī’ al-Islāmih. 436-7.
[xxxvi] Assyafii abu abdillah Muhammad ibnu idris ibnu abbas. Al-umm. Bairut: darul makrifah.tth. hal.3 juz 3
[xxxvii] Ismail bin yahya bin ismail al-muzanni. Mukhtashar al-muzani. Bairut: darul ma’rifah.1990.hal.172 juz 8
[xxxviii] Assayfii abu abdillah Muhammad bin idris. Tafsir assyafii.makkah: darul tadmiriyyah. 2006. Hal. 596 juz 2
[xxxix] Shahib abduljabbar. Almusnad al-maudu’ie al-jami’ lilkutubilasyrah. 2013.hal. 164 juz 15
[xl]  Muhammad bin ismail bin shalah bin Muhammad alhasani. Subulussalam. Darul hadis. Tth. Hal. 01 juz 02
[xli] Abu ishaq Ibrahim bin ali bin yusuf assyairazi. Al-muhaddab fi fiqhil imam assyafii. Bairut darulkutub al-ilmiyah. Tth. Syamelaa. Hal. 3 juz 2
[xlii] Abu zakariyya muhyiddin annawawi. Al Majmu’. Darul fikr. Syamelaa. hal 9: 170
[xliii] Abu hamid Muhammad bin Muhammad al-ghazali. Alwasith fil madzhab. Darussalam 1417.hal.08 juz 03
[xliv] Abu ishaq Ibrahim bin ali bin yusuf assyairazi. Al-muhaddab fi fiqhil imam assyafii. Bairut darulkutub al-ilmiyah. Tth. Syamelaa. Hal.03 juz 02
[xlv] Abu hamid Muhammad bin Muhammad al-ghazali. Alwasith fil madzhab. Darussalam 1417.hal.189 juz 04
[xlvi] Ahmad bin Muhammad bin ali bin hajar alhaitami. Tuhfatul muhtaj fi syarhil minhaj. Maktabah attujjariyah alkubra. 1983. Hal.217 juz 4
[xlvii] Ahmad bin Muhammad bin ali bin hajar alhaitami. Tuhfatul muhtaj fi syarhil minhaj. Maktabah attujjariyah alkubra. 1983. Hal.180 juz 3
[xlviii] Syamsuddin Muhammad bin ahmad alkhotib assyarbini. Mughni muhtaj ila ma’rifati ma’ani alfadil minhaj. Darul kutub ilmiyah.1994.syamelaa. hal.325 juz 02
[xlix] Sulaiman bin umar bin Mansur al-ajili. Futuhaatil wahhab bitaudihil syarhi minhajittullab hasyiyatul jamal. Darul fikr.tth samelaa. Hal. 4juz 3
[l] Sulaimanbin Muhammad bin umar albujairami. Tuhfatul habib ala syarhil khotib.syamelaa. darul fikr. 1995. Hal. 12 juz 3
[li]  Malik bin Anas: "Al Muwaththa", halaman 7-9. Mesir :Dar al-Ghad al-gadeed
[lii] Muhammad bin yusuf bin abi qasim bin yusuf al-abdari. Attaju wal iklilu limuhtashar Khalil.darulkutubilmiyah. syamelaa. Hal. 12 juz 6
[liii]  Ibnul hajib alkurdi almaliki. Jamiul ummahaat. Hal. 337 juz 01
[liv]  Abu abdillah Muhammad bin Muhammad al-abdari. Almadkhal. Darul al-tturas. Hal.156juz 01
[lv] Syamsuddin abu abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman. Mawahibul jalil fi syarhi mukhtashar Khalil. Darul fikr.1992.syamelaa. hal. 229 juz 04

[lvi] Syamsuddin abu abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman. Mawahibul jalil fi syarhi mukhtashar Khalil. Darul fikr.1992.syamelaa. hal. 229 juz 04
[lvii] Syamsuddin abu abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman. Mawahibul jalil fi syarhi mukhtashar Khalil. Darul fikr.1992.syamelaa. hal 228 juz 04
[lviii] Muhammadbin abdillah al-khursyi. Syarhul Khalil lilkhursyi. Bairut. Darul fikr. Maktabah syamelaa. Hal. 05 juz 05
[lix]  Muhammad bin abdillah al-kharsyi. Syarh mukhtasor Khalil. Bairut: darul fikr. Syamelaa.hal. 05 juz 05
[lx]  Abu al-abbas ahmad bin Muhammad al-khuluqi. Bulgatussalik liaqrabil masalik. Darulmaari.syamelaa. hal.14 juz 04
[lxi]  Abdul karim bin ali binmuhammad annamlah. Al-muhaddab fi ilmil ushulil fikih. Riyad. Maktabah rusd.1999. Hal. 1023 juz 3
[lxii] Wahbah bin mushthafa azzuhaily. Al-fiqhulislamy wa’adillatuhu. Damaskus.darul fikr.hal. 39 juz 01
[lxiii]  Ahmad bin syeh Muhammad azzarqa. Syarh al-qawaid al-fiqhiyah.damaskus: darul qalam. 1989. Hal 277
[lxiv]  Syeh Muhammad shidqi. Al-wajiz fi idahi qawaidil fiqih al-kulliyah. Bairut. 1996. Hal. 285
[lxv]  Syeh Muhammad shidqi. Al-wajiz fi idahi qawaidil fiqih al-kulliyah. Bairut. 1996. Hal.310
[lxvi]  Wahbah zuhaily. Al-qawaid al-fiqhiyyah watathbiquha fil madzhab. Damaskus. Darul fikr.2006. hal. 353 juz 1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUKUM PENJUALAN VENDING MACHINE PERSPEKTIF IMAM SYAFI'IE DAN IMAM MALIK

PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN USHUL FIKIH DENGAN PARTICIPATORY TRAINING