PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN USHUL FIKIH DENGAN PARTICIPATORY TRAINING
NAMA :M. SYAIFUL ANWAR
NIRM : 016.01.04.0304
Program Pascasarjana Institut Agama Islam Ibrahimy Sukorejo Situbondo
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendidikan menurut Andrewe. Sikula dalam bukunya personnel dministration
and human resource management, mendifinisikan pendidikan sebagai berikut, “development
is a long term educational proces utulizing asystematic and organized procedure
by which managerial personnel learn conceptual and theoritical knowledge for
general furpose”. [1]
Pembangunan adalah proses pendidikan jangka panjang yang memanfaatkan
prosedur sistematis dan terorganisir dimana personil manajerial belajar
pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum
Dalam undang-undang disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, penegendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak muia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara.[2]
Dari definisi pendidikan yang disebutkan alam undang-undang pendidikan
diatas menunjukkan bahwa betapa tingginya keinginan negara dalam menetapkan
mutu atau kualitas pendidikan warga indonesia. Yaitu bagaimana pendidikan
diharapkan dapat mencetak warga menjadi orang yang cerdas akal, spriritual
berahlak yang baik serta cinta bangsa dan negaranya.
Untuk mewujudkan cita-cita bangsa tersebut tentu semua pihakharus serius
dalam menangani pendidikan baik dari pemerintah, kepala sekolah, guru serta
orang tua murid atau masyarakat semuanya. Tentu mereka harus bersatu dan punya
satu tujuan untuk menghaislkan siswa-siswa yang berkualitas sesuai standard
pemerintah[3].
Dengan memperbaiki dan menjalankan langkah-langkah penjaminan mutu dari
penjagaan input dan proses serta output. Guru besar pendidikan Prof Kasiani
Kasbolah, PhD, berkata "Input jelek, proses
jelek, hasilnya pasti jelek. Input baik, proses jelek, hasilnya
belum tentu baik. Input jelek, proses baik, hasilnya bisa
lebih baik. Input baik, proses baik, hasilnya pasti
baik."[4] Berbicara
tentang pendidikan, bisa saja situasi di lapangan terjadi empat kondisi seperti
di atas. Hanya, jika kita disuruh memilih, pilihan yang tepat memang input baik,
proses baik. Kondisi ini bisa dikategorikan pendidikan yang ideal. Mungkinkah
pendidikan di seluruh Tanah Air bisa menggapai kondisi tersebut? Kondisi yang
masih lebih baik adalah jika input jelek tapi prosesnya baik.
Di sinilah terjadi usaha besar dan serius dalam pendidikan. Proses baik
menggambarkan pendidikan yang benar-benar memberikan manfaat kepada peserta
didik. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak terampil menjadi terampil. Dari
tidak cerdas menjadi cerdas. Yang paling
berbahaya adalah jika input jelek, proses jelek. Sebab, di
dalam suasana ini, sekolah ibarat kumpulan siswa yang tidak memiliki masa
depan. Mereka berkumpul dalam suasana yang tidak menentu untuk nasib hidupnya.
Kita tidak mengharapkan model pendidikan ini. Kondisi yang konyol adalah
jika input baik tapi proses jelek. Sebab, kondisi ini
menggambarkan sebuah sekolah yang tidak bisa memberikan perubahan kepada anak
didik. Justru nasib peserta didik seperti ini jelas menjadi korban. Pendidikan
yang tidak mengandalkan inovasi proses akan terjebak pada kondisi ini. Nah, bagaimanakah kondisi input sekolah di seluruh Tanah
Air? Sekolah di mana saja, baik sekolah dasar, sekolah menengah pertama,
sekolah menengah atas, maupun perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan
tinggi negeri (PTN), berbondong-bondong menggapai siswa atau mahasiswa
sebanyak-banyaknya. Ini utamanya sekolah swasta. Namun, khusus PTN, sejak diundangkanya
Badan Hukum Pendidikan (BHP), juga turut serta bergerilya.
Dalam wacana pendidikan
saat ini, ada kecenderungan mereka sangat mengandalkan kuantitas peserta didik.
Ada yang serius menyaring input sebaik-baiknya. Bisa saja ada
yang berpotensi sekadar dapat jumlah titik impas (BEP) biaya penyelenggaraan
pendidikan. Jika kuantitas yang diutamakan, ada kecenderungan mendapatkan input yang
tidak baik. Kondisi input yang tidak baik
di sekolah sangat krusial jika proses pendidikan tidak maksimal.[5]
Di sinilah kondisi sekolah sekadar sebagai kumpulan manusia tanpa pengalaman
dan perubahan. Jika kondisi input baik tapi proses baik tidak
bisa digapai, input jelek tapi proses baik merupakan pilihan
yang tidak bisa dihindarkan. Jika tidak, sekolah tak memberikan manfaat sama
sekali. Pengalaman
secara empiris memberikan dampak perubahan kepada manusia. Sekolah, sebagai
proses formal pengalaman peserta didik, jelas sangat bermakna dalam pendidikan.[6]
Dalam pendidikan sebenarnya yang banyak memberikan banyak hal kepada
peserta didik adlah pendidikan itu sendiri. Sama halnya dengan proses dalam kehidupan
individu sebagai manusia di lingkungannya. Sebuah lingkungan salah satunya
adalah sekolahan. Otak manusia, termasuk jiwanya, diibaratkan
sehelai kertas putih yang masih