PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN USHUL FIKIH DENGAN PARTICIPATORY TRAINING


NAMA          :M. SYAIFUL ANWAR

NIRM           : 016.01.04.0304

             Program Pascasarjana Institut Agama Islam Ibrahimy Sukorejo Situbondo

2017

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Pendidikan menurut Andrewe. Sikula dalam bukunya personnel dministration and human resource management, mendifinisikan pendidikan sebagai berikut, “development is a long term educational proces utulizing asystematic and organized procedure by which managerial personnel learn conceptual and theoritical knowledge for general furpose”. [1]

Pembangunan adalah proses pendidikan jangka panjang yang memanfaatkan prosedur sistematis dan terorganisir dimana personil manajerial belajar pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum

Dalam undang-undang disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, penegendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak muia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara.[2]

Dari definisi pendidikan yang disebutkan alam undang-undang pendidikan diatas menunjukkan bahwa betapa tingginya keinginan negara dalam menetapkan mutu atau kualitas pendidikan warga indonesia. Yaitu bagaimana pendidikan diharapkan dapat mencetak warga menjadi orang yang cerdas akal, spriritual berahlak yang baik serta cinta bangsa dan negaranya.

Untuk mewujudkan cita-cita bangsa tersebut tentu semua pihakharus serius dalam menangani pendidikan baik dari pemerintah, kepala sekolah, guru serta orang tua murid atau masyarakat semuanya. Tentu mereka harus bersatu dan punya satu tujuan untuk menghaislkan siswa-siswa yang berkualitas sesuai standard pemerintah[3]. Dengan memperbaiki dan menjalankan langkah-langkah penjaminan mutu dari penjagaan input dan proses serta output. Guru besar pendidikan Prof Kasiani Kasbolah, PhD, berkata "Input jelek, proses jelek, hasilnya pasti jelek. Input baik, proses jelek, hasilnya belum tentu baik. Input jelek, proses baik, hasilnya bisa lebih baik. Input baik, proses baik, hasilnya pasti baik."[4] Berbicara tentang pendidikan, bisa saja situasi di lapangan terjadi empat kondisi seperti di atas. Hanya, jika kita disuruh memilih, pilihan yang tepat memang input baik, proses baik. Kondisi ini bisa dikategorikan pendidikan yang ideal. Mungkinkah pendidikan di seluruh Tanah Air bisa menggapai kondisi tersebut? Kondisi yang masih lebih baik adalah jika input jelek tapi prosesnya baik. Di sinilah terjadi usaha besar dan serius dalam pendidikan. Proses baik menggambarkan pendidikan yang benar-benar memberikan manfaat kepada peserta didik. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak terampil menjadi terampil. Dari tidak cerdas menjadi cerdas. Yang paling berbahaya adalah jika input jelek, proses jelek. Sebab, di dalam suasana ini, sekolah ibarat kumpulan siswa yang tidak memiliki masa depan. Mereka berkumpul dalam suasana yang tidak menentu untuk nasib hidupnya. Kita tidak mengharapkan model pendidikan ini. Kondisi yang konyol adalah jika input baik tapi proses jelek. Sebab, kondisi ini menggambarkan sebuah sekolah yang tidak bisa memberikan perubahan kepada anak didik. Justru nasib peserta didik seperti ini jelas menjadi korban. Pendidikan yang tidak mengandalkan inovasi proses akan terjebak pada kondisi ini. Nah, bagaimanakah kondisi input sekolah di seluruh Tanah Air? Sekolah di mana saja, baik sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, maupun perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan tinggi negeri (PTN), berbondong-bondong menggapai siswa atau mahasiswa sebanyak-banyaknya. Ini utamanya sekolah swasta. Namun, khusus PTN, sejak diundangkanya Badan Hukum Pendidikan (BHP), juga turut serta bergerilya.
            Dalam wacana pendidikan saat ini, ada kecenderungan mereka sangat mengandalkan kuantitas peserta didik. Ada yang serius menyaring input sebaik-baiknya. Bisa saja ada yang berpotensi sekadar dapat jumlah titik impas (BEP) biaya penyelenggaraan pendidikan. Jika kuantitas yang diutamakan, ada kecenderungan mendapatkan input yang tidak baik.
Kondisi input yang tidak baik di sekolah sangat krusial jika proses pendidikan tidak maksimal.[5] Di sinilah kondisi sekolah sekadar sebagai kumpulan manusia tanpa pengalaman dan perubahan. Jika kondisi input baik tapi proses baik tidak bisa digapai, input jelek tapi proses baik merupakan pilihan yang tidak bisa dihindarkan. Jika tidak, sekolah tak memberikan manfaat sama sekali. Pengalaman secara empiris memberikan dampak perubahan kepada manusia. Sekolah, sebagai proses formal pengalaman peserta didik, jelas sangat bermakna dalam pendidikan.[6] Dalam pendidikan sebenarnya yang banyak memberikan banyak hal kepada peserta didik adlah pendidikan itu sendiri. Sama halnya dengan proses dalam kehidupan individu sebagai manusia di lingkungannya. Sebuah lingkungan salah satunya adalah sekolahan. Otak manusia, termasuk jiwanya, diibaratkan sehelai kertas putih yang masih kosong. Intinya bahwa pengamatan dengan pancaindra senantiasa mengisi jiwa manusia. Proses ini terjadi dengan kesan-kesan (sensation). Setelah terjadi sintesis, analisis, dan perbandingan, kemudian diolah menjadi pengetahuan (reflection). [7]

 Sekolah sebagai tempat proses pendidikan formal akan lebih baik jika mereka mengutamakan mutu proses pendidikannya. Jika tidak, sekolah tidak bisa memberi pengalaman belajar peserta didik. Selama ini sekolah-sekolah cenderung mencari siswa atau mahasiswa sebanyak-banyaknya sebagai input untuk diproses melalui pendidikan yang diselenggarakan. 

Salah satu bentuk penjaminan mutu dalam segi prosesnya adalah memperhatikan sumber dya manusia yakni siswa denagn memberikan asupan-asupan ilmu dan pemahaman terhadapnya agar dapat menjalankan kehidupan yang lebih baik dan bisa melakukan hal-hal yang menjadi keahliannya.[8]

Sumber daya manusia merupakan elemen utama organisasi dibandingkan dengan elemen lain seperti modal, teknologi, dan uang sebab manusia itu sendiri yang mengendalikan yang lain. Membicarakan sumberdaya manusia tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan atau proses manajemen lainnya seperti strategi perencanaan, pengembangan manajemen dan pengembangan organisasi. Keterkaitan antara aspek-aspek manajemen itu sangat erat sekali sehingga sulit bagi kita untuk menghindari dari pembicaraan secara terpisah satu dengan lainnya.[9]

Pengelolaan sumber daya manusia tidak hanya terpusat pada kegiatan seleksi, penempatan, pengupahan, pelatihan, transfer, promosi serta berbagai tindakan lainnya, yang fokusnya adalah pada kepentingan organisasi kerja. Tugas utama dari pengelolaan sumber daya seringkali hanya mengusahakan agar personil dapat bekerja secara efektif. Dalam artian yang luas pengembangan sumber daya manusia terutama meliputi pendidikan dan pelatihan, peningkatan kesehatan manusiawi, yang menyegarkan dalam organisasi, dan pertemuan ilmiah seperti seminar, simposium perlu untuk ditingkatkan.

Ciri yang konkrit dari program pendidikan dan pelatihan dalam peningkatan mutu unjuk kerja personil selalu berkembang, karena kebutuhan organisasi kerja dan masyarakat selalu berubah. Kekuatan potensial yang dapat menimbulkan perubahan adalah yang saling berkaitan. Pelatihan dan pengembangan SDM menjadi suatu keniscayaan bagi organisasi, karena penempatan karyawan secara langsung dalam pekerjaan tidak menjamin mereka akan berhasil. Karyawan baru sering sering merasa tidak pasti tentang peranan dan tanggung jawab mereka. Permintaan pekerjaan dan kapasitas karyawan haruslah seimbang melalui program orietasi dan pelatihan. Keduanya sangat dibutuhkan. Sekali para karyawan telah dilatih dan telah menguasai pekerjaannya, mereka membutuhkan pengembangan lebih jauh untuk menyiapkan tanggung jawab mereka di masa depan. Ada kecenderungan yang terus terjadi, yaitu semakin beragamnya karyawan dengan organisasi yang lebih datar, dan persaingan global yang meningkat, upaya pelatihan dan pengembangan dapat menyebabkan karyawan mampu mengembangankan tugas kewajiban dan tanggung jawabnya yang lebih besar.[10]

Sebagai pendukung pemahaman dan keterampilan dalam menjalankan suatu pekerjaan adalah dengan adanya pelatihan-pelatihan. Pelatiahn sudah menjadi program yang rutin dilaksanakan oleh perusahaan atau organisasi dalam meningkatkan kinerja karyawan ,staf atau pengurus suatu organisasi. Hal ini tentu juga bisa dilkukan oleh sekolah atau luar sekolah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi atau pelajaran sekolah dan menggali bakat-bakat yang terpendam dalam dirinya.[11]

Ma’had Aly Sukorejo merupakan lemabaga yang husus dalam mencetak kader-kader ahli fikih dan ushul fikih. Yang Didirikan oleh alm. KHR. As’ad Syamsul Arifin pada tahun 1990 yang dilatar belakangi kerisauan para ulamak akan minimnya kader-kader ulamak lanataran masuknya berbagai macam aliran ke indonesia yang mengancam punahnya orang yang akan mempelajari dan memahami agama dengan benar. Pada ahir tahun 1980 Kerisauan mereka dihaturkan pada kyai As’ad ternyata Kiai As’ad merasakan hal yang sama. Beliau mengusulkan, agar mencari kader-kader unggul dari masing-masing pesantren untuk digembleng dan di-training secara khusus dan di tempat khusus pula. Tujuannya adalah untuk mencetak kader  faqihu zamanihi (ahli ilmu agama di zamannya), ulama yang mempunyai integritas keilmuan memadai dan mampu menjawab persoalan-persoalan di sekitarnya, sekaligus menjadi uswah bagi umatnya

Untuk mencapai terwujudnya cita-cita pendiri Ma’hd Aly maka disusunlah kurikulum dan program-prokram kerja yang mendukung.

Dalam penyusunan dan pelaksanaan program kerja, Ma’had Aly meng klasifikasikan menjadi dua, yaitu :

a.  Program Kerja Reguler

Program kerja reguler adalah program kerja yang dilakukan secara berkala dalam jangka waktu tiga tahun yang dikhususkan dalam enam semester.

1.    Penerimaan Peserta didik Ma’had Aly  (lih. peserta didik)

2.    Penugasan (penjadwalan) tenaga pengajar (lih. tenaga pengajar)

3.    Penyusunan Kurikulum dan Refferensi

4.     Proses Perkuliahan (lih. Proses dan Pola Pendidikan)

5   Model Evaluasi dan Parameter Kelulusan

b.  Program Kerja non-Reguler

Progran kerja non-reguler adalah program kerja yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan masyarakat santri (social student demand), sebagai penunjang kemampuan dan skill santri, secara garis besar digolongkan manjadi :

1.     Seminar

               2.     Pelatihan

Untuk memperdalam penguasaan dan pemahaman materi Ma’had Aly mengadakan pelatihan-pelatihan diantaranya pelatihan manasik haji, pelatihan  sholat jamaah dan pelatihan ushul fikih dan lain sebagainya.

Namun Dari beberapa pelatihan yang dilkukan masih banyak yang kurang memnuhi prosedur pelatihan dan masih perlu untuk diperbaiki dan dikembangkan. oleh karena iu peneliti tertarik untuk mengangkat judul pengembangan pelatihan ushul fikih denagn participatory training dalam meningkatkan kualitas santri Ma’had Aly Sukorejo.

B.     Identifikasi dan pembatasan

1.      Identifikasi

a.       Banyaknya materi yang diberikan dalam pelatihan dengan waktu yang terbatas

b.      Waktu pelatihan terlalu padat yakni 11 jam

c.       Kurangnya waktu istirahat bagi peserta

d.      Tidak adanya evaluasi di ahir pelatihan

C.    Rumusan masalah

a.       Bagaimanakah model pelatihan ushul fikih di Ma’had Aly Marhalah Ula Sukorejo Situbondo.

b.      Bagaimanakah desain pelatihan ushul fikih dengan participatory training Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.

 

D.    Tujuan pengembangan

a.       Untuk mengetahui model pelatihan ushulfikih Ma’had Aly marhalah ula Sukorejo Situbondo.

b.      Untuk mengetahui desain pelatihan ushul fikih dengan participatory training Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.

E.     Manfaat Pengembangan

a.       Bagi lembaga Ma’had Aly

sebagai salah satu bahan masukan dalam rangka meningkatkan kualitas kurikulum Ma’had Aly

b.      Bagi pengurus Ma’had Aly

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran kepada pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan Ma’had Aly.

c.       Bagi siswa

 diharapkan mendapat hasil belajar yang memuaskan dengan terlaksannya pelatihan ushul fikih

F.     Spesifikasi produk

Dalam hal ini produk yang akan dikembangkan addalah pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo yang dilaksankan tiga kali setiap angkatan (selama tiga tahun).

Adapun format pelatihannya adalah sebagai berikut:

1)      Tahap Awal

1.      Fasilitator memberikan pengarahan tentang aturan pelatihan yang efektif dan efesien.

2.      Fasilitator memberikan pengarahan dan pengantar tentang materi yang akan disampaikan oleh narasumber.

3.      Fasilitator mempersilahkan pemateri untuk memulai penyampian materinya sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan oleh panitia.

2)      Penyampaian Materi (Entering Behavior)

1.      Narasumber memulai penyampaian materi dengan mengucapkan salam pembuka, membaca al-Fatihah dan lain sebagainya.

2.      Narasumber menjelaskan, menerangkan, dan menyajikan materi yang telah disiapkan sampai tuntas, dengan durasi waktu 45 menit.

3.      Narasumber mempersilahkan peserta pelatihan untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan terkait dengan penyampian materi yang telah disampaikan oleh narasumber.

4.      Narasumber memberikan tanggapan atau penjelasan terhadap pertanyaan atau tanggapan peserta pelatihan.

5.      Setelah semua rangkaian penyampaian materi sudah selesai, pemateri menutup penyampaian materi.

6.      Narasumber kembali menyerahkan forum pelatihan kepada Fasilitator.

7.      Narasumber memimpin sendiri jalannya forum dengan efektif dan efisien sampai batas waktu yang telah di tetapkan oleh fasilitator.

3)      Pra Pendalaman Materi

1.      Fasilitator mengambil alih jalanya forum sekaligus mereview materi yang telah disampaiakan oleh narasumber.

2.      Fasilitator menginstruksikan kepada peserta pelatihan untuk berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

3.      Sebelum acara diskusi kelompok dimulai, fasilitator mengadakan bina suasana.

4.      Fasilitator menyiapkan serta memberikan materi diskusi kepada masing-masing kelompok.

5.      Fasilitator memberikan penjelasan dan pengarahan kepada masing-masing kelompok terkait dengan mekanisme disko (diskusi kelompok) yang efektif dan efesien.

4)      Pendalaman Materi

1.      Fasilitator mempersilahkan kepada masing-masing kelompok untuk memulai diskusinya, dengan batas waktu yang telah ditentukan.

2.      Setelah disko selesai, Fasilitator menginstruksikan kepada tiap-tiap perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya kepada peserta lain (panel).

3.      Setelah masing-masing dari kelompok selesai panel, fasilitator memberikan tanggapan dan menutup forum.

 

G.    Definisi istilah

a.       participatory training

Pelatihan partisipasi adalah pelatihan yang mengikut sertakan peserta pelatihan atau keterlibatan yangberkaitan dengan keadaan lahiriahnya pelatihan partisipasi adalah pelatihan dimana peserta berperan secara aktifdalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahapsosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan denganmemberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill 

b.      Ushul fikih

Dalil-dalil fikih yang bersifat global, dan metode penggunaannya serta karakteristik orang yang mengoprasikan dalil tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A.    KAJIAN TEORI

1.      pengertian pelatihan

Istilah pelatihan dalam kamus lengkap Inggris-Indonesia merupakan terjemaahan dari kata “training” dalam Bahasa inggris. Secara harfiah akar kata “training” adalah “train” yang berarti, memberi pelajaran dan praktik (give teaching an practice), menjadikan berkembang dalam arah yang dikehendaki (cause to grow in a required direction), persiapan (preparation), dan praktik (practice).[12] Maksudnya adalah pelatihan merupakan proses pendidikan yang dilaksanakan secara sistematis dengan tujuan-tujuan untuk memberikan pelajaran dan hal yang baru maupun mengembangkan potensi didalam diri dengan cara melalui dari persiapan pelatihan sampai melaksankan praktik pelatihan. 

Dan banyak pengertian pelatihan yang dikemukakan oleh beberapa ahli anatara lain sebagai berikut. [13]

istilah latihan yang dipergunakan disini adalah untuk menunjukan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan kemampuan pegawai guna menyelesaikan pekerjan-pekerjaan tertentu.

Dalam keterangan lain, pelatihan diartikan sebagai serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seseorang individu.[14]

Sementara dalam Instruksi Presiden No. 15 tahun 1974 disebutkan mnegenai pengertian pelatihan dirumuskan sebagai berikut:

Pelatihan adalah bagian dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh meningkatkan keterampilan diluar sitem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan menggunakan metode yang lebih mengutamakan praktik dari pada teori.

Menurut Goldstein dan Gressner, pelatihan lebih menekankan pada tempat pelatihannya, dan dimana mendefinisikan pelatihan sebagai usaha sistematis untuk menguasai keterampilan, peraturan, konsep ataupun cara berperilaku yang berdampak pada peningkatan kinerja. Misalnya, untuk pelatihan untuk suatu jabatan kerja, setting pelatihan diusahakan semirip mungkin dengan lingkungan kerja yang sebenarnya. Contoh lainya, pelatihan juga bisa dilakukan ditempat yang sangat berbeda dengan lingkungan kerja yang sebenarnya, misalnya ruangan kelas.[15]  Pelatihan dapat diartikan sebagai berikut :    Training merupakan suatu istilah yang memiliki konotasi tertentu bergantung pada pengalaman seseorang dan latar belakangnya. Bagi seseorang yang antusias pada balap (racing), maka training merupakan usaha untuk mencetak pemenang. Bagi pemain sirkus, training merupakan usaha untuk menjinakan binatang-binatang dan menunjukan kemahiran dimuka penonton. Bagi pemilik anjing yang disekolahkan atau dilatih, training berfungsi sebagai upaya menjalankan tugas-tugas keamanan. Dalam dunia kerja, training biasanya dihubungkan dengan pemberian petunjuk, orientasi dan pengarahan supaya pekerja bisa bekerja lebih baik.[16]

Jika didefinisikan, training adalah pengajaran atau pemberian pengalaman kepada seseorang untuk mengembangkan tingkah laku (pengetahuan, skill, sikap) agar mencapai sesuatu yang diinginkan Robinson, Dalam Dictionary of Education, pelatihan (training) diartikan sebagai suatu pengajaran tertentu yang tujuan telah ditentukan secara jelas, biasanya dapat diragakan, yang menghendaki peserta dan penilaian terhadap perbaikan unjuk kerja peserta didik.[17]

 

2.      Tujuan pelatihan

Pendidikan Nonformal Dimensi dalam keaksaraan Fungsional, Pelatihan, dan Andragogi. Pelatihan dapat diartikan sebagai berikut :    Pelatihan jenis apapun sebenarnya tertuju pada dua sasaran, yaitu partisipasi dan organisasi. Dengan pelatihan, diharapkan terjadi tingkah laku pada partisipan pelatihan yang sebenarnya meupakan anggota suatu organisasi dan, yang kedua, perbaikan organisasi itu sendiri, yakni agara menjadi lenih efektif. Apabila pelatihan tertuju pada karyawan perusahaan atau pabrik, tujuan pelatihan adalah agar individu karyawan tersebut menjadi lebih baik pula, misalnya lebih produktif. Pada latihan kader organisasi, misalnya, pelatihan bertujuan memperbaiki kecakapan kader dan selanjutnya diharapkan organisasinya lebih efektif dalam melaksanakan program-program dan mencapai tujuannya.[18]

Tujuan penelitian yang diungkapkan oleh Dale S. Beach mengemukakan, bahwa tujuan pelatihan adalah untuk memperoleh perubahan dalam tingkah laku mereka yang dilatih. secara lebih rinci tampak bahwa tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang.[19]

Sedangkan menurut Marzuki ada tiga tujuan pokok yang harus dicapai dengan pelatihan, yaitu : [20]

a)      memenuhi kebutuhan organisasi

b)      Memperoleh pengertian dan pemahaman yang lengkap tentang pekerjaan dengan standar dan kecepatan yang telah ditetapkan dan dalam keadaan yang normal serta aman.

c)      Membantu para pemimpin organisasi dalam melaksanakan tugasnya

Secara khusus dalam kaitan dengan pekerjaan, Simamora mengelompokan tujuan pelatihan ke dalam lima bidang, yaitu: [21]

a)      Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan perubahan teknologi. Melalui pelatihan, pelatih memastikan bahwa karyawan dapat secara efektif menggunakan teknologi-teknologi baru.

b)      Mengurangi waktu belajar bagi karyawan untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan.

c)      Membantu memecahkan permasalahan operasional.

d)      Mempersiapkan karyawan untuk promosi, dan

e)      Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi.

Adapun tujuan pelatihan yang dikemukakan oleh Sudjana yaitu diantaranya sebagai berikut: [22]

a)      Sebagai tolak ukur penilaian dalam arti bahwa pelatihan dinilai berhasil apabila tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai sebagaimana yang telah diharapkan. Dengan cara lain ketercapaian pelatihan menjadi indikator keberhasilan pelatihan yang telah dirancang sebelumnya. 

b)      Sebagai pemberi arah bagi semua unsur/ komponen pelatihan, khususnya pelatih dan peserta pelatihan. Dengan kata lain pelatih dapat merancang kegiatan yang akan dilakukan untuk membelajarkan peserta dalam mencapai tujuan pelatihan.

c)      Sebagai pemberi acuan tentang standar/kriteria untuk merancang kurikulum pelatihan seperti materi dan teknik serta media pelatihan dan alat evaluasi keluaran pelatihan.

3.      Prinsip-prinsip Pelatihan

Menurut Dale yoder dalam tulisannya menyebutkan sembilan asas yang berlaku umum dalam kegiatan pelatihan, diantaranya (1) Individual differences; (2) Relation to job anAlysis; (3) motivation; (4) active participation; (5) selection of trainess; (6) selection of trainers; (7) trainer’s of training; (8) training method’s dan (9) principles of learning.

(1) Perbedaan individu; (2) Hubungan dengan pekerjaan anasis; (3) motivasi; (4) partisipasi aktif; (5) pemilihan trainess; (6) pemilihan pelatih; (7) pelatih pelatihan; (8) metode pembelajaran dan (9) prinsip pembelajaran.[23]

Karena pelatihan merupakan bagian dari proses pembelajaran, maka prinsip-prinsip pelatihanpun dikembangkan dari prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip-prinsip umum agar pelatihan berhasil adalah sebagai berikut :

a.       Prinsip perbedaan individu Perbedaan-perbedaan individu dalam latar belakang sosial, pendidikan, pengalaman, minat, bakat, dan kepribadian harus diperhatikan dalam menyelenggarakan pelatihan.

b.      Prinsip motivasi Agar peserta pelatihan belajar dengan giat perlu ada motivasi. Motivasi dapat berupa pekerjaan atau kesempatan berusaha, penghasilan, kenalkan pangkat atau jabatan, dan peningkatan kesejahteraan serta kualitas hidup. Dengan begitu pelatihan dirasakan bermakna oleh peserta pelatihan.

c.       Prinsip pemilihan dan pelatihan para pelatih Efektivitas program pelatihan anatara lain bergantung pada para pelatih yang mempunyai minat dan kemampuan melatih. Anggapan bahwa seseorang yang dapat mengerjakan seseuatu dengan baik akan dapat melatihkannya dengan baik pula tidak sepenuhnya benar. Karena itu perlu ada pelatihan bagi para pelatih. Selain itu pemilihan dan pelatihan para pelatih dapat menjadi motivasi tambahan bagi peserta pelatihan.

d.      Prinsip belajar Belajar harus dimulai dari yang mudah menuju kepada yang sulit, atau dari yang sudah diketahui menuju kepada yang belum diketahui.

e.       Prinsip partisipasi aktif Partisipasi aktif dalam proses pembelajaran pelatihan dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta pelatihan.

f.        Prinsip fokus pada batasan materi Pelatihan dilakukan hanya untuk menguasai materi tertentu, yaitu melatih keterampilan dan tidak dilakukan terhadap pengertian, pemahaman, sikap dan penghargaan.

g.      Prinsip diagnosis dan koreksi Pelatihan berfungsi sebagai diagnosis melalui usaha yang berulang-ulang dan mengadakan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang timbul.

h.      Prinsip pembagian waktu Pelatihan dibagi menjadi sejumlah kurun waktu yang singkat.

i.        Prinsip keseriusan Pelatihan jangan dianggap sebagai usaha sambilan yang bisa dilakukan dengan seenaknya.

j.        Prinsip kerjasama Pelatihan dapat berhasil dengan baik melalui kerjasama yang baik antar semua komponen yang terlibat dalam pelatihan.

k.      Prinsip metode pelatihan Terdapat berbagai metode pelatihan, dan tidak ada satu pun metode pelatihan yang dapat digunakan untuk semua jenis pelatihan. Untuk itu perlu dicarikan metode pelatihan yang cocok untuk suatu pelatihan .

l.        Prinsip hubungan pelatihan dengan pekerjaan atau dengan kehidupan nyata Pekerjaan, jabatan, atau kehidupan nyata dalam organisasi atau dalam masyarakat dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan, keterampilan, dan dikap apa yang dibutuhkan,  sehingga perlu diselenggarakan pelatihan.[24]

4.      Pelatihan Dalam Pendidikan Luar Sekolah 

Pelatihan merupakan salah satu bagian dari pendidikan non formal atau dikatakan pendidikan Pendidikan luar sekolah dimana pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dimana seseorang memperoleh informasi-informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan mengembangkan tingkat kerterampilan, sikap-sikap peserta yang efisien dan efektif  dalam lingkungan keluarga bahkan masyarakat dan negaranya.

Pengertian dari keterangan diatas sesuai dengan Undang-undang R.I Nomor 20 tahun 2003 tetang sistem pendidikan nasional, pasal 26 ayat 4 menyatakan bahwa lembaga pelatihan merupakan satuan pendidikan non formal disamping satuan pendidikan lainnya yaitu kursus, kelompok belajar, majelis ta’lim, kelompok bermain, taman penitipan anak, pusat kegiatan belajar masyarakat dan satuan pendidikan sejenis.[25]

Adapun sasaran dari pendidikan non formal menurut Depdiknas seluruh lapisan masyarakat, tidak terbatas usia, jenis kelamin, status social ekonomi dan tingkat pendidikan sebelumnya. Hal ini dikatakan bahwa pendidikan non formal seyogyanya mampu melayani seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan baik dalam hal tambahan pengetahuan, skill, dan keterampilan.

Sedangkan dam UU no. 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional, pasal 26 ayat 1 menyebutkan bahwa pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga, masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat life long education. Pelatihan dalan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat 1 telah dituliskan bahwa “Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Dan satuan yang ada di dalamnya seperti yang dituliskan pada pasal 26 ayat 4 bahwa “Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis”. Salah satu satuan yang ada didalam Pendidikan Luar Sekolah yakni yang sudah dituliskan diatas yaitu kursus dan pelatihan dan pada pasal 26 ayat 5 bahwa “Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi”.[26]

Berdasarkan pengertian dan penjelasan diatas, bahwa pendidikan non formal pada hakekatnya mendasari berbagai pendidikan atau pembelajaran yang ada diluar sistem pendidikan yang formal secara keseluruhan. Pelatihan sebagian bentuk dari pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah, dan memiliki tujuan untuk membelajarkan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan pendidikan sebagai bentuk dari pendidikan sepanjang hayat.

 

 

5.      Model-model pelatihan

Model pelatihan adalah pelaksanaan pelatihan yang terdapat program pelatihan dan tata cara pelaksanaannya. Kemudian di dasarkan pada kategori dan jenis pelatihan lalu ditentukan suatu model pelatihan. Biasanya dalam pelatihan itu sendiri terdapat model-model yang sering di gunakan organisasi dan perusahaan untuk melath para angota organisasi atau karyawannya[27]

Pengembangan model menurut Pramono (2011) adalah usaha penyempurnaan, penemuan sesuatu yang baru (adaptif, dan inovatif) menurut kaidah-kaidah dan metode ilmiah tertentu sehingga melahirkan formulasi yang dikehendaki. Pengembangan model meliputi model program, model pembelajaran, model pelatihan, dan model proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar tertentu untuk menjadikan peserta didik dapat menerapkan teori ke dalam praktik sehingga memiliki keterampilan di bidang mata ajaran atau ilmu pengetahuan.[28]

Menurut IPABI pusat menyatakan bahwa tahapan-tahapan dalam pengembangan model terdiri dari dari dua yaitu, menyusun rancangan pengembangan model, dan melaksanakan pengembangan model.[29]

Pelatihan  sebagai  sebuah  konsep  program  yang  bertujuan  meningkatkan pengetahuan  dan  keterampilan  seseorang  (sasaran  didik),  berkembang  sangat pesat dan    modern.  Perkembangan  model  pelatihan  (capacity  building, empowering, training dll pengembangan kapasitas, pemberdayaan, pelatihan dll))  saat  ini  tidak  hanya  terjadi  pada  dunia usaha,  akan  tetapi  pada  lembaga-lembaga  profesional  tertentu  model  pelatihan  berkembang  pesat  sesuai  dengankebutuhan  belajar,  proses  belajar  (proses  edukatif),  assessment,  sasaran,  dantantangan lainnya (dunia global dll.).

Model pelatihan pada awalnya berkembang pada dunia usaha terutama melalui magang tradisional,  dalam sebuah  magang tradisional kegiatan belajar membelajarkan dilakukan  oleh  seorang  warga  belajar  (sasaran  didik)  dan  seorang  sumber  belajar (tutor),  maka  dalam  perkembangan  selanjutnya  interaksi  edukatif  yang  terjadi  tidak hanya melalui perorangan  akan tetapi terjadi melalui kelompok warga belajar (sasaran didik,   sasaran  pelatihan)  yang  memiliki  kebutuhan  dan  tujuan  belajar  yang  sama dengan  seorang,  dua  orang,  atau lebih   pelatih  (sumber  belajar,  trainers).   

Salah  satu konsep mengapa  model  pelatihan dibangun adalah sangat bergantung pada kondisi itu (warga belajar,  sasaran  didik dan  pelatih/tutor).  Hal  tersebut  sangat beralasan  karena kebutuhan  dan  tujuan  pelatihan  dapat  tercapai  apabila  warga belajar,  tutor  saling  mema hami,  menghargai,  pengertian  dan  saling  membelajarkan satu  dengan  lainnya.[30]

Di  dalam  dunia  usaha  model pelatihan  (Training)  dibangun  atas  dasar  kebutuhan  peningkatan  produksi,memperluas  pemasaran,  dan  kemampuan  perusahaan  dalam  memantapkanpengelolaan  unit  usaha  itu  sendiri.[31]  Interaksi  edukatif  yang  terjadi  pada  modelpelatihan  itu  adalah  adanya  interaksi  edukatif  antara  tiga  kelompok  orang  dalam kegiatan  belajarnya.  Kelompok pertama,  adalah  orang-orang  yang  telah  memiliki keahlian  dalam  bidang  usaha.  Merekalah  yang  me nguasai  pengetahuan  dan keterampilan  untuk  meningkatkan  produksi,  pengadaan  bahan  Baku,  dan  pemilikan Dana.  Kelompok  kedua,  yakni  orang-orang  yang  telah  memiliki  keahlian sebagaimana  keahlian kelompok pertama. Keahlian itu mereka peroleh dengan belajar dari kelompok pertama, namun mereka tidak  memiliki modal usaha. Kelompok ketiga  adalah  orang-orang  yang  belum  memiliki  keahlian  sebagaimana  keahlian  yang  telah dimiliki  oleh  orang  pertama dan  kedua.   Orang-orang  yang  termasuk  pada  kelompok ketiga  ini  sedang  belajar  dari  kelompok  pertama dan  atau  kelompok  kedua pada  saat mereka   bekerja  di  perusahaan.  Dengan  kata  lain  mereka  belajar  sambil  bekerja. Kondisi  dan  perkemba ngan  interaksi  edukatif  tersebut terjadi  pada  abad  pertengahan,  ketika  dunia  industri  mulai  berkembang.  (Abad pertengahan sampai awal abad ke-19)[32]

Sejak  masa  rintisan  sampai  masa   sekarang  latihan  terus  tumbuh  dan berkembang,  Latihan  dilakukan  oleh  berbagai  lembaga  pemerintah,  badan-badan swasta,  dan  organisasi  kemasyar akatan  lainnya.  Lembaga-lembaga  pemerintah  baik yang  berstatus  departemen  maupun  non-departemen,  menyelenggarakan  pelatihan dalam berbagai  bidang  terutama  yang berhubungan dengan  tugasnya,  latihan  tersebut di  antaranya  bertujuan  meningkatkan kemampuan  staf  dan petugas  dalam  lingkungan mereka   masing-masing.  Beberapa  kategori dan  model  pelatihan  yang dilakukan  lembaga  pemerintah  departemen  dan  non-departemen  di antaranya  adalah dalam  bentuk: pre-service  training (pra jabatan), in-service  training (latihan  dalam jabatan)  dan social  service  training (latihan  dalam  memberikan  pelayanan  kepada masyarakat).  Pelatihan-pelatihan  tersebut  di antaranya  berdasar  pada  konsep kebutuhan jabatan dan atau self-actualisation.

Perkembangan  pelatihan  sehingga  melahirkan  model-model  pelatihan  yang sederhana   sampai  pada  model  pelatihan  yang  kompleks  sangat  bergantung  pada budaya  ma nusia  (masyarakat  itu  sendiri).  Terutama  yang  berkaitan  dengan  dunia pendidikan (belajar), usaha, manajemen, teknologi, masyarakat dll.).

Suatu model pelatihan dianggap efektif manakala mampu dilandasi kurikulum, pendekatan  dan  strategi  yang  sesuai  dengan  kebutuhan  belajar  sasaran  didik  dan permasalahan-permasalahan  yang  terjadi  di  tengah-tengah nya.  Untuk  itu  diperlukan persyaratan  khusus  dalam  membangun  sebuah  model  pelatihan  yang  efektif  dan efesien.  Persyaratan  tersebut  diantaranya  adalah  kebutuhan  belajar  peserta  pelatihan (sasaran didik,  warga belajar  dll.) istilah tersebut dalam dunia  pendidikan luar sekolah dikenal  dengan  TNA  (Training  Needs  Asse ssment),  SMA  (Subject  Matter  AnAlysis) dan  ATD.[33]

Pelatihan berdasar pada kebutuhan (Training Needs Assessment) Kebutuhan  pelatihan  sangat  berkaitan  erat  dengan  kebutuhan  belajar, kebutuhan  belajar  diartikan dengan  kesenja ngan  kemampuan  di  antara  kemampuan yang  telah  dimiliki dengan  kemampuan  yang  dituntut,  atau  dipersyaratkan  dalam kehidupan  sasaran  didik  (peserta  pelatihan).   Kemampuan  tersebut  menyangkut kemampuan pengetahuan,  sikap,  nilai,  dan  tingkah  laku  sesuai  dengan  aspek  yang menjadi  konteks  perhatian.  Apabila  kita  sedang  berbicara  dalam  kaitannya  dengan peserta  pelatihan  (sasaran),  maka  kebutuhan  peserta  pelatihan  (sasaran)  tersebutsangat  berkaitan  dengan  pengetahuan,   keterampilan  dan  sikap  yang  berlaku  pada kehidupannya  atau pada dunia kerjanya. Kebutuhan  belajar  pada  peserta  pelatihan  (sasaran)  (manusia)  dapat berkembang,  bertambah  dan  berkurang,  bahkan  dapat  secara  berkelanjutan  dan berganti-ganti.[34] 

Terpenuhinya  suatu  kebutuhan,  dapat  menjadi  potensi  untuk melahirkan  kebutuhan  baru  yang  kedudukannya  lebih  tinggi.  Apabila  peserta pelatihan  (sasaran)  telah  memperoleh  kemampuan  membaca    (sebagai  kebutuhan dasar),  kemudian  dia  menilai  kemampuan  membaca  dirinya,  setelah  tahu  bahwa  dia mampu,  dia  akan  berlanjut  untuk  mengetahui  secara  mendalam  isi  buku  yang ditemuinya.  Begitu  pula  apabila  peserta  pelatihan  (sasaran)  telah  memahami pengetahuan  dasar,  maka  secara  langsung  akan  melakukan self-assessment dan  hasil assessment tersebut  akan menjadi  modal  untuk  mengetahui  pengetahuan  yang  lebih tinggi  di atasnya.  Akan  tetapi  di  balik  itu  kebutuhan  akan  berubah  bertambah  dan berkurang,  hal  ini  diakibatkan  oleh  keterba tasan  peserta  pelatihan  (sasaran)  dalam memandang  penting atau tidaknya pengeta huan  untuk  diri  sendiri,  serta  kemauan dan kemampuan dalam memahami diri. [35]

Oleh  karena  itu  kebutuhan  belajar  yang  tumbuh  dalam  diri  menuntut  adanya program belajar     yang  dapat  memenuhinya. Begitu pula  keaneka ragaman  kebutuhan belajar  yang  dirasakan  menuntut  adanya  program  belajar  yang  lebih  aktif  dan beraneka  ragam  pula.  Sehingga  usaha  penetapan  kebutuhan  belajar  perlu  ada  usaha untuk  melakukan  identifika sinya   (approaches  to  training  and  development dan need assessment pendekatan untuk pelatihan dan pengembangan dan penilaian kebutuhan).  Beberapa  teknik  TNA  ya ng  dapat  dikenali  diantaranya  adalah  :interviewing, Observing, working with groups, and writing questioners and surveys. mewawancarai, mengamati, bekerja dengan kelompok, dan menulis kuesioner dan survei

Ada 3 model pelatihan yang sering digunakan yaitu sebagai berikut : [36]

1.      Model Sistem

Model system ini bentuk dari pelatihan ini dilaksanakan dan serta di upayakan dari awal tidak terjadi kesalahan, agar pada tahap akhir dapat dipastikan tujuan dari model pelatihan ini menjadi berhasil. Model sistem terdiri dari lima tahap, yaitu :

Analisis dan identifikasi: dengan menganalsisi serta identifikasi kebutuhan dari pelatihan itu sendiri seperti menganalisis departemen, kebutuhan karyawan yang membutuhkan pelatihan serta memperkirakan biaya pelatihan dan langkah selanjutnya dengan evaluasi kinerja yang actual karena untuk mengembangkan kinerja.

Merancang: Desain dan memberikan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan yang telah diidentifikasi. Langkah ini mengharuskan pengembangan tujuan pelatihan,mengidentifikasi langkah belajar, sequencing dan penataan isi.

Mengembangkan:dimanafase ini membutuhkan daftar kegiatan dalam program pelatihan yang akanmembantu para peserta untuk belajar, memilih metode pengiriman, memeriksa  materidan memvalidasi informasi.

Penerapan:Menerapkan adalah bagian tersulit dari sistem karena satu langkah yang salah dapat menyebabkan kegagalan program pelatihan.

Evaluasi: Mengevaluasi setiap fase sehingga untuk memastikan itu telah mencapai tujuannya

2.      Model Pengembangan Sistem Pembelajaran (Instructional system development model)

Dalam model ISD ini juga terdapat 5 tahapan, kelima tahapan tersebut hampir sama dengan sistem model dan model ini dapat membantu dan menentukan serta mengembangkan strategi yang menguntungkan, mengurutkan konten dan memberikan media jenis tujuan pelatihan yang di capai. IDS terdapat adanya Tahapan atau proses-proses yaitu:Analisis kebutuhan, Perencanaan pelatihan, Pengembangan materi, Pelaksanaan diklat tersebut, Evaluasi diklat[37]

3.      Model Transisional

Model transisi berfokus pada organisasi secara keseluruhan. Dalam pelaksanaan diklat ini berjalannya sesuai dengan pada visi, misi dan value organisasi yang melaksanakan diklat. Dan diklat ini dapat terlaksana apabila pimpinan dapat memyatuak persepsi untuk mencapai yang telah dirumuskan  di dalam visi, misi dan nilai dalam organisasi.[38]

 Visi yaitu fokus pada satu titik bahwa organisasi bertujuan untuk mencapaisesuatu setelah waktu tertentu. Pernyataan visi memberi informasi dimana organisasi melihat dirinya untuk beberapa tahun ke depan. Visi mungkin termasuk pengaturan panutan, atau membawa beberapa transformasi internal atau bertemu dengan beberapa tenggang waktu lainnya. 

 Misi yaitu menjelaskan keberadaan organisasi. Alasan untuk mengembangkan pernyataan misi adalah untuk memotivasi, menginspirasi, dan menginformasikan karyawan tentang organisasi. Pernyataan misi menceritakan bagaimana organisasi ingin dilihat oleh pelanggan, karyawan, dan semua pemangku kepentingan lainnya.

Nilai, adalah terjemahan dari visi dan misi menjadi cita-cita atau tujuan yang dingin dicapai yang mencerminkan nilai-nilai yang di pegang teguh organisasi dan independen dari lingkungan industri pada saat ini. Pada  Model Transisional ini menganggap organisasi secara keseluruhan serta tujuannya untuk menjaga tiga hal dalam pikiran sampai model pelatihan selanjutnya dilaksanakan.

Terdapat 5 fase (pengulangan yang mengacu pada peningkatan) yaitu:

a.       Analyze & identify  job skripsi

b.      Design & provide training

c.       Develop

d.      Implementing

e.       Evaluating

6.      Participatory training

a.       Pengertian Partisipasi

Dilihat dari segi etimologi, kata partisipasi berasal dari bahasa Belanda”Participare”. Dalam bahasa Inggris kata partisipasi adalah ”participations” berasal dari bahasa latin yaitu ”participatio”. Perkataan participare terdiri daridua suku kata, yaitu part dan cipare. Kata part artinya bagian dan kata cipareartinya ambil. Jika dua suku kata tersebut disatukan berarti ambil bagian, turutserta. Dalam hal ini turut serta atau bagian siswa yang memiliki hobi atau kesenangan bermain sepakbola di sekolah. Melalui berbagi aktivitas gerak yangmemiliki tujuan kearah yang lebih baik. yaitu dengan ditandainya ada perubahandalam hal kognitif, afektif, dan psikomotor siswa.[39]

Partisipasi adalah penyetaraan mental dan emosi dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk mengembangkandaya pikir dan perasaan mereka bagi tercapainya tujuan-tujuan, bersama bertanggung jawab terhadap tujuan tersebut[40]. Menurut Kafler partisipasi adalah keikutsertaan seseorang dalam suatu kegiatan yang mencurahkan baik secara fisik maupun mental dan emosional. partisipasi fisik merupakan partisipasi yang langsung ikut serta dalam kegiatan tersebut, sedangkan partisipasi secara mental dan emosional merupakan partisipasi dengan memberikan saran, pemikiran, gagasan, dan aspek mental lainnya yang menunjang tujuan yang diharapkan”.[41] Sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokratis dimana orangdilibatkan dan diikutsertakan dalam perencanaan serta pelaksanaan dan juga ikutmemikul tanggung jawab sesuai tingkat kematangan dan tingkat kewajiban.Partisipasi itu menjadi lebih baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidangmental serta penentuan kebijaksanaan. Partisifasi merupakan keterlibatan mental dan emosi serta fisik anggotadalam memberikan inisiatif terhadap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan olehsuatu organisasi serta mendukung mencapai tujuan bertanggung jawab atasketerlibatannya.[42]

Dari pengertian partisipasi di atas dapat diambil suatu kegiatan tertentu.Bukan saja hanya ikut serta tetapi keterlibatan emosional, mental serta fisik anggota dalam memberikan saran ide, kritik, serta inisiatif terhadap kegiatan-kegitan yang dilaksanakan. Serta mendukung pencapaian tujuan serta bertanggung jawab atas keterlibatannya. Dalam hal kajian ini partisipasi yang dimaksud adalah partisipasi siswa terhadap tingkat partisipasi bermain sepakbola. Partisipasi adalah keikutsertaan, peranserta atau keterlibatan yangberkaitan dengan keadaan lahiriahnya.[43] Cristovao mengatakan bahwa ”Participation becomes, then, peoples involvement in reflection and action, a process of empowerment and active involvement in decision making throughout a programme, and access and control over resources and institutions Partisipasi menjadi, kemudian, keterlibatan masyarakat dalam refleksi dan tindakan, sebuah proses pemberdayaan dan keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan selama sebuah program, dan akses dan kontrol atas sumber daya dan institusi.”. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktifdalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahapsosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan denganmemberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (PTO PNPMPPK, 2007). Hoofsteede menyatakan bahwa: ‘‘patisipasi adalah the taking partin one ore more phases of the process mengambil bagian dalam satu atau beberapa tahap proses. Sedangkan Keith Davis menyatakan bahwa patisipasi “as mental and emotional involment of persons of person in a group situation which encourages him to contribute to group goals and share responsibility in them sebagai keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk berkontribusi pada tujuan kelompok dan berbagi tanggung jawab di dalamnya.[44]

Verhangen dalam Mardikanto menyatakan bahwa,“partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yangberkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat”.Theodorson dalam Mardikanto mengemukakan bahwa “dalam pengertiansehari-hari, partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang(individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu”. Keikutsertaanatau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktifditujukan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepatdiartikan sebagi keikutsertaan seseorang di dalam suatu kelompok sosial untukmengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atauprofesinya sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tumbuh dan berkembangnyapartisipasi dapat didekati dengan beragam pendekatan disiplin keilmuan. Menurutkonsep proses pendidikan, partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responsesatas rangsangan-rangsangan yang diberikan yang dalam hal ini, tanggapan merupakan fungsi dari manfaat (rewards) yang dapat diharapkan.Partisipasi masyarakat menurut Hetifah Sj. Soemarto adalah : proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung mempengaruhi kehiduapan mereka.[45]

Pelatihan partisipasi adalah pelatihan yang mengikut sertakan peserta pelatihan atau keterlibatan yangberkaitan dengan keadaan lahiriahnya pelatihan partisipasi adalah pelatihan dimana peserta berperan secara aktifdalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahapsosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan denganmemberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill[46]

Model pelatihan partisipatif adalah model yang menekankan pada proses pelatihan, di mana kegiatan belajar dalam pelatihan dibangun atas dasar partisipasi aktif (keikut sertaan) peserta pelatihan dalam semua aspek kegiatan pelatihan, mulai dari kegiatan merencanakan, melaksanakan, sampai pada tahap menilai kegiatan pembelajaran dalam pelatihan. Upaya yang dilakukan pelatih pada prinsipnya lebih ditekankan pada motivasi dan melibatkan kegiatan peserta.

Mnegenai beberapa perkara sangat penting adanya partisipasi masyarakat karena ada tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting bagi hal tersebut. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat, tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek- proyek akan gagal, alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut. Alasan ketiga yang mendorong adanya partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia.

b.      Tipologi Partisipasi

Penumbuhan dan pengembangan partisipasi seringkali terhambat olehpersepsi yang kurang tepat, yang menilai masyarakat “sulit diajak maju” olehsebab itu kesulitan penumbuhan dan pengembangan partisipasi juga disebabkankarena sudah adanya campur tangan dari pihak penguasa.

Berikut adalah macam tipologi partisipasi:[47]

a)      Partisipasi Pasif / manipulatif

dengan karakteristik diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi, pengumuman sepihak oleh pelaksanaan proyek tanpa memperhatikan tanggapan masyarakat dan informasi yang diperlukan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran.

b)      Partisipasi Informatif

memiliki karakteristik dimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, masyarakat tidak diberi kesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penelitian.

c)      Partisipasi konsultatif

dengan karateristik siswa berpartisipasi dengan cara berkonsultasi, tidak ada peluang pembatasan keputusan bersama.

d)      Partisipasi intensif

memiliki karakteristik yang memberikan korbanan atau jasanya untuk memperoleh imbalan berupa intensif/upah. siswa tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran atau eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan siswa tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah intensif dihentikan.

e)      Partisipasi Fungsional

memiliki karakteristik yang membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek, pembentukan kelompok biasanya setelah ada keputusan-keputusan utama yang disepakati, pada tahap awal tergantung terhadap pihak luar namun secara bertahap menunjukkan kemandiriannya.

f)       Partisipasi interaktif

memiliki ciri dimana kita berperan dalam analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan penguatan kelembagaan dan cenderung melibatkan metoda interdisipliner yang mencari keragaman prespektik dalam proses belajar mengajar yang terstuktur dan sisteatis. Kitapun memiliki peran untuk mengontrol atas (pelaksanaan) keputusan- keputusan merek, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegitan.

g)      Self mobilization (mandiri)

memiliki karakter yang mengambil inisiatif sendiri secara bebas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar) untuk mengubah sistem atau nilai-nilai yang mereka miliki. Maka kita mengambangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang diperlukan.

c.       Tahap-Tahap Partisipasi

Uraian dari masing-masing tahapan partisipasi adalah sebagai berikut :[48]

a)      Tahap partisipasi dalam pengambilan keputusan

Pada umumnya, setiap program pembangunan masyarakat (termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan alokasi anggarannya) selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat, yang dalam hal ini lebih mencerminkan sifat kebutuhan kelompok-kelompok elit yang berkuasa dan kurang mencerminkan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak. Karena itu, partisipasi dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung di dalam proses pengambilan keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah setempat atau di tingkat lokal.

b)      Tahap partisipasi dalam perencanaan kegiatan

Dalam masalah tahapan partisipasi ada tiga tingkatan yaitu : partisipasi dalam tahap perencanaan, partisipasi dalam tahap pelaksanaan, partisipasi dalam tahap pemanfaatan. Partisipasi dalam tahap perencanaan merupakan tahapan yang paling tinggi tingkatannya diukur dari derajat keterlibatannya. Dalam tahap perencanaan, orang sekaligus diajak turut membuat keputusan yang mencakup merumusan tujuan, maksud dan target. Salah satu metodologi perencanaan pembangunan yang baru adalah mengakui adanya kemampuan yang berbeda dari setiap kelompok masyarakat dalam mengontrol dan ketergantungan mereka terhadap sumber-sumber yang dapat diraih di dalam sistem lingkungannya. Pengetahuan para perencana teknis yang berasal dari atas umumnya amat mendalam. Oleh karena keadaan ini, peranan masyarakat sendirilah akhirnya yang mau membuat pilihan akhir sebab mereka yang akan menanggung kehidupan mereka. Oleh sebab itu, sistem perencanaan harus didesain sesuai dengan respon masyarakat, bukan hanya karena keterlibatan mereka yang begitu esensial dalam meraih komitmen, tetapi karena masyarakatlah yang mempunyai informasi yang relevan yang tidak dapat dijangkau perencanaan teknis atasan.

c)      Tahap partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan, seringkali diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak (yang umumnya lebih miskin) untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya di dalam kegiatan pembangunan. Di lain pihak, lapisan yang ada di atasnya (yang umumnya terdiri atas orang kaya) yang lebih banyak memperoleh manfaat dari hasil pembangunan, tidak dituntut sumbangannya secara proposional. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan pembangunan harus diartikan sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja, uang tunai, dan atau beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan diterima oleh warga yang bersangkutan.

d)      Tahap partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan

Kegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan sangat diperlukan. Bukan saja agar tujuannya dapat dicapai seperti yang diharapkan, tetapi juga diperlukan untuk memperoleh umpan balik tentang masalah- masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan. Dalam hal ini, partisipasi masyarakat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan sangat diperlukan[49]

e)      Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil kegiatan Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan, merupakan unsur terpenting yang sering terlupakan. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan merupakan tujuan utama. Di samping itu, pemanfaaatan hasil pembangunan akan merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk Selalu berpartisipasi dalam setiap program pembangunan yang akan datang.[50] Tingkat Kesukarelaan Partisipasi

Dusseldorp membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaansebagai berikut:

a)      Partisipasi spontan, yaitu peranserta yang tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman, penghayatan, dan keyakinannya sendiri.

b)      Partisipasi terinduksi, yaitu peranserta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan, pengaruh, dorongan) dari luar; meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi.

c)      Partisipasi tertekan oleh kebiasaan, yaitu peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya, atau peranserta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan, nilai- nilai, atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. Jika tidak berperanserta, khawatir akan tersisih atau dikucilkan masyarakatnya.

d)      Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi, yaitu peranserta yang dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan.

e)      Partisipasi tertekan oleh peraturan, yaitu peranserta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari peraturan/ketentuan-ketentuan yang sudah diberlakukan.

d.      Syarat tumbuh partisipasi

menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi, sangat ditentukan oleh 3 (tiga) unsur pokok, yaitu:[51]

a)      Adanya kemauan yang diberikan kepada kita, untuk berpartisipasib. Adanya kesempatan kita untuk berpartisipasic. Adanya kemampuan kita untuk berpartisipasi Lebih rinci Slamet menjelaskan tiga persyaratan yang menyangkutkemauan, kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi adalah sebagaiberikut:

1)      Kemauan Secara psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif intrinsik (dari dalam sendiri) maupun ekstrinsik (karena rangsangan, dorongan atau tekanan dari pihak luar). Tumbuh dan berkembangnya kemauan berpartisipasi sedikitnya diperlukan sikap-sikap yang:Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan. 2) Sikap terhadap penguasa atau pelaksana pembangunan pada umumnya. 3) Sikap untuk selalu ingin memperbaiki mutu hidup dan tidak cepat puas sendiri. 4) Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah, dan tercapainya tujuan pembangunan. 5) Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya.

2)      Kemampuan Beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat berpartisipasi dengan baik itu antara lain adalah: 1) Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah. 2) Kemampuan untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. 3) Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta sumber daya lain yang dimiliki kemampuan adalah kapasitas individu melaksanakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Lebih lanjut Robbins menyatakan pada hakikatnya kemampuan individu tersuusun dari dua perangkat faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.[52]

3)      Kesempatan Berbagai kesempatan untuk berpartisipasi ini sangat dipengaruhi oleh: 1) Kemauan politik dari penguasa/pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan. 2) Kesempatan untuk memperoleh informasi. 3) Kesempatan untuk memobilisasi dan memanfaatkan sumberdaya. 4) Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi tepat guna. 5) Kesempatan untuk berorganisasi, termasuk untuk memperoleh dan mempergunakan peraturan, perizinan dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. 6) Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, menggerakkan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Sementara Mardikanto menyatakan bahwa pembangunan yangpartisipatoris tidak sekedar dimaksudkan untuk mencapai perbaikan kesejahteraanmasyarakat (secara material), akan tetapi harus mampu menjadikan wargamasyarakatnya menjadi lebih kreatif. Karena itu setiap hubungan atau interaksiantara orang luar dengan masyarakat sasaran yang sifatnya asimetris (seperti:menggurui, hak yang tidak sama dalam berbicara, serta mekanisme yangmenindas) tidak boleh terjadi. Dengan dimikian, setiap pelaksanaan aksi tidakhanya dilakukan dengan mengirimkan orang dari luar ke dalam masyarakatsasaran, akan tetapi secara bertahap harus semakin memanfaatkan orang-orangdalam untuk merumuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam masyarakatnyasendiri.

Mardikanto menjelaskan adanya kesempatan yang diberikan, seringmerupakan faktor pendorong tumbuhnya kemauan, dan kemauan akan sangatmenentukan kemampuannya

 

e.       Ciri-ciri partisipasi

Seseorang yang ikut serta berpartisipasi dalam suatu kegiatan memilikiciri-ciri yang dijadikan barometer atau tolak ukur keikutsertaanya itu.Beberapa yang ikut serta seseorang dalam kegiatan dijelaskan oleh bahwa seseorang berpartisipasi terhadap suatu kegiatan memilkibeberapa ciri antara lain: [53]

a)      Secara langsung ikut dalm proses kegiatan

b)      Memiliki keputusan untuk mncapai tujuan yang telah ditentukan

c)      Memberikan tanggapan dan saran dalam proses kegiatan

d)      Memberikan informasi tentang segala sesuatu dalam usaha membuat

e)      Keputusan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

f)       Terdapat kesempatan untuk ikut memiliki kegiatan tersebut

g)      Memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan

h)      Merasakan manfaat dari hasil kegiatan

Selanjutnya Siswanto menjelaskan tentang ciri-ciri orang yangberpartisipasi khususnya dalam suatu organisasi memiliki ciri-ciri antara lain: [54]

a)      Jarang tidak hadir dalam suatu kegiatan organisasi

b)      Memiliki tujuan jelas

c)      Bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya

d)      Memberikan info tentang tugasnya,

e)      Melaksanakan sesuai dengan aturan yang digariskan dalam organisasi.

f.        Manfaat Partisipasi

Keith Davis mengemukakan manfaat prinsipil partisipasi, yaitu:

a)      Lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar.

b)      Dapat digunakan kemampuan berfikir kreatif dari para anggotanya.

c)      dapat mengendalikan dnilai-nilai martabat manusia, motivasi serta membangun kepentingan bersama/

d)      Lebih mendorong seseorang untuk lebih bertanggung jawab,

e)      Lebih memungkinkan untuk mengikuti perubahan.

g.      Mengukur Tingkat Partisipasi

Untuk mengukur partisipasi seseorang atau sekolah terhadap suatu kegiatan yaitu melalui tes. Mengenai tes di jelaskan oleh Rusli Lutan sebagai berikut:”Sebuah tes adalah sebuah instrumen yang dipakai untuk memperoleh tentangseseorang atau objek”. Selanjutnya Muchis Yahya mengemukakan bahwa untukmengukur partisipasi anggota antara lain:

a)      Kerajinan dan ketepatan membayar simpanan

b)      Seringnya menghadiri kegiatan

c)      Seringnya menghadiri rapat

d)      Motivasi anggota

Dari laporan lapangan Majalah Prisma no.6 tahun X Juni 1981 dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur partisipasi ditentukan oleh beberapa halsebagai berikut ini:

a)      Kritik, usul, saran, dan pendapat dari anggota yang terbuka

b)      Ketepatan melaksanakan tugas dan kewajiban

c)      Kehadiran dalam rapat

d)      Kesediaan anggota untuk berkorban.

7.      Penegrtian konsep

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep berarti; pengertian, gambaran mental dari objek, proses, pendapat (paham), rancangan (cita-cita) yang telah dipikirkan.[55] Agar segala kegiatan berjalan dengan sistematis dan lancar, dibutuhkan suatu perencanaan yang mudah dipahami dan dimengerti. Perencanaan yang matang menambah kualitas dari kegiatan tersebut. Di dalam perencanaan kegiatan yang matang tersebut terdapat suatu gagasan atau ide yang akan dilaksanakan atau dilakukan oleh kelompok maupun individu tertentu, perencanaan tadi bisa berbentuk ke dalam sebuah peta konsep

Pada dasarnya konsep merupakan abstraksi dari suatu gambaran ide, atau menurut Kant yang dikutip oleh Harifudin Cawidu yaitu gambaran yang bersifat umum atau abstrak tentang sesuatu.[56] Fungsi dari konsep sangat beragam, akan tetapi pada umumnya konsep memiliki fungsi yaitu mempermudah seseorang dalam memahami suatu hal. Karena sifat konsep sendiri adalah mudah dimengerti, serta mudah dipahami.[57]

Adapun pengertian konsep menurut para ahli:4

1.      Soedjadi, mengartikan konsep ke dalam bentuk atau suatu yang abstrak untuk melakukan penggolongan yang nantinya akan dinyatakan kedalam suatu istilah tertentu.

2.      Bahri, konsep adalah suatu perwakilan dari banyak objek yang memiliki ciri-ciri sama serta memiliki gambaran yang abstrak.

3.      Singarimbun dan Efendi, konsep adalah suatu generalisasi dari beberapa kelompok yang memiliki fenomena tertentu sehingga dapat digunakan untuk penggambaran fenomena lain dalam hal yang sama. Adapun konsep yang dimaksud dalam penelitian ini berdasarkan uraian di atas adalah gambaran umum atau abstrak tentang model pelatihan ushul fikih.

B.      Penelitian yang relevan

Beberapa penelitian telah dilakukan seblumnya menunjukkan bahwa adanya pelatihan dan disiplin kerja sangat membantu kinerja karyawan dalam pencapaian suatu tujuan perusahaan. Sehingga perusahaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan mempunyai karyawan yang benar – benar mempunyai skill dibidangnya masing – masing.  Dalam penelitian ini, penulis mencoba mengambil rujukan dari beberapa penelitian sebelumnya yang mempunyai kaitan yang kurang lebih sama dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pendalaman mengenai topik penelitian yang akan dilakukan. Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

TABEL 2.1 penelitian yang relevan

no

Nama peneliti

Variabel penelitian

Judul penelitian

Metode penelitian

Hasil penelitian

1.

Afni

Pelatihan disiplin kerja, motivasi kerja, dan produktivitas karyawan

Pengaruh Pelatihan, Disiplin Kerja, Dan Motivasi Terhadap Produktivita s Kerja Karyawan CV. Sapu Dunia Semarang

Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pelatihan, disiplin kerja, dan motivasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap variabel produktivitas kerja sehingga hipotesis diterima. Nilai koefisien determinasi sebesar 69,3 persen menunjukkan

39

 

bahwa variabel pelatihan, disiplin kerja, dan motivasi memberi pengaruh sebesar 69,3 persen terhadap produktivitas kerja. Sedangkan sisanya 30,7 persen adalah pengaruh dari variabel lain yang tidak diamati pada tabel signifikan variabel pelatihan 0,000 , disiplin kerja 0,000 dan motivasi 0,029

02

Titin Olga Silvia

Pelatihan, Disiplin, dan Kinerja Pegawai.

Pengaruh Pelatihan Dan Disiplin Terhadap Kinerja Pegawai Kesehatan Kabupaten Dharmasray a

Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan kausatif dengan menggunaka n program SPSS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh signifikan antara variabel disiplin terhadap kinerja pegawai dinas kesehatan kabupaten Dharmasraya dengan nilai t hitung4.497 > 1.995, dan tingkat signifikan sebesar 0.000 < 0.05.

 

 

 

 

 

 

 

C.    Kerangka pemikiran

Model Latihan Partisipatif (Participatory training Model). Model latihan ini mencakup  10  langkah  kegiatan  berurutan  yang  dapat  digambarkan sebagai  berikut. Model  pelatihan ini  sebenarnya  merupakan  pembaharuan  (inovasi)  dari  model-model yang  telah  diuraikan  terdahulu.  Model  pembelajaran  partisipatif  sebenarny menekankan  pada  proses  pembelajaran,  dimana  kegiatan  belajar  dalam  pelatihan dibangun  atas  dasar  partisipasi  aktif  (ke ikut  sertaan)  peserta  pelatihan  dalam  semua aspek  kegiatan  pelatihan,  mulai  dari  kegiatan  merencanakan,  melaksanakan,  sampai pada  tahap  menilai  kegiatan  pembelajaran  dalam  pelatihan.  Upaya  yang  dilakuka pelatih  pada  prinsipnya  lebih  dite kankan  pada  motivasi  dan  melibatkan  kegiatan

pada  awal  kegiatan pelatihan  inte nsitas  peranan  pelatih  adalah  tinggi  :    Peranan ini  ditampilkan  dalam membantu peserta  dengan menyajikan informasi  mengenai bahan ajar (bahan latihan) dan  dengan  melakukan  motivasi  dan  bimbingan  kepada  peserta.  Intensitas  kegiatan pelatih  (sumber)  makin  lama  makin  menurun  sehingga  perannya  lebih  diarahkan untuk  memantau  dan  memberikan  umpan  balik  terhadap  kegiatan  pelatihan  dan sebaliknya  kegiatan  peserta  pada  awal  kegiatan  rendah,  kegiatan  awal  ini  digunakan hanya  untuk  menerima  bahan  pelatihan,  informasi,  petunjuk,   bahan-bahan,  langkah- langkah  kegiatan  dll.    Kemudian  partisipasi  warga  makin  lama  makin  menaik  tinggi dan aktif membangun  suasana  pelatihan yang lebih bermakna.

 

 

 

 

 

 

 

D.     Rancangan model

Bagan 2.1 rancangan model

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

METODE PENELITIAN

A.    Pendekatan Penelitian

1.      Jenis Penlitian

Demi memperoleh hasil yang baik dan berkualitas dalam penelitian, maka haruslah mengikuti aturan-aturan dan metode penelitian pada umumnya. Metode merupakan cara paling bijak guna mencapai suatu tujuan penelitian. Suatu tujuan tidak akan lepas dari adanya metode dalam rangka mengumpulkan data pada suatu penelitian.[58]

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.[59] Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang diperhatikan yaitu :

a)      Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, emperis, dan sistematis.

b)      Rasional berarti kegiatan yang dilakukan  dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.

c)      Empiris berarti cara-cara yang dilakukan dapat diamati oleh panca indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara yang digunakan.

d)      Sistematis berarti proses yang dilakukan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.

Pendekatan diartikan juga sebagai sudut pandang peneliti terhadap permasalahan dalam pnelitian, yang di dalamnya diperlukan metode untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Berdasarkan permasalahan yang diteliti, pendekatan penelitian yang dipilih adalah penelitian pengembangan, karena yang diperlukan dari kegiatan penelitian tersebut berupa data-data deskriptif dan menghasilkan produk tertentu yang diharapkan.[60]

Metode penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofi, pertanyaan, dan isu-isu yang dihadapi dalam penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau Risearch and Development (R&D). Penelitian dan pengembangan merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut.[61]

Untuk menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian tertentu yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian pengembangan.

Metode R&Dyang akan dikembangkanoleh peneliti, tahapannya disesuaikan dengan waktu yang tersedia, kemampuan yang dimiliki, dan kebutuhan dalam penelitian, namun tidak mengurangi karakteristik serta esensialisasi dalam R&D. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 1). Studi pendahuluan; 2). Tahap pengembangan; 3). Penetapan produk final.[62]

Secara umum, tahap-tahap penelitian sebagaimana tertulis di atas, dituangkan dalam bentuk bagan proses R&D sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bagan 3.1 Prosedur Penelitian dan Pengembangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan bagan 3.1 prosedur penelitian dan pengembangan model pelatihan ushu fikih melalui beberapa tahap yaitu:

a.       Tahap studi pendahuluan

b.      Tahap studi pengembangan

c.       Validasi desain produk

d.      Tahap pertama uji coba terbatas

e.       Revisi produk tahap kedua

f.        Tahap kedua uji coba lebih meluas

g.      Revisi produk tahap kedua

h.      Penetapan produk final

Dalam tahap studi pendahuluan meliputi tiga hal yakni:

1).    Analisis potensi dan permasalahan

Tahap penting dalam penelitian dan pengembangan adalah analisis potensi dan masalah. Analisis potensi dan masalah dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban alasan kebutuhan pengembangan dilakukan. Untuk mendapatkan jawaban atas kebutuhan pengembangan model pelatihan ushul fikih, maka dilakukan dengan: 1) menganalisis literatur yang mendukung pelatihan ushul fiih 2) analisis kebijakan atau undang-undang yang mendukung pelatihan ushul fikih 3) analisis pembelajaran yang mendukung pelatihan ushul fikih dan 4) melakukan penelitian pendahuluan untuk memetakan kebutuhan pengembangan pelatihan ushul fikih.

Penelitian dapat dilaksanakan dari adanya potensi atau masalah. Potensi adlah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah.[63] Semua potensi akan berkembang menjadi masalah bila kita tidak dapat mendayagunakan potensi-potensi tersebut. Namun demikian, masalah juga dapat dijadikan potensi, apabila kita dapat mendayagunakan.

2).     Menyusun desain pelatihan ushul fikih

Menyususn desain pelatihan usul fikih dengan mengacu pada kebutuhan-kebutuhan peserta pelatihan dan visi misi lembaga.

3).    Mengumpulkan data dan informasi

Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukan secara faktuall dan uptode, maka selanjutnya perlu dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perenccanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

Dalam penelitian ini digunakan empat teknik pengumpulan data yaitu obsrvasi, wawancara, dan analisa dokumentasi berupa hasil penelitian. Secara rinci, teknik pengumpulan data diuraikan sebagai berikut:

a)      Obseervasi

Observasi adalah suatu kegiatan yang memusatkan perhatiannya terhadap obyek dengan menggunakan alat indera. Pada prinsipnya metode observasi dalam penelitian ini adalah pengarahan seluruh kemampuan inderawi untuk proses penyelidikan terhadap segala obyek yang ada.[64]

Dalam kegiatan observasi ini , peneliti atau tenaga lapangan melakukan pengamatan dilapangan secara sistematis, kontinyu, objektif dan menyeluruh terhadap fenomena yang terjadi.[65] Alat yang digunakan dalam pengumpulan data pada saat obsrvasi adalah pedoman atau pedoman observasi. Data yang secara procedural harus dijaring melalui observasi, misalnya data mengenai manajemen pelatihan ushul fikih.

      Sedangkan data yang akan diperoleh adalah sebagai berikut :

1)      Perencanaan pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.

2)      Pelaksanaan pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.

3)      Hamabatan dan dukungan pelaksanaan pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.

b)      Wawancara

Metode wawancara atau interview adalah percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.[66]

Dalam peneitian ni, penelliti menggunakan jenis interview/wawancara yang menggunakan kombinasi interview/wawancara bebas dan interview /wawancara terpimpin, yaitu suatu wawancara bebas yang terjadi dimana pewawancara sudah meniapkan sejumlah pertanyan (kerangka pertanyaan) yang akan di tanyakan kepada terwawancara, tapi cara mewawancarai  tergantung pada kemampuan pewawancara.

Dalam penelitian ini , wawancara dilakukan secara mendalam, terbuka, dengan memanfa’atkan kedekatan hubungan dengan sumber data. Hal ini dilakukan dengan megadakan pendekatan terhadap informasi dan mengguakan petunjuk umum wawancara serta membuat kerangka dan garis besarr pokok-pokok yang akan ditanyakan kepada terwawancara dalam proses wawancara tersebut.

c)      Dokumen

Metode dokumenter adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legge, agenda dan sebagainya.[67]

Dokumentasi merupakan penelitian terhadap referensi-referensi yang berkaitan dengan focus permasalahan penelitian.[68] Informasi yang dikaji kadang bersumber dari dokumen, misalnya buku, jurnal, laporan kegiatan, majalah, daftar nilai, notulen rapat, transkrip, prasasti, peraturan-peraturan, catatan harian dan yang sejenisnya.

Kumpulan data verbal yang berbentuk tulisan disebut dengan dokumen dalam arti sempit. Sedangkan dokumen dalam arti luas sebagaimana pendapat Ibnu yang dikutip oleh Moch. Ainin adalah meliputi foto, rekaman, video, disk, dan monument. Apabila informasi atau data yang akan di analisis itu berupa document, maka pelaksanaan pengumpulan datanya disebut dengan teknik dokumentasi.[69]

Dat-data dokumen ini memiliki sifat yang tetap, sehingga apabila terdapat ketidak sesuaian, mudah untuk di cek kembali. Sifat inilah yang membedakan data-data dengan data-data yang diperoleh dari hasil meetode yang lain, yang berbentuk kata-kata atau tindakan dan gejala yang kesemuanya bersifat labil.

Data yang akan diperoleh dalam penggunaan teknik ini adalah sebagai berikut:

1)      Konsep pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.

2)      Data pelaksanaan pelatihan dari awal sampai ahir.

3)      Laporan pelaksanaan kegiatan pelatihan ushul fikih Sukorejo Situbondo.

d)      Triangulasi

Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengeumpulan data dan sumber data yang telah ada.[70] Maka apabila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber data.

Berarti peneliti menggunakan teknik, pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama.


 

B.     LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini berlokasi di Ma’had Aly lembaga kader ahli fikih dan ushul fikih Sukorejo Situbondo jawa timur.

C.    PROSEDUR PENGEMBANGAN

Dalam usaha mengembangkan model pelatihan ushul fikih ialah memalui beberapa tahap  sesuai dengan teori pengembangan yaitu:

a.         Tahap studi pendahuluan

b.         Tahap studi pengembangan

c.         Validasi desain produk

d.         Tahap pertama uji coba terbatas

e.         Revisi produk tahap kedua

f.          Tahap kedua uji coba lebih meluas

g.         Revisi produk tahap kedua

h.         Penetapan produk final

1.      Studi Pendahuluan

Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan keagamaan formal, pesantren-pesantren lain secara umum merupakan wahana tafaqquh fi ad-din, pusat pengembangan ilmu-ilmu agama. Namun, ditilik dari eksisitensinya sebagai takhashush fi ‘ilmi al-fiqh, Ma’had Aly menpunyai target-target capaian yang lebih spesifik dibanding pesantren-pesantren lainnya.

Untuk mendukung dan merealisasikan visi misi lembaga Ma’had Aly maka disamping menjalankan pembelajaran sebagaimana mestinya lembaga Ma’had Aly juga mengadakan peltihan-pelatihan ushul fikih setiap tahunnya. pelatihan tersebut dimaksudkan sebagai media untuk memperdalam dan mengaplikasikan Ushul Fiqh Sebagai Istinbat al-Ahkam Terhadap an-Nushush al-Syar’iyah.

Studi pendahuluan yang dilakukan dalam rangka menghimpun data dan informasi yang terkait dengan pelaksanaan pelatihan ushul fikih di Ma’had Aly  menggunakan metode dokumentasi, interview, dan observasi. Semua ini dilakukan dalam rangka mengkroscek persoalan yang akan diteliti sehingga produk yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran dan bisa menjawab persoalan yang tengah terjadi selama proses pelaksanaan pelatihan ushul fikih.

Berdasarkan survey studi pendahuluan, peneliti menemukan beberapa hal dalam pelatihan ushul fikih yang dilaksanakan srtiap tahun di Ma’had Aly 1. Pelatihan ushul fikih Ma’had Aly dilaksankan tidak sesuai kebutuhan santri 2. Tidak ada waktu yang ditetapkan dalam kegiatan peltihan ini. 3. Perencannnya pelatihannya tidak matang. 4. Idak ada evaluasi atau tes penguasaanmateri seelah pelatihan. 5. Tidak mengacu pada standar pelatihan yang umum. 6. Jangka hari pelatihan tidak sesuai dengan banyaknya materi.  7. Jadwal pelatihan terlalalupadat sehingga tidak efektif 8. Kurangnya bina suasana sehingg pelatihan membosankan.

 

 

2.      Perencanaan Pengembangan Model

mengembangkan  model  latihan  yang  dapat  dinamai Model Tujuh Langkah (The  Seven-step  Model).   Model  ini  mencakup  langka  langkah sebagai  berikut.

Pertama adalah  mela ksanakan  identifikasi  dan  analisis  kebutuhan latihan. Kedua ialah merumuskan dan mengembangkan tujuan-tujuan latihan. Ketiga,merancang  kurikulum  latihan. Keempat,  Memilih dan  mengembangkan  metodelatihan. Kelima,  menentukan  pendekatan  evaluasi  latihan.Keenam,  melaksana kan program  latihan. Ketujuh,  melakukan  pengukuran  hasil  latihan.  Langkah-langkah hendaknya  dilakukan  secara   berurutan.  Namun,  hasil  langkah  ketujuh,  yaitu pengukuran  hasil latihan, dapat diguna kan sebagai masukan  bagi langkah kedua,  yaitu untuk  mengembangkan tujuan-tujuan  latihan  atau  langkah  pertama,  yaitu  untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan latihan.

3. Validasi, Evaluasi, dan Revisi Modul

Setelah produk telah didesain, selanjutnya peneliti akan melakukan validasi produk kepada para ahli. Para ahli yang dimaksud meliputi ahli materi, media dan pengembang instruksional. Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk secara rasional akan lebih efektif dari yang lama. Dikatakan secara rasional karena validasi disini masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum merupakan fakta di lapangan. Oleh sebab itu, validasi produk dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang dirancang tersebut. Setiap pakar diminta untuk menilai modul tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. Validasi desain dilakukan dalam bentuk menilai secara langsung terhadap produk yang sudah disediakan oleh peneliti. Dalam hal ini, peneliti telah menyediakan lembar penilian, sehingga pakar tinggal mengisi lembar tersebut. Komponen-komponen yang akan dinilai pun sudah tertuang dalam lembar tersebut. Disini peneliti melibatkan tiga pakar dalam melakukan penilain terhadap para pakar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                       BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.     Hasil Pengembangan Model

1.      Profil Ma’had Aly Sukorejo

a.      Latar Historis Ma’had Aly

Dilatar belakangi oleh satu kerisauan bahwa semakin maju yang dilakukan pesantren-pesantren dalam rangka penyesuaian kurikulum dan segala aturan pendidikan formal lainnya, dikhawatirkan justeru orang-orang yang alim fiqh (fuqaha’) akan semakin kecil. Berbeda dengan yang terjadi di awal abad XX, pesantren begitu berperan dalam mencetak ahli-ahli fiqh, untuk tampil sebagai panutan umat. Justeru ketika pesantren begitu maju, selalu ingin menyesuaikan dengan lingkungan, orang yang ahli dalam bidang hukum Islam semakin berkurang.

Selanjutnya, sejumlah ulama sowan kepada KH. As’ad Syamsul Arifin mengadukan perihal kekhawatiran itu. Bak gayung bersambut, ternyata kyai As’ad merasakan hal yang sama. Beliau mengusulkan, agar mencari kader-kader unggul  dari masing-masing pesantren untuk digembleng dan di-training secara khusus dan di tempat khusus pula. Tujuannya, mencetak kader  faqihu zamanihi (ahli ilmu agama di zamannya), ulama yang mempunyai integritas keilmuan memadai dan mampu menjawab persoalan-persoalan di sekitarnya, sekaligus menjadi uswah bagi umatnya. Dari sinilah kemudian muncul ide pendirian sebuah institusi Pendidikan Tinggi pasca pesantren yang mereka sebut Ma’had Aly digulirkan. Dan sebagai salah satu pengasuh pesantren, beliau bersedia menjadikan pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo sebagai pilot project.  

Ide besar  Al- Marhum KH.R. As’ad tentang pendirian Ma’had Aly ini sempat mengendap beberapa saat (mungkin karena kesibukan para masayikh). Baru muncul kembali, ketika dalam peringatan peringatan Haul Akbar KH. Syamsul Arifin tahun 1989. Saat itu KH. Hasan Basri Lc, salah seorang pengurus teras Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah membacakan wasiat KH. Hasyim Asy’ari yang berbunyi : “Kamu As’ad supaya banyak mencetak kader-kader Fuqaha’ di akhir zaman”  Kemudian setelah acara haul Beliau mengumpulkan para kyai di kediaman Kyai sebelah barat. Dari pertemuan ini dibentuk team kecil untuk membahas langkah-langkah teknis pendirian Ma’had Aly. Team ini diketuai oleh KH. Hasan Bashri Lc, (Situbondo)  yang beranggotakan ; (alm) KH. Abd. Wahid Zaini, SH. (Probolinggo), KH. Yusuf Muhammad, LLM (Jember) KH. Nadhir Muhmmad (Jember) KH. Khatib Habibullah (Banyuwangi) dan KH. Afifuddim Muhajir  (Situbondo).

Setelah pembicaraan di kediaman KH.R. As’ad, pembicaraan mengenai langkah awal yang harus diambil dilaksanakan di kediaman KH. Khatib Habibullah yang kemudian dengan pembahsan secara intensif meyangkut sillaby, tenaga edukatif dan sebagainya. dalam rentang waktu kurang lebih tujuh bulan. Dari berbagai kajian intensif terangkum beberapa konsep yang cukup matang tentang pendirian Ma’had Aly dan dipresentasikan dalam sebuah seminar yang dihadiri oleh beberapa tokoh ulama diantaranya  KH. Moh. Tholchah Hasan, KH. Ali Yafi’i,    KH. Sahal Mahfudz, Prof. KH. Ali Hasan Ad-dariy An-nahdi dan KH. Masdar  F. Mas’udi. Meskipun konsep rancangan pendirian Ma’had Aly telah cukup matang, namun belum lengkap bagi Beliau sebelum mendapat restu masayikh Indonesia di antaranya dan KH. Ali Ma’sum dan Makkatul Mukarramah seperti Syekh yasin Al-Fandany, DR. bin Sayyid Muhammad bin Alawiy al-Malikiy, Sekh Isma’il bin Utsman al-Yamaniy. Setelah mendapat restu dari para ulama’ barulah secara resmi Beliau mendirikan Sebuah Lembaga Pasca Pesantren pertama di Indonesia pada tanggal 21 Pebruari 1990, yang kemudian dikenal dengan Al-Ma’had Al-Aly Lil Ulum al-Islamiyah Qism al-Fiqh. Sebuah lembaga pendidikan Islam yang menitik beratkan pada kajian persoalan-persoalan hukum formal syariah (fiqh).

Kenapa mesti fiqh ?. Karena disamping berdasarkan wasiat KH. Hasyim Asy’ari, Beliau mulai merasakan gejala adanya kelangkaan ulama yang menguasai fiqh  secara utuh dan mampu mengaplikasikannya dalam memecahkan persoalan kontemporer secara komprehenship dan bertanggungjawab.

Di sisi lain, fiqh sering dipahami hanya sebatas standarisasi halal-haram semata yang harus diterima apa adanya tak boleh di otak-atik ketimbang sebagai referensi perilaku umat manusia dalam mengantarkan mereka kepada suatu kehidupan beragama dan bermasyarakat secara baik dan berkualitas. Eksesnya, fiqh menjelma menjadi perangkat undang-undang formal yang rigid, tidak rasional dan tak mampu beradaptasi dengan dinamika masyarakat. Ujung-ujungnya umat semakin menjauhkan diri dari jangkaun fiqh. Salah satu buktinya, animo masyarakat untuk menguasai fiqh khususnya dan ilmu-ilmu agama umumnya dalam skala luas semakin menurun. Di sinilah kemudian Pondok Pesantren yang sejak lahir memproklamirkan diri sebagai lembaga pendidikan tafaqquh fi al-din, mulai kehilangan identitasnya.

Persoalan-persoalan inilah yang ingin dijawab Kyai As’ad dan ulama-ulama lainnya dengan mendirikan Ma’had Aly.

b.      Dasar visi dan misi lembaga

1)      Dasar

Ma’had Aly berdasarkan Islam dan Pancasila. Dengan dasar Islam dimaksudkan bahwa Ma’had Aly di adakan, diselenggrakan dan dikembangkan berangkat (point of depture) dari ajaran Islam, proses pengelolaannya secara islami dan menuju apa yang diidealkan oleh pendidikan yang islami. Dengan dasar pancasila dimaksudkan bahwa Ma’had Aly diselenggarakan, dikembangkan dan diamalkan dalam wacana Pancasila sebagai landasan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi seluruh warga Indonesia.

2)      Visi

Visi Ma’had Aly adalah menjadi salah satu pusat study islam dengan spesialisasi fiqh (Pendidikan Kader Fuqaha’ Indonesia).

3)      Misi

Seiring dengan visi diatas, maka misi Ma’had ‘Aly :

o   Mengadakan kajian Islam secara menyeluruh, utuh dan komprehensif dengan menjadikan fiqh dan ushul fiqh sebagai fokus kajian.

o   Mengembangkan sistem pendidikan pesantren yang mampu menjawab problematika soaial keagamaan secara tepat dan benar seiring dengan dinamika sosial, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

c.        Orientasi dan Tujuan

Seiring dengan tantangan kehidupan dalam era globalisasi dengan persaingan yang keras  dan dinamika yang tinggi, maka orientasi Ma’had Aly dalam abad 21 ini tidak dapat lain kecuali harus berorientasi pada mutu,  kebenaran dan kebaikan bagi seluruh kepentingan bangsa dan negara sebagai konsekuensi logis bahwa islam adalah untuk semua, “rahmatan lil ‘alamien”. 

Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan keagamaan formal, pesantren-pesantren lain secara umum merupakan wahana tafaqquh fi ad-din, pusat pengembangan ilmu-ilmu agama. Namun, ditilik dari eksisitensinya sebagai takhashush fi ‘ilmi al-fiqh, Ma’had Aly menpunyai target-target capaian yang lebih spesifik dibanding pesantren-pesantren lainnya. Dalam hal ini, Ma’had Aly diproyeksikan sebagai :

1)      Pemulihan, pemurnian dan pengembangan pesantren salafi dalam dimensi ilmiah, amaliah dan khuluqiyah.

2)      Pengembangan khazanah ilmu-ilmu keislaman.

3)      Pemulihan, pemurnian dan pengembangan fungsi kitab salaf (kitab kuning) sebagai wahana tumbuh dan berkembangnya kader-kader ulama (fuqaha’) yang mampu menjadi panutan masyarakat masa kini maupun masa datang dengan kaualifikasi sebagai berikut :

a)      Tidak hanya memahami dan menguasai kitab/ilmu fiqh sebagai produk ijtihad, tetapi memahami jalan pikiran dan wawasan ulama (kaifiyah al-istinbath wa al-istidlal) yang dituangkan dalam karya besar mereka.

b)      Mampu memecahkan maslah-masalah kontemporer melalui penguasaan dan wawasan dalam memahami  fiqh

c)      Relevansi antara maqasid al-tasyri’iyah dan nushus al-tasyri’

d)      Metode penggalian dan pengambilan hukum (thariq al-istinbath dan al-istidlal)

e)      Perubahan fatwa seiring dengan perubahan waktu, tempat dan keadaan (taghaiy al-fatwa bi taghaiyyur al-azminah wa alamkinah wa al-ahwal)

f)       Lebih memperhatikan terhadap teks-teks hukum kully /universal daripada hukum-hukum juz’iy /parsial (ihtimam an-nushush bi al-ahkami al-kulliyah la al-juziyyah)

g)      Memiliki keselarasan antara sifat al-ilm, al-wara’ dan al-i’tidal.

d.       Sifat dan Fungsi Lembaga

Sebagai lembaga Pendidikan Tinggi, Lembaga Ma’had Aly bersifat independen, dengan pengertian, Ma’had Aly bebas menentukan arah kebijakan dan kurikulum sendiri, dan fungsi ma’had Aly adalah :

1)      Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

2)      Menjadi agen moderinisasi bangsa dan negara dalam wadah masayarakat madani (civil society)

e.        Organisasi Ma’had Aly

1)      Struktur

Struktur kelembagaan Ma’had Aly dari tahun ketahun mengalami perubahan dan beberapa penyempurnaan. Susunan Pengurus Ma’had Aly saat ini adalah sebagai       berikut :

a)      Pimpinan, yaitu Mudir ‘Am.:

Tugas pokok Mudir ‘Am adalah bertanggungjawab atas semua kebijakan-kebijakan yang diambilnya, seperti menyusun, merancang pengembangan Ma’had Aly dan mengontrol kerja pengurus dan aktivitas santri. Secara kelembagaan bertanggung jawab kepada Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

b)      Unsur Pelaksana, terdiri dari :

o   Mudir I

Bertugas di bidang Akademik, meliputi pengornisasian aktivitas sekretariat, administrasi, perpustakaan dan fasilitas lembaga lainnya, termasuk pembinaan jaringan dan komunikasi dengan pihak terkait untuk pengembangan lembaga. Secara kelembagaan bertanggungjawab kepada Mudir ‘Am.

o   Mudir II

Bertugas dibidang kurikulum dan kemahasiswaan, yaitu bertanggungjawab terhadap aktifitas belajar mengajar santri, merancang dan menfasilitasi pengembangan dibidang keilmuan dan pembinaan kemahasiswaan. Secara kelembagaan bertanggung jawab pada Mudir ‘Aam 

o   Katib

Melaksanakan program dari pimpinan Lembaga, mengatur lalu lintas aktivitas sekretariat dan melaporkan secara berkala perkembangan lembaga kepada pimpinan.

o   Administrasi.

Melaksanakan secara tehnis tugas administrasi lembaga, dokumentasi dan penertiban arsip serta mengatur lalu lintas administrasi lainnya.

o   Keuangan

Menyusun pengajuan belanja pendidikan, menyusun anggaran belanja lembaga dan mengatur pembelanjaan harian, mingguan dan bulanan.

 

C. Unsur Kelengkapan, yaitu :

1)      Biro Pendidikan dan Pengawasan (Haiatu al-Tarbiyah wa al-Isyrof)

Membina dan membimbing kreatifitas santri dan mengawasi jalannya aktivitas lembaga dan santri.

2)      Biro LITBANG

Meneliti aktifitas lembaga, merancang pengembangan keilmuan santri dan mengusulkan serta mengakomodasi semua pihak untuk pengembangan kredibilitas santri.

3)      Biro Perpustakaan dan Pengembangan Bahasa

Menyusun perencanaan administrsi dan pengembangan perpustakaan. serta menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pengembangan bahasa Asing.

Berkaitan dengan mekanisme pergantian kepemimpinan, ditempuh jalan sebagai berikut :

1)      Memperhatikan aspirasi yang berkembang di kalangan peserta didik (senat mahasiswa).

2)      Minta pertimbangan  dari penasehat dan tenaga pengajar.

3)      Menggodok dan menyeleksi para calon untuk ditetapkan oleh pengasuh.   

f.        Tenaga Pengajar

Secara kurikuler tenaga pengajar di Lembaga ini dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu :

1)      Al-Muhadhirun, yaitu beberapa tenaga pengajar yang secara temporal memberikan kuliah umum dengan tema-tema sentral yang meliputi Masail Fiqhiyah, Ushul Fiqh, Sosial Politik, Tasawwuf dan Filsafat.

2)      Al-Mudarrisun, yaitu beberapa tenaga pengajar yang secara rutin memberikan kuliah dengan jadwal dan mata kuliah yang telah ditentukan.

3)      Al-musyrifun,  yaitu beberapa tenaga pengajar yang bertugas sebagai pendamping harian, dengan mengawasi dan membimbing santri secara intensif.

Dalam proses rekrutmen tenaga edukatif (dosen), ada dua hal yang dilakukan. Yaitu :

1.         Ada rekomendasi kelayakan dari Dewan Masyayikh.

2.         Ujian/tes kelayakan secara tidak langsung melalui seminar/diskusi.

Untuk lebih jelasnya beberapa nama tenaga pengajar tersebut, dapat dilihat pada bagian lampiran.

g.      Peserta Didik

Pendaftaran Peserta didik (santri) Ma’had Aly dilakukan setiap tiga tahun sekali, sesuai dengan masa pendidikan. Dalam artian, setelah satu angkatan selesai, baru diterima peserta didik yang baru. Penerimaan santri baru Ma’had Aly melalui dua tahapan, yaitu pendaftaran dan seleksi.

Persyaratan bagi calon santri Ma’had Aly adalah harus menyerahkan surat rekomendasi dari Pondok Pesantren yang mengirimnya. dan atau menyerahkan identitas diri.

Sedangkan proses seleksi calon santri Ma’had Aly, sebagai berikut :

1)      Bisa membaca dan memahami teks kitab Fathu al-Mu’in dan atau yang sederajat.

2)      Punya kemampuan analisa keilmuan terutama dalam bidang ilmu fiqh dan ushul fiqh.

Out put Ma’had Aly terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu melanjutkan studi (S-2 dan S-3) baik dalam negeri maupun luar negeri, mengasuh lembaga pendidikan di  daerahnya masing-masing dan sebagian di PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

h.       Proses Penyelenggaran Pendidikan.

1)      Kurikulum

Kurikulum Ma’had Aly diartikan sebagai seperangkat rencana pendidikan yang berisi cita-cita pendidikan yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan Proses Belajar Mengajar (perkuliahan). Kurikulum ini di susun dengan mengunakan dua lampiran; yaitu pendekatan akademik dan pendekatan pesantren salaf. Di Ma’had Aly ini kurikulum dikategorikan menjadi :

a)      Materi Pokok (Al-Asasiyah)

b)      Materi Pendukung (Al-Musa’idah)

c)      Materi Pelengkap (Al-Idhafiyah)

2)      Jenis, Proses dan Pola Pendidikan

Untuk mencapai misi dan tujuan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan perkuliahan di Ma’had Aly, di-manage dengan memadukan antara metode tradisional-pesantren dan metode perkuliahan-akademik dengan mengintegralkan aspek-aspek proses pendidikan.

a)      Jenis Pendidikan Ma’had Aly

Jenis Pendidikan Ma’had Aly  adalah pendidikan akademik dan profesional.

b)      Aktifitas Belajar Mengajar

Ma’had Aly sebagai sarana pembentukan kader ulama’ masa depan tentu diciptakan suasana yang kondusif dalam proses perkuliahan (PBM). Ini terlihat pada aktifitas belajar di Ma’had Aly yang dilaksanakan mulai pagi, sore hingga malam hari. Aktifitas pendidikan pada pagi – sore hari berbentuk kuliah. Sedangkan aktifitas malam berbentuk diskusi. Sistem yang dipakai adalah sistem ceramah, diskusi dan penugasan (pembuatan makalah). Dari ketiga metode ini, metode ceramah masih dominan. Sementara metode diskusi ditunjang oleh kegiatan ekstra kurikuler yang dilakukan santri

3)      Metode Pengajaran

Dalam usaha pencapaian tujuan ideal tersebut, maka metode belajar mengajar yang ditempuh menggunakan tiga pendekatan :

a. Pendekatan tekstual,  yaitu memahami nushush secara lughawiyah, harfiyah dan  tarkibiyah. Hal ini ditempuh dengan dua cara, yaitu al-tadris (bimbingan seorang dosen) dan mudarosah (diskusi).

b. Pendekatan kontekstual,  yaitu memahami nushsuh secara cermat dan dititik beratkan pada maqashid al-syar’iyyah-nya dengan telaah secara kritis (al-naqd). Kajian ini dilakukan dengan lintas madzhab dan disampaikan dalam beberapa kuliah umum, penyusunan karya tulis, studi naskah dan lain-lain.

c. Pendekatan naqdiyah (kritis), yaitu melatih diri untuk mencoba melihat beberapa karya para imam mujtahid dengan muqobalatu al-kutub al-qodimah wa al-mu’ashirah (komparasi kitab-kitab klasik dan referensi kontemporer).

4)      Materi Pengajaran

Materi pengajaran meliputi :

a.       Materi pokok (al-Asasiyah), yaitu fiqh, ushul fiqh, , tafsir al-ahkam, hadits al-ahkam, dan qawaid al-fiqhiyah. Materi ini disampaikan sampai akhir dirosah.

b.      Materi penunjang (al-Idhafiyah), yaitu fiqh al-siroh, ulumu al-Qur’an, tarikh al-tasyri’. ulum al-hadits dan fiqh siyasah. Secara umum materi ini disampaikan dalam dua semester.

c.       Materi pendukung (al-Musaidah), yaitu filsafat tasa-wwuf, sosiologi, sejarah Islam di Indonesia dan beberapa materi yang dianggap perlu sesuai perkembangan.

 

i.         Program kerja

Dalam penyusunan dan pelaksanaan program kerja, Ma’had Aly meng klasifikasikan menjadi dua, yaitu :

1)      Program Kerja Reguler

Program kerja reguler adalah program kerja yang dilakukan secara berkala dalam jangka waktu tiga tahun yang dikhususkan dalam enam semester.

a)      Penerimaan Peserta didik Ma’had Aly  (lih. peserta didik)

b)     Penugasan (penjadwalan) tenaga pengajar (lih. tenaga pengajar)

Penjadwalan tenaga pengajar disesuaikan dengan kebutuhan perkuliahan (PBM) untuk materi-materi yang diajarkan pada semester tertentu, dengan mengacu pada kurikulum yang berlaku.

c)      Penyusunan Kurikulum dan Refferensi

d)     Proses Perkuliahan (lih. Proses dan Pola Pendidikan)

e)      Proses perkuliahan di Ma’had Aly, untuk setiap mata kuliah dijadwalkan se- minggu sekali untuk mata kuliah pokok dan penunjang. sedangkan mata kuliah yang diberikan oleh dosen yang mempunyai banyak jadwal didampingi oleh asisten dosen. 

f)       Model Evaluasi dan Parameter Kelulusan

Manajemen evaluasi, sebagai sarana pengukur dan untuk pengembangan Ma’had Aly dilakukan setiap se-tengah tahun (satu semester) dengan dua metode. Pertama, ujian tulis untuk semua mata kuliah dan kedua, ujian lisan untuk mata kuliah pokok, yaitu:

a)      Ujian tulis dan lisan untuk materi pokok serta ujian tulis untuk materi-materi penunjang (idhafiyah/musa’idah).

b)     Penulisan karya ilmiyah berupa tesis/risalah dan dinyatakan lulus oleh forum munaqasah.

Kemudian kriteria kelulusan pada ujian akhir meliputi :

a)      Penguasaan materi-materi pokok minimal 80 %

b)     Punya integritas ke-ulama-an. 

2)      Program Kerja non-Reguler

Progran kerja non-reguler adalah program kerja yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan masyarakat santri (social student demand), sebagai penunjang kemampuan dan skill santri, secara garis besar digolongkan manjadi :

a)      Seminar

b)     Pelatihan

2.      Model pelatihan yang dikembangkan

a.       Identitas produk

Bentuk                              :  Bahan cetak (material printed)

Judul                                 :  Bahan yang dikembangkan berjudul

model pelatihan ushul fikih Ma’had Aly dengan participatory training

Sasaran                               : pelaksana dan fasilitator pelatihan ushul fikih

Penyusun                           : M. Syaiful Anwar

Tebal halaman                   : 74 halaman

Ukuran kertas                    : A5 (14,8 cm X 21 cm)

Jenis Huruf  dan ukuran font

§  Huruf Latin                 : Time New Roman ukuran 09

: Comic Sans MS ukuran 09

§  Heading                       : Time New Roman ukuran 09

§  Sub Heding                 : Time New Roman ukuran 12

§  Spasi                            : 1 pada semua aspek 

 

 

Bagan 4.1 model pelatihan usul fikih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


b.      Kajian aspek desain teks

1)      Ukuran kertas (page size)

Ukuran kertas yang digunakan adalah A5 (14,8 cm X 21 cm). Penggunaan ukuran ini dengan alasan kemenarikan dan ekonomis. Walaupun tidak ada ketentuan khusus dalam persoalan ini, pemilihan ukuran halaman ini sangat perlu untuk diperhatikan karena cukup representatif atau memadai untuk melakukan kreasi dan eksplorasi.    

2)      Tipe dan ukuran font (type size)

Meskipun penggunaan font tidak terlalu bervariasi, namun tampilan dari panduan pembelajaran yang dibuat enak untuk dilihat, karena lay out sangat sederhana tidak terlalu banyak model. Terlebih huruf yang digunakan adalah time new roman dan comic sans ms, dimana kesan utama yang nampak adalah tidak membosankan untuk dilihat dan dibaca.

3)      Penggunaan huruf besar (kapital) dan kecil

Pemakaian hurup besar semua digunakan hanya di penulisan judul utama. Sedangkan untuk penulisan sub judul menggunakan huruf Capitalize Each Word.  Semuan ini dilakukan atas pertimbangan para pakar bahwa yang dicetak dengan huruf besar adalah berisi informasi khusus. Untuk penulisan yang lain menggunakan dan mengikuti kaidah EYD. 

4)      Warna

Penggunaan warna dalam panduan pengembangan pembelajaran ini tidak terlalu di tonjolkan, hal ini terkait dengan pembiayaan. Namun bukan berarti tidak menarik lantaran tidak mempunyai warna, bahan ajar ini tetap memiliki daya tarik meskipun print out-nya hanya berwana hitam saja, karena ditulis dengan rapi dan elegan.

5)      Pengorganisasian Pembelajaran

Pengorganisasian pembelajaran ini secara keseluruhan disesuaikan dengan susunan materi. Komponen-komponen setiap bab sama dan spasi yang digunakan juga sama, sehingga tidak membingungkan  pembaca. Sajian materi yang sistematis dan konsisten memudahkan para guru untuk menerapkan isi Panduan pengembangan pembelajaran ini.

a.       Aspek isi panduan pembelajaran

1)      Kata pengantar

Kata  pengantar ditempatkan dibagian awal modul pelatihan sebagai pembuka komunikasi penulis dengan pembaca. Isi dari kata pengantar adalah upaya penulis untuk berkomunikasi dengan pembaca, dengan menerapkan prinsip yakni; (1) memunculkan pesan atau citra bahwa modul yang dibaca layak untuk dipelajari. (2) Mengarahkan fokus materi modul pada hal-hal yang diasumsikan sesuai dengan kebutuhan pembaca.  

2)      Daftar isi

Daftar isi dibuat agar pembaca lebih mudah mencari isi materi yang ada pada bahan ajar tersebut dengan melihat halaman yang tertera pada daftar isi. 

3)      Pendahuluan

Gambaran tentang konsep atau teori yang yang dijadikan persepektif dalam melihat kecendrungan atau fenomena yang ada. 

4)      Tujuan

Mencamtumkan beberapa tujuan-tujuan penting dalam menyusun modul pelatihan dengan metode participatory training.

5)      Pengguna modul

Menyebutkan siapa saja yang dapat memanfaatkan dan terbantukan dengan adanya modul ini.

6)      Cara penggunaan modul

Menjelaskan cara menggunakan dan memanfaatkan buku modul ini bagi yang membutuhkan.

7)      Waktu pelaksanaan pelatihan

Menjelaskan waktu yang efektif dalam mengadakan pelatihan ushul fikih sesuai kebutuhan.

8)      Perencanaan pelatihan

Menjelaskan langkah-langkah dalam merencakan pelatihan ushul fikih dengan sistematis.

9)      Struktur pelatihan

Menjelaskan struktur yang sesuai dengan teori partisipatif dalam mengadakan pelatihan ushul fikih dengan partisipatif.

10)  Proses pelaksanaan pelatihan

Menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan pelatihan yang telah direncanakan sebelumnya dengan model partisifasi.

11)  Evaluasi pelatihan

Menjelaskan cara mengevaluasi pelaksanaan pelatihan secara  keseluruhan baik dari segi tehnis dan semacamnya.

 

c.       Faktor pendukung dan penghambat

1)      Faktor pendukung

Faktor pendukung dalam proses berjalannya pelatihan dengan efektif adalah antara lain:

a)      Latar belakang keilmuan peserta  pelatihan yang dibekali pemahaman dasar ilmu ushul fikih.

b)      adanya pengajian-pengajian ushul fikih sebagai pemahaman awal mengenai materi pelatihan.

c)      Semangatnya semua pihak lebih-lebih peserta pelatihan berpartisipasi dalam menjalankan pelatihan.

d)     adanya sarana dan prasarana yang sangat memadai khusus pelatihan ushul fikih partisipatif. seperti, (1). adanya materi pelatihan berbentuk makalah atau kitab-kitab ushul fikih(2). Adanya media elektronik seperti leptop, LCD, proyekor dan semacamnya.

e)      Adanya kemudahan proses administrasi atau rekomendasi dari berbagai pihak berwenang.

2)      Faktor penghambat

Faktor penghambat yang dihadapi dibedakan menjadi tiga yaitu, kendala dari fasilitator, dari segi peserta dan dari segi bahan pelatihan.

a)      Kendala dari segi fasilitator

Fasilitator  merupakan kunci dalam mensukseskan pelaksanaan pelatihan karena ia yang bertugas untukmemfasilitasi berjalannya pelatihan kalau fasiliatator kurang aktif dalam tugassnya maka pelatihan tidak akan berjalan dengan baik.

b)      Kendala dari peserta

Kendala-kendala yang dihadapi peserta ketika proses pelatihan berlangsung yaitu. Kurangnya konsentrasi peserta disebabkan narasumber ketika menyampaikan materi dengan sistem ceramah sehingga kurang bervariasi atau kurang dalam memberikan kesempatan peserta untuk bertanya atau menaggapi sehingga siswa merasa bosan, dan disebabkan ketidaksamaan kecepatan memahami materi pelatihan antara peserta satu dengan yang lain.

c)      Kendala bahan materi pelatihan

Penggunann bahan materi pelatihan dengan bentukmakalah atau kitab kuning hal itu kurang bermakna jika tidak ada modul, kurangnya penggunaan modul tulisan yang bervariasi, bergambar dan mudah dipahami oleh siapapun terutama oleh siswa.

B.     Kelayakan model (teoritik dan empiris)

Kelayakan model yang dikembangkan ditentukan oleh penilaian para ahli terhadap produk yang dikembangkan. Penilaian yang dilakukan oleh para ahli bersifat teoritis, bukan lapangan. Karena keterbatasan waktu dan biaya, ahli yang diberikan untuk menilai panduan ini hanya 2 orang saja. Dalam hal ini penilaian materi dipercayakan kepada Prof. Dr. H. Abu Yazid,MA, LLM. Salah seorang dosen Pascasarjana yang menjabat sebagai rektor di IAI Ibrahimy Sukorejo Situbondo. Selain itu, beliau juga seorang guru besar di surabya. Dan penilaian model dipercayakan kepada Dr. Abd. Djalal, M.Ag . Penilaian yang dilakukan bersifat deskriptif, dengan melakukan penilaian berdasarkan lembar instrumen yang telah disediakan oleh peneliti sendiri.

Hasil penilaian ahli terhadap panduan pembelajaran yang dikembangkan terhimpun dalam tabel berikut ini:

1. Kumpulan hasil penilaian ahli bahasa  terhadap modul pelatihan

    yang dikembangkan

Penilaian Kelayakan Aspek Kebahasaan

Tabel 4.1 instrumen validasi

No

Indikator

Deskripsi

Skala Penilaian

Kritik/Saran

5

4

3

2

1

1

Kesantunan penggunaan bahasa.

Penggunaan bahasa

yang tetap santun dan

tidak mengurangi

nilai-nilai pendidikan.

 

ü   

 

 

 

 

2

Ketepatan istilah.

Istilah-istilah yang

digunakan tepatdan

sesuai dengan bidang MPI.

 

 

ü   

 

 

 

3

Kemudahan memahami melalui penggunaan bahasa.

Penggunaan bahasa

mendukung

kemudahan

memahami modul pelatihan

 

ü   

 

 

 

 

Penilaian Kelayakan Aspek Penyajian

Tabel 4.2 instrumen penilaian validasi

No

Indikator

Deskripsi

Skala Penilaian

Kritik/Saran

5

4

3

2

1

1

Petunjuk penggunaan modul pelatihan disampaikan dengan jelas.

Petunjuk penggunaan memudahkan pembaca untuk memahami modul pelatihan

 

ü   

 

 

 

 

2

Keruntutan penyajian modul pelatihan

Penyajian runtut dari bagian awal sampai akhir

 

ü   

 

 

 

 

Penilaian Aspek Tampilan Menyeluruh

Tabel 4.3 instrumen penilaian validasi

No

Indikator

Deskripsi

Skala Penilaian

Kritik/Saran

5

4

3

2

1

1

Kemenarikan sampul buku.

Desain sampul memberi

kesan positif

sehingga mampu

menarik minat

pembaca.

 

 

ü   

 

 

 

2

Keteraturan desain halaman buku.

Desain halaman buku teratur.

 

 

ü   

 

 

 

3

Pemilihan jenis dan ukuran huruf.

Jenis dan ukuran huruf memudahkan pembaca.

 

ü   

 

 

 

 

4

Kesinambungan transisi antar halaman.

Trasnsisi antar halaman berkesinambungan.

 

 

ü   

 

 

 

5

Kemudahan untuk membaca teks/tulisan.

Teks dan tulisan

mudah dibaca.

 

 

ü   

 

 

 

6

Pemilihan warna.

Warna yang digunakan sesuai dengan karakteristik produk.

 

 

ü   

 

 

 

7

Cetakan, penyelesaian dan jilid modul dilakukan dengan rapi.

Produk dicetak dengan rapi.

 

ü   

 

 

 

 

 

Berdasarkan penilaian kelayakan materi, kebahasaan, penyajian, dan tampilan menyeluruh, maka modul pelatihan ushu fikih ini dinyatakan:

 

Layak untuk selanjutnya digunakan dalam palatihan ushul fikih tanpa revisi.

ü   

Layak untuk selanjutnya digunakan dalam pelatihan ushul fikih dengan revisi sesuai saran.

 

Tidak layak produksi maupun digunakan dalam pelatihan di Ma’had Aly.

 

2. Kumpulan hasil penilaian ahli bahasa terhadap panduan pembelajaran  

    yang dikembangkan

tabel 4.4 instrumen penilaian validasi

No

ASPEK PENILAIAN

Skala Penilaian

Kritik/Saran

5

4

3

2

1

 

Kecukupan isi

 

1

Memudahkan lembaga dalam merencanakan program pelatihan

ü   

 

 

 

 

 

2

memudahkan pelaksana dalam  melaksanakan program pelatihan

ü   

 

 

 

 

 

3

memudahkan lembaga dalam evaluasi pelatihan

ü   

 

 

 

 

 

 

Ketetapan isi

 

4

modul pelatihan disusun sesuai dengan konsep manajemen pelatihan

 

ü   

 

 

 

 

5

modul pelatihan disusun sesuai dengan kemampuan pelaksana

ü   

 

 

 

 

 

6

Kesesuaian modul pelatihan dengan konsep pelatihan partisipatif

ü   

 

 

 

 

 

7

Kebenaran substansi materi modul pelatihan

ü   

 

 

 

 

 

8

Kesesuain buku pedoman dengan alat-alat kordinasi Ma’had Aly

ü   

 

 

 

 

 

 

Kemenarikan isi

 

9

modul pelatihan mampu membantu lemabga dalam membuat program pelatihan

ü   

 

 

 

 

 

10

Kesesuaian modul pelathan dengan standar kerja Ma’had Aly

 

ü   

 

 

 

 

11

Kesesuaian modul pelatihan dengan kebutuhan pelaksana pelatihan Ma’had Aly

 

ü   

 

 

 

 

12

Manfaat untuk penambahan wawasan pengetahuan wpelaksana pelatihan

ü   

 

 

 

 

 

13

Kesesuaian modul pelatihan dengan bentuk-bentuk kegiatan Ma’had Aly

ü   

 

 

 

 

 

14

kesesuaian sampul terhadap modul pelatihan

ü   

 

 

 

 

 

 

Kualitas Keseluruhan

 

15

buku pedoman sesuai dengan teori manajamen pelatihan

 

 

ü   

 

 

 

 

16

buku pedoman disusun dengan baik

ü   

 

 

 

 

 

 

Penilaian Kelayakan Aspek Penyajian

Tabel 4.5 instrumen penilaian validasi

No

Indikator

Deskripsi

Skala Penilaian

Kritik/Saran

5

4

3

2

1

1

Petunjuk penggunaan modul pelatihan disampaikan dengan jelas.

Petunjuk penggunaan memudahkan pembaca untuk memahami cara pengunaan modul

ü   

 

 

 

 

 

 

Penilaian Aspek Tampilan Menyeluruh

Tabel 4.6 instrumen penilaian validasi

No

Indikator

Deskripsi

Skala Penilaian

Kritik/Saran

5

4

3

2

1

1

Kemenarikan sampul buku.

Desain sampul memberi

kesan positif

sehingga mampu

menarik minat

pembaca.

ü   

 

 

 

 

 

2

Kemudahan untuk membaca teks/tulisan.

Teks dan tulisan

mudah dibaca.

ü   

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan penilaian kelayakan materi, kebahasaan, penyajian, dan tampilan menyeluruh, maka modul pelatihan ushul fikih ini dinyatakan:

Layak untuk selanjutnya digunakan dalam palatihan ushul fikih tanpa revisi.

 

Layak untuk selanjutnya digunakan dalam pelatihan ushul fikih dengan revisi sesuai saran.

 

ü   

Tidak layak produksi maupun digunakan dalam pelatihan di Ma’had Aly.

 

 

Semua data hasil penilaian ahli dijadikan sebagai landasan untuk merevisi modul pelatihan sebelum diuji coba di lapangan. Setelah melakukan revisi berdasarkan masukan dari ahli, barulah modul pelatihan yang dikembangkan layak untuk di uji coba. Hal ini juga disampaikan oleh ahli bahwa kesimpulan dari penilian adalah panduan pembelajaran telah layak untuk di uji coba setelah melakukan perbaikan  berdasarkan masukan-masukan yang telah diinventarisir.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

A.    Proses Pengembangan modul pelatihan

1.      Urgensitas Perencanaan Penyusunan modul pelatihan

Menurut para ahli, iklim pelatihan yang dikembangkan oleh para pelaksana  mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk menunjang keberhasilan sebuah pelatihan. Kualitas dan keberhasilan sangat tergantung oleh kemampuan dan ketepatan fasilitator dalam memilih serta menggunakan metode pelatihan. Berdasarkan pengamatan dan analisis konseptual terhadap realitas pelatihan ushul fikih di lokasi penelitian, ternyata proses pelatihan berlangsung kurang kondusif, hal ini tentu berdampak terhadap kemampuan peserta dalam menguasai materi pelatihan semangat peserta untuk mengikuti pelatihan nampaknya tidak begitu kelihatan, sehingga peserta seakan-akan nampak sangat terpaksa dalam mengikuti pelatihan.

Sekilas realitas ini memberikan dorongan kepada peneliti untuk melakukan upaya tindak lanjut guna memberikan konstribusi yang nyata sehingga persoalan ini segera terselesaikan. Dari itu, peneliti kemudian merencanakan untuk menyusun modul pelathan dengan metode partisipatif. Tahap perencanaan penyusunan ini nampak sangat krusial, karena perencanaan merupakan proses yang menentukan bagaimana proses pembelajaran akan mencapai tujuan-tujuan Hal ini disebabkan perencanaan merupakan proses menentukan rancangan tindakan bagaimana peneliti membangun langkah-langkah dan tahapan-tahapan demi tercapainya tujuan pelatihan tanpa melupakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam pelaksanaan perencanaan.

Namun begitu, penyusunan rencana modul pelatihan ini masih sangat fleksibel. Artinya perencanaan tersebut bisa menyesuaikan terhadap lingkungan eksternal yang dinamis. Sebab faktor eksternal merupakan hambatan terhadap pelaksanaan rencana yang akan dilakukan dalam penelitian, sehingga perencanaan itu sedikit banyak bisa diubah tanpa mengubah tujuan untuk apa perencanaan pelatihan itu dilakukan. Penetapan rencana pengembangan pelatihan itu penting dilakukan guna tujuan dari sebuah penelitian menjadi jelas dan terarah. Perencanaan sebagai langkah awal dari pencapaian tujuan akan memberikan arah dan kejelasan tujuan tersebut, sehingga semua instrumen ataupun langkah-lagkah dalam penelitian dapat juga tercapai.

Selain itu, penyusunan rencana penelitian pengembangan pelatihan dilakukan agar semua proses penelitian lebih fokus dan tidak terlalu bertele-tele. Ketika planing penelitian sudah jelas dan benar, maka peneliti akan memahami prosedur apa saja yang akan dilakukan sebagaimana yang telah dirancang dalam perencanaan.

Selain itu, penyusunan rencana penelitian juga bisa membantu peneliti untuk  bisa mengidentifikasikan berbagai hambatan dan peluang. Dengan adanya perencanaan penelitian, peneliti mampu mengidentifikasi berbagai hambatan dan peluang yang ada ketika melakukan penelitian. Adanya hambatan dan peluang yang datang akan menuntut peneliti untuk mempersiapkan tindakan-tindakan antisipasi, sehingga peneliti tetap berada di lajur menuju tujuan awal.

2.      Penyusunan model pelatihan ushul fikih

a.       Spesifikasi asumsi mendasar

Program pelatihan harus didasarkan pada asumsi yang jelas. Pada awal abad dua puluh, Jhon Dewey mendengarkan filsafat progresivisme, yang kemudian melahirkan filosof belajar konstruktivisme dengan mengajukan teori kurikulum dari metode pembelajaran yang berhubungan pengalaman dan minat siswa. Inti ajarannya adalah siswa akan belajar dengan baik apabila yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui. Proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar.[71]

Diantara pokok-pokok pandangan progresivisme antara lain:

1)      Siswa belajar dengan baik apabila mereka secara efektif dapat mengonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa yang dipelajari.

2)      Anak Harus bebas agar bisa berkembang dengan wajar.

3)      Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar.

4)      Guru sebagai pembimbing dan peneliti.

5)      Harus ada kerja sama antara sekolah dengan masyarakat

6)      Sekolah progresif harus merupakan laboratorium untuk melakukan eksperimen.

Knowles menyatakan bahwa orang dewasa telah memiliki pengalaman, konsep diri dan kesiapan untuk belajar, mana kala pelatihan tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Mereka cendrung bosan apabila didekte karena dianggap tidak memiliki pengetahuan apapun.[72]

Sehingga pelatihan tidak sesuai dengan keinginan mereka dan tidak memberi pengaruh apapun dalam ilmunya sebgamana yang diharapkan. Mereka ingin menjadi bagian darikegiatan-kegiatan pengembangan atau peningkatan kapasitas dirinya agar apa yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan yang dirasakannya. Hal ini hanya dapat diperoleh dalam kegiatan pendidikan, pelatihan dan kursus yang mengikutsertakan mereka ikut aktif dalam proses pembelajarannya, dari sejak perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Harapan seperti ini dapat diperoleh melalui kegiatan pendidikan, pelatihan dan kursus yang menggunakan pendekatan partisipatif.[73]

Kemudian dalam masyarakat modern sepertisekarang seiap orang dituntut agar mampu agar mampu menghaddapi persaingan yang makin kompetitif, baik didalam maupun diluar negri. salah satu cara untuk mengantisipasi persaingan ini adalah dengan peningkatan sumber daya manusia yang komprehensif.

Atas pertimbangan asumsi ini, peneliti kemudian melakukan pengembangan pelatihan  dengan pendekatan participatory training. Karena model participatory training, peserta didik akan terbantu dalam mengembangkan pemahaman dan sikap sesuai dengan keinginnnya dan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama di antara anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas, dan perolehan belajar.

Dalam penyusunan dan analisis asumsi model pelatihan peneliti tidak terlalu mengalami kesulitan dan hambatan yang berarti, karena masalah dan fokus penelitian yang sangat jelas, sehingga bisa membantu peneliti dan tidak kesulitan dalam menyusun asumsi pendekatan pembelajaran yang akan dijabarkan dalam penelitian pengembangan.

b.      Analisis kebutuhan kurikulum

Ada beberapa alasan kenapa suatu lembaga harus mengembangkan program pelatihan. Salah satunya adalah karena tuntutan kurikulum. Oleh sebab itu, langkah utama yang diperhatikan dalam penyusunan pelatihan adalah kurikulum. Pengembangan pelatihan harus memperhatikan tuntutan kurikulum. Artinya pembelajaran yang dikembangkan benar-benar sesuai dan akurat dengan kurikulum yang diterapkan di lokasi penelitian.

Pada kurikulum di Ma’had Aly, lembaga dituntut untuk mempunyai kemampuan mengembangkan pembelajaran sendiri. Karena tidak mengikuti kurikulum pusat. Oleh karenanya lembaga harus bisa membuat panduan pelatihan sendiri yang sesuai dengan kondisi Ma’had yang bersangkutan. Lebih-lebih pada tataran realitas hal ini benar-benar terjadi di Ma’had Aly Sukorejo Situbondo. .

Dalam penyusunan panduan pembelajaran ini, peneliti benar-benar memperhatikan karakteristik sasaran. Hal ini disebabkan panduan pelatihan yang ada sering kali tidak cocok untuk peserta, karena pola pelatihan yang didesain dalam modul pelatihan tersebut masih kurang tepat.  Untuk itu, panduan pelatihan yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Selain lingkungan sosial, budaya, dan geografis, karakteristik sasaran juga mencakup tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal pserta, minat, latar belakang keluarga, dan lain-lain. 

c.       Prosedur Penelitian

Sebagaimana telah ditegaskan dalam bab III bahwa penelitian ini mengadopsi prosedur pengembangan yang dilakukan Borg dan Gall  mengembangkan pembelajaran mini (mini course) melalui 10 langkah, namun karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya penelitian disederhanakan menjadi empat tahap saja. Hal ini tentu membuat penelitian ini nampak memiliki kelemahan karena tidak memenuhi sepuluh langkah yang telah ditetapkan oleh  Borg dan Gall. Akan tetapi, pada prinsipnya, dalam melakukan prosedur penelitian, peneliti juga perlu untuk mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada, sehingga penelitian bisa berjalan sesuai dengan harapan. Atas pertimbangan hal ini, peneliti kemudian menyederhanakan prosedur yang ada menjadi empat langkah saja, dengan melaksanakan prosedur pokok-pokok saja. 

d.      Menulis modul pelatihan yang didesain dengan model participatory training

Setelah memastikan akan kebutuhan penulisan modul pelatihan, selanjutnya peneliti  menyusun modul pelatihan yang sudah direncanakan. Model pelatihan yang disusun berupa modul pelatihan, maka langkah-langkah penulisanpun mengikuti hal-hal yang seharusnya ada dalam modul pelatihan, sehingga modul pelatihan yang disusun benar-benar menggambarkan prosedur dan manajemen pelatihan untuk mencapai target dari adanya pelatihan.

Modul pelatihan yang dibuat benar-benar harus bisa digunakan oleh fasilitator sebagai pedoman pembinaan untuk melaksanakan pelatihan, karena di dalamnya berisi petunjuk secara rinci, pertemuan demi pertemuan, mengenai tujuan, ruang lingkup materi yang harus diajarkan, kegiatan pemberian materi oleh narasumber, media, dan evaluasi yang harus digunakan.

Dari sekian banyak komponen dalam modul, peneliti melakukan modifikasi dari beberapa model modul yang sudah ada. Karena fokus peneliti pada semua aspek pelaksanaan pelatihan, maka modul pelatihan disusun agar bisa menjadi pedoman dalam modul pelatihan dengan model participatory training.

e.       Validasi Desain

Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam hal ini modul pelatihan yang baru diterapkan secara rasional akan lebih efektif atau tidak dari yang lama. Dikatan secara rasional, karena validasi masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum berupa fakta lapangan. Sejatinya, proses validasi dilakukan dengan menghadirkan beberapa ahli untuk memberikan penilaian, bahkan peneliti seharusnya melakukan presentasi dihadapan ahli, namun karena keterbatasn situasi dan kondisi, penilaian ahli dilakukan dengan mengisi instrumen penilaian yang telah peneliti sediakan.

Persoalan mendasar yang tengah dihapai dalam proses validasi ini adalah ahli yang dilibatkan dalam melakukan penilaian hanyalah ahli ushul fikih dan pemakai/pelaksana. Tidak melibatkan ahli manajeman Namun, penilaian dari beliau-beliau sudah bisa menjamin bahwa pengembangan modul yang dibuat akan benar-benar lebih efektif dan bisa memecahkan persolan yang dihapi. Ditambah lagi dengan saran-saran dari pembimbing yang memang ahli manajeman pendidikan. Hasil penilaian yang telah dilakukan oleh para ahli kemudian diperbaiki sehingga tingkat kesalahan dan kekurangan bisa diminimalisir.  

f.        Uji coba lapangan

Kelayakan modul pelatihan akan benar-benar teruji jika telah di uji di lapangan. Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwa uji coba lapangan hanya terbatas di Ma’had Aly formal marhalah ula Sukorejo Situbondo saja. Bisa dikatakan uji coba ini terbatas pada kelompok kecil saja, tidak ada uji coba kelompok besar dengan melibatkan Ma’had Aly lain lain. Namun setidaknya, uji coba mhad Aly terbatas ini sudah bisa menjamin kualitas modul pelatihan ini sudah sangat baik. Suatu modul yang telah selesai disusun, sekalipun penyusunannya sudah menempuh langkah-langkah yang baik, namun tetap perlu perbaikan yang mengnyakut isi maupun efektivitasnya. Kegiatan perbaikan yang dimaksud adalah melalui review atau uji coba. Proses ini dilakukan untuk memperoleh tanggapan dari beberapa orang terhadap produk yang yang disusun, sehingga akan diperoleh masukan dalam upaya perbaikan produk yang telah selesai disusun.

Setelah melakukan uji coba, diharapkan modul yang baru ini bisa membuktikan bahwa modul pelatihan benar-benar bisa meningkatkan pemahaman peserta pelatihan. Dalam bisa ditunjukkan dengan hitungan statistik yang menunjukkan bahwa rata-rata hasil pelatihan yang menggunakan modul pelatihan participatory training jauh lebih meningkat dibanding dengan metode lama. Secara kualitatif juga menunjukkan bahwa peserta menyatakan pelatihan secara partisipatif sangat cocok dan membuat semnagat dan pelatihan berjlan efektif ketika melakukan uji coba lapangan.

Jumlah peserta haus relatif ideal, untuk membuat proses uji coba berjalan dengan lancar. Lebih-lebih para peserta pelatihan bisa diatur dengan mudah. Hal ini menjadi faktor pendukung dalam melakukan uji coba lapangan. Namun kendala utama adalah tidak semua isi modul pelatihan peneliti diuji secara keseluruhan. Lagi-lagi ini terkait dengan waktu yang sangat minim. 

Walaupun peneliti hanya berhasil membuat modul pelatihan dan tidak sampai mengujinya, ini tidak dianggap masalah karena memang keterbatasan waktu dan kesulitan lembaga untuk mengadakan pelatihan diluar waktu yang telah ditentukan. Namun, modul ini akan menjadi rujukan dan bahan uji coba bagi peneliti selanjutnya ynag berminat untuk melanjutkan ujicoba pengembangan modul pelatihan ini. yang peneliti uji coba hanya satu materi pelajaran saja. Akan tetapi,

Dengan demikian, salah satu keterbatasan dari panduan pembelajaran  ini adalah   hanya diperuntukkan untuk Ma’had Aly Sukorejo Situbondo ataupun sekolah yang memiliki ciri khas yang sepadan.  Oleh sebab itu, penggunaan modul pelatihan ini untuk keperluan lain perlu pengkajian lebih lanjut dan penyesuaian dengan kondisi setempat.  

 

B.     Produk model pelatihan

1.      Kelemahan mode12l pelatihan

Modul pelatihan, memiliki peran penting dalam pelatihan. harus benar-benar memberikan kemudahan dalam memfasilitasi pelatihan dan diminati oleh peserta pelatihan. Sebab, apabila pelatihan tidak sesuai dengan keinginan peserta maka sulit sekali akan menemukan tujuan ahir dari adanya pelatihan yaitu memantapkan sebuat pengetahuan secara teoritik dilanjutkan cara aplikatif. Mengiat pentingnya peran pelatihan, maka perlu ada upaya yang tepat untuk memilih modul pelatihan. Setiap orang perlu melakukan telaah yang mendalam sehingga modul pelatihan yang dikembangkan benar-benar tepat.   Setidaknya ada beberapa kriteria yang harus ditelaah dalam menentukan kelayakan sebuah modul pelatihan yakni: isi (konten), gaya penyajian, dan kemasan.

a.       Konten

Pedoman dasar untuk menentukan kelayakan isi modul adalah kesesuaiannya dengan aspek-aspek pelatihan yang tertuang dalam manajeman pelatihan. isi modul yang dikembangkan memungkinkan bagi fasilitator dan penyelenggara untuk merangsang kreativitas dan inspiratif. Partisipasi dari pesserta juga merupakan hal yang penting untuk dipertambangkan. Dan yang paling penting adalah tidak mengandung kesalahan logika, konsep, prinsip, dan paradigma keilmuan serta tidak mengundang konflik terhadap keagamaan, kebangsaan, dan universal.. 

b.      Gaya Penyajian

Gaya penyajian adalah cara modul dalam mengomunikasikan isi kepada pembaca. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan gaya penyajian ini. Pertama, kesederhanaan bahasa dan komunikatif serta mudah dipahami. Kedua, Penyajian yang runit dengan ilustrasi yang mempermudah untuk memahami gagasan. Ketiga, bentuk tulisan, tata letak serta pewarnaan yang tidak membosankan.

Kekurangan daripada panduan ini adalah dari gaya penyajiannya yang masih sama kayak panduan pada biasanya. Yang membedakan dengan pembelajaran yang lain hanya pada persoalan pemilihan font dan juga lay out dan pelaksanaan pelatihan menggunakan model participatory. Di dalamnya tidak terdapat ilustrasi yang cukup banyak. Sementara untuk warna, karena pertimbangan bahwa pembelajaran yang dibuat adalah modul pegangan penyelenggara dan fasiliatator.

c.       Kemasan

Bagamaimanapun juga, kemasan yang menarik merupakan daya tarik pertama sebelum melihat isi buku. Pertama, dimensi buku yang memudahkan siswa membawanya. Kedua, cover dan jilidan yang cukup kuat sehingga memungkinkan awet dan tahan lama.   Dari segi kemasan, modul pelatihan.

Selanjutnya, kelemahan modul pelatihan ini juga bisa dilihat dari aspek penggunaan modul pelatihan sendiri sebagai pendekatan. Meskipun sisi positif modul pelatihan cuku banyak, namun begitu di dalamnya juga terdapat beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan. Kelemahan modul pelatihan bersumber pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu sebagai berikut.

a.       Dengan ikutnya para peserta dalam semua aspek pelatihan yakni merencanaka, merumuskan, melakasanakan, dan evaluasi pelatihan, hal ini, membutuhkan lebih banyak waktu ketimbang diputuskan langsung oleh peneyelenggara.

b.      fasiliatator harus mempersiapkan pelatihan secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu;

c.       Agar proses pelathan berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai;

d.      Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan peserta yang lain menjadi pasif..

2.      Kelebihan modul pelatihan

Meskipun modul pelatihan yang disusun  memiliki kekurangan, namun juga memiliki kelebihan yang lebih banyak. Kelebihan ini bisa dilihat dari beberapa aspek. Kalau dilihat dari isi materi pelajaran yang disajikan, penyusunan panduan ini memiliki kelebihan dari sisi bahwa penyusunannya berdasarkan prinsip-prinsip pelatihan, yakni:

1)        Bersadarkan kebutuhan belajar (learning need based). Sumber informasi tentangkebutuhan belajar adalah peserta dan calon pesert. Kebutuhn ini dapat pula diidentifikasi oleh lembaga atau organisasi yang memberi tugas pada peserta serta dari pihak yang menjadi sasaran pelayanan lembaga atau organisasi dimana peserta bekerja dan mendapat tugas. Pentingnya kebutuhan belajar ini didasarkan atas asumsi bahwa peserta akan belajarsecara efektif bila semua komponen program pembelajaran dapat membnatu mereka untuk memenuhi kebutuhan belajar inilah yang menjadi titik tolak penyusunan dan pengembangan program pelatihan partisipatif.

2)        Beorentasi pada tujuan kegiatan pelatihan (training goal and objectives oriented) tujuan pelatihan disusun oleh sumber pelatihan bersama peserta, denagn mempertimbangkan pengalaman peserta, potensi yang dimiliki serta sumber-sumber yang tersedia dilingkungan kehidupan mereka serta kemungkinan hambatan –hambatan yang muncul dalam kegiatan pelatihan.

3)        Berpusat pada peserta (partisipant centered). Peserta diikut sertakan dan berperan penting dalam kegiatan perencanaan, pelaksnaan, dan evaluasi. Mereka tiak menjawab  pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kebutuhan belajar atau evaluais belajar, akan tetapi juga berperan dalam merumuskan alat-alat atau instrumen yang digunakan untuk kegiaan tersebut. Mereka juga ikut serta dalam mengembangkan bahan pelatihan yang cocock dengan pencapaian tujuan pelatihan mereka sendiri.

4)        Pelatihan berdasarkan pengalaman (experiantial training). Proses pelatihan partisipatif disusun dan dilaksanakan dengan berangkat dari hal-hal yang telah dipelajari berupa pengetahua, nilai dan keterampilan yang telah dimiliki peserta, serta dari pengalaman peserta, baik pengalaman dari tugas pekerjaan sehari-hari maupun pengalaman   nyatayang diangkat dari tugas atau pekerjaan mereka. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam proses pelatihan lebih menitik beratkan pada pemecahan masalah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

A.    Simpulan

Berdasarkan proses pengembangan terhadap model pelatihan ushul fikih di Ma’had Aly Marhalah Ula Sukorejo Situbondo dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      Pelaksanaan pelatihna ushul fikih di Ma’had Aly Marhalah Ula Sukorejo Situbondo terlihat para peserta kurang aktif berpartisipasi dalam pelatihan dan ikut serta dalam semua proses pelatihan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Oleh karena itu tawaran model participatory training dianggap cocok untuk mengatasi hal tersebut dalam pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Marhalah Ula Sukorejo Situbondo. Pengembangan ini dikembangkan dalam empat tahap, yakni : 1) Melakukan analisis kebutuhan (need assasemen),  2) merancang dan mengembangkan produk awal dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan modul pelatihan dan unsur-unsur  pelatihan, 3) memvalidasi hasil produk yang dikembangkan kepada ahli sebelum produk bisa di uji cobakan, 4) evaluasi dan revisi modul pelatihan dari hasil pengembangan ini dapat dijadikan acuan dan rujukan dalam proses pelatihan ushul fikih di Ma’had Aly Sukorejo khususnya dan Ma’had Aly lainnya yang memiliki karakteristik yang sama pada umumnya.

2.      Pengembangan yang dilakukan telah menghasilkan satu produk modul pelatihan, yang berjudul, “modul pelatihan ushul fikih dengan participatory training Ma’had Aly Sukorejo Situbondo” Berdasarkan hasil uji validasi ahli, modul pelatihann ini secara umum sudah baik. Berdasarkan tanggapan dan penilaian yang telah dilakukan dapat simpulkan bahwa modul pelatihan ini dapat membantu dan memudahkan penyelenggara, pelaksana dan fassilitator pelatihan  untuk melaksanakan dan menjalankan pelatihan sesuai dengan harapan semuanya baik penyelenggara maupun peserta.

B.     Saran-saran

Berdasarkan uraian dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang peneliti identifikasi dari berbagai pihak yang diharapkan dapat menjadi masukan dalam penelitian pengembangan pelatihan di masa mendatang, sehingga dapat menghasilkan produk modul pelatihan yang lebih baik dan sesuai dengan sasaran penelitian, diantaranya:

1.      Hendaknya dalam tahap awal pengembangan pelatihan, analisis kebutuhan produk pengembangan, lebih diitensifkan dalm di-explore lebih mendalam, sehingga produk panduan pembelajaran mampu mengakomodir harapan guru dan siswa serta benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

2.      Modul pelatihan memiliki keterbatasan, diantaranya: 1) tidak sampai di uji cobakan karena keterbatasan waktu, 2) uji validasi tidak diujikan pada banyak orang (ahli) namun hanya di uji oleh dua ahli.

3.      Dalam memanfaatkan modul pelatihan ini, masih memerlukan panduan pelatihan yang lain sebagai referensi panduan pelatihan, karena  produk pengembangan lebih fokus kepada pelatihan secara umum. Disarankan, modul pelatihan dibuat lebih fokus lagi pada semua aspek pelatihan seperti modul perencanaan, panduan pelaksanaan, dan panduan evaluasi pelatihan.

4.      Produk pengembangan ini hendaknya dapat diuji cobakan dan dikembangkan lebih lanjut dengan materi, contoh-contoh pelaksanaan sehingga diharapkan pendekatan participatory training dapat diaplikasikan secara menyeluruh terhadap pelatihan ushl fikih di Ma’had Aly Sukorejo dan disekolah lain yang memiliki karakteristik sama.

5.      Bagi pengembang pelatihan, hendaknya dapat melakukan pengembangan pelatihan dengan menggunakan metodelogi pengembangan yang lebih cermat dan konsisten dalam melakukan langkah-langkah pengembangan, sehingga dapat menghasilkan produk panduan pembelajaran yang teruji dan valid.            

6.      Produk panduan pembelajaran ini tidak mungkin dapat mengatasi permasalahan secara keseluruhan yang terjadi pada proses pelatihan ushul fikih secara menyeluruh. Dengan demikian, diperlukan ada upaya tindak lanjut yang lain dengan melibatkan pihak-pihak terkait, sehingga proses pelatihan benar-benar aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

kartika Ikka. 2011. Mengelola Pelatihan Partisipatif.(Bandung: Alfabeta.)

 

Manullang K. 1990. Manajemen Partisipatif. (Jakarta: SIUP.)

 

samsudin Sadili. 2010. Manajemen sumber daya manusia.(Bandung: CV Pustka

            Setia.)

 

Pidarta Made. 2015.  Perencanaan pendidikan partisipatori dengan pendekatan

 sistem. Jakarta: PT Rineka Cipta.

 

Dwivedi Anju. 2004. Metodelogi pelatihan partisipatif. Yogya Karta: Bantul

            Yogyakarta.

 

Hartuti Evi rine. 2012. Udang-undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003

            tentang pendidikan nasional.(Yogyakarta:Laksana).

 

Wasito Wojo. 2007. Kamus umumlengkap indonesia-ingris. Ingris-indonesia.

            (Yogyakarta:Pengarang.)

 

Kamil Musthofa. 2012. Model pendidikan dan pelatihan(konse dan aplikasi).

            (Jakarta: ALFABETA.)

 

Marzuk Saleh i. 2010. Pendidikan non formal.(Jakarta: Rosda.).

 

Sudjana. 2010. Sistem dan manajemen pelatihan.(Yogya Karta: Falah Produktion)

 

Rosset Allison  . Training needs assesment.1987

 

Sujana Djudju. 2009. Evaluasi program pendidikan luar sekolah.(Jakrta :Remaja

            Rosdakarya.)

 

Setyanto Ardi. 2014. Panduan sukses komunikasibelajar mengajar.(Jogjakarta:

            Diva Press.)

 

Tjokrowinoto Moeljarto. 1996 . Pembangunan: dilema dan tantangan.( Yogya

            Karta:Pustaka Pelajar).

Subroto Suryo,2002, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta)

Santoso Sastropoetro, partisipasi, komunikasi, persuasi dan disipilin dalam

            pembangunan nasional. (Bandung:Alumni)

Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung:

            Alfabeta,

8000 Kamus Bahasa Indonesia,( Semarang. CV.Aneka Ilmu).

 

Ainin Moch.,2007. Metodologi Peneltian Bahasa Arab, Pasuruan: Hilal Pustaka.

 

Moleong Lexy J.,1989.Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung:Remaja

            Karya).

Arikunto.Prosedur Penelitian edisi revisi, Rineka Cipta

 

Iskandar,2008.Metodologi Penelitian  Pendidikan dan Sosial.Jakarta: Gaung

            Persada Press

 

Stewart Jim, Mengelola Perubahan Melalui pelatihan dan Pengembangan

            (Managing Change Through Training and Development), PT Gramedia,

            Jakarta 1997.

 

Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM), IKIP Jakarta,

 

Kumpulan Makalah Pelatihan Mengajar Bagi Instruktur PUSDIKLAT,

 

Koordinator Pendidikan dan Pelayanan Kepada Masdyarakat, IKIP Jakarta 1996.

 

Melvin L Mel Silberman, , 101 Ways To Make Training Active, Pfeiffer &

            Company Johannesburg, London, San Diego, Sydney, Totonto,1995

 

Auvine, Brian, A Manual For Group Facilitators, The Center for Conflict

            Resolution, Madison, Wiconsin 1978.

 

Bina Swadaya, 2000 . Modul Pelatihan Pelatih Bagi Keluarga Besar DELIVERI,

            (Bahan Pelatihan Pelatih I), Novotel, Bogor,

 

John D. A Ingalls,. 1973. Trainers Guide to Andragogy, Washington, DC: US

            Department of Health, Education and Welfare, May.

 

Deliveri Project, Laporan Pelatihan Pelatih (Training of Trainers) Bagi Staf

            Dinas Peternakan (Propinsi dan Kabupaten), 1997, 1998 dan 1999.

 

 



[1] Sadili Samsudin. Manjemen Sumber Daya Manusia. (Bandung: CV Pustaka Setia. 2010). hal. 111

[2] Evi Rine Hartuti. Udang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional.(Yogyakarta:Laksana.2012) hal. 11

[3]  Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung:Cv Pustaka Setia, 2011) hal. 12

[4] E.S. Kasihani Kasbolah, Penelitian Tindakan Kelas (PTK). (Malang: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, 1998) hal. 09

[5] Kasihani Kasbolah. Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta: Bumi Aksara. Kusumo Priyono, 2001), hal. 15

[6]  Mulyasa  E. Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006) hal. 06

[7] Wina Senjaya, Stategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Pranada Media, 2001) hal. 20

[8]  Omar Malik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 15

[9] Samiawan, Pendekatan Keterampilan Pros Bagaimana Mengaktifkan Siswa, (Jakarta: Gramedia, 1985) hal. 06

[10] Rusman, Manajemen Kurikulum,(Jakarta: Raja Wali Press, 2008), hal. 37

[11] Musthofa Kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(konse dan aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 04

[12]  Wojowasito. Kamus Umum Lengkap Indonesia-Ingris. Ingris-Indonesia. (Yogyakarta:Pengarang.2007) hal. 701

[13]  Musthofa kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan Konse Dan Aplikasi .(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 3-4

[14]  Musthofa Kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(konse dan aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 04

[15] Musthofa Kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse Dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 06

[16]  Saleh Marzuki. Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 175

[17] Saleh Marzuki. Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 176

[18]  Saleh Marzuki. Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 175

[19]  Musthofa Kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse Dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 10

[20]  Saleh Marzuki. Pendidikan Non Formal.(Jakarta: Rosda.2010). hal. 180

[21]  Musthofa kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 10

[22]  Sudjana. Sistem dan Manajemen Pelatihan. (Yogya Karta: Falah Produktion 2010) hal. 105

[23]  Dale Yoder, Training needs assesment, 1987, hal. 35

[24] Musthofa kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 19

[25]  Sudjana. Sistem dan Manajemen Pelatihan. (Yogya Karta: Falah Produktion 2010) hal. 03

[26] Musthofa kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 40

[27]  Much Misbeh, Model Pelatihan Berbasis Sks, (Jakarta: Rosda.2013). hal. 34

[28] Saleh Marzuki. Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 140

[29] Musthofa kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 33

[30]  Allison  Rosset. Training Needs Assesment. 1987

[31]  Djudju Sujana. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. (Jakrta Remaja ROSDAKARYA.2009). hal. 12

[32] Djudju Sujana. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah.(Jakrta Remaja ROSDAKARYA.2009). hal. 12

[33] Saleh Marzuki. Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 50

[34] Musthofa kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan (Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal.53

[35] udjana. Sistem dan Manajemen Pelatihan.(Yogya Karta: Falah Produktion 2010) hal. 111

[36] Much Misbeh, Model Pelatihan Berbasis SKS, (Jakarta: Rosda.2013). hal. 56

[37]  Much Misbeh, Model Pelatihan Berbasis Sks, (Jakarta: Rosda.2013). hal. 32

[38] Musthofa kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal.44

[39] Ardi Setyanto. Panduan Sukses Komunikasi Belajar Mengajar.(Jogjakarta: DIVA PRESS.2014), hal. 208

[40]  Moeljarto Tjokrowinoto. Pembangunan: Dilema Dan Tantangan.( Yogya Karta: Pustaka Pelajar, 1996 ) hal. 65

[41]  : Abdurrahman, Mulyono. : Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar / Mulyono Abdurrahman.( Jakarta :Rineka Cipta.1999)hal. 33

[42]  Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar Di Seekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002) hal. 21

[43]  Santoso Sastro Poetro, Partisipasi Komunikasi, Persuasive Dan Disiplin Dalam Membangunan Nasional, (Bandung: Alumni) hal. 54

[44]  Keith Davis. Human Relations at Work. (McGraw-Hill, 1962).hal. 222

[45] Santoso Sastro Poetro, Partisipasi Komunikasi, Persuasive Dan Disiplin Dalam Membangunan Nasional, (Bandung: Alumni) hal. 57

[46] PTO PNPMPPK, 2007

[47] Santoso Sastro Poetro, Partisipasi Komunikasi,(tp. tt), hal. 76

[48] Santoso Sastro Poetro, Partisipasi Komunikasi, Persuasive Dan Disiplin Dalam Membangunan Nasional, (Bandung: Alumni) hal. 65

[49] Mardikanto. Pemeberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik.(Jogjakarta: ALFABETA.2001). hal.03

[50] Mardikanto. Pemeberdayaan masyarakat dalam perspektif kebijakan publik.(Jogjakarta: ALFABETA.2001). hal.04

 

[51] Margono Slamet. Membentuk pola prilaku manusia pembangunan (Bandung:IPB PRESS.2003). hal. 15

[52]  Robbins. Manajemen edisi kesepuluh.(Jakarta:ERLANGGA.1998).hal. 55

[53]  Nitisemo. Manajemen Personalia.(Jakarta:Ghalia Indonesia.1998). hal. 283

[54]  Siswanto. Pengantar Manajemen (Jakarta:Bumi Aksara,2011).hal. 25

[55] Pusat Pembinaan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, (Jakrta: Balai Pustaka, 1994), h. 520

[56] Harifudin Cawidu, Konsep Kufr Dalam al-Qur'an, Suatu Kajian Teologis Dengan Pendekatan Tematik (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 13.

[57] Idtesis.Com, Pengertian Konsep Menurut para Para Ahli, (Diposting Tanggal 20 Maret 2015). https://idtesis.com/konsep-menurut-para-ahli/ (Diakses; Tanggal 23 desember 2018).

[58] Maleong Lexy, Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Remaja Rodakarya, 2005) hal. 12

[59] Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta, hal: 02

[60] Mohammad Nadzir, Metode Penelitian, ( Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999) hal. 26

[61] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Surabaya: Erlangga,2011), hlm.333.

[62] Setyo sari, metode penelitian pendidikan dan pengembangan,(Jakarta:kencana, 2010) hal. 18

[63] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Surabaya: Erlangga,2011), hlm.334.

[64] 8000 Kamus Bahasa Indonesia,CV.Aneka Ilmu:Semarang,h.104

[65] Moch. Ainin, Metodologi Penelitian Bahasa Arab, (Pasuruan: Hilal Pustaka. 2007) h.117

[66] Lexy J. Moleong, M.A, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung:Remaja Karya, 1989),h.174

[67] Arikunto.Prosedur Penelitian edisi revisi, Rineka Cipta,h.236

[68] Iskandar, Metodologi Penelitian  Pendidikan dan Sosial.Jakarta: Gaung Persada Press. 2008) h.219

[69] Moch. Ainin, Metodologi Penelitian Bahasa Arab, (Pasuruan: Hilal Pustaka. 2007) h.122

[70] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Surabaya: Erlangga,2011), hlm.270

[71] Yanur Setyaningrum, Desain Pembelajaran; Berbasis Pencapaian Kompetensi, Panduan Merancang pembelajaran untuk mendukung Implementasi Kurikulum 2013, Cet. I, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2013), 85

[72] Ikka kartika, Mengelola Pelatihan Partisipatif,(Bandung:ALFABETA,2011).hal. 03

[73] Ikka kartika, Mengelola Pelatihan Partisipatif,(Bandung:ALFABETA,2011).hal. 05

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUKUM PENJUALAN VENDING MACHINE PERSPEKTIF IMAM SYAFI'IE DAN IMAM MALIK

TEORI JUAL BELI mu‘āṭah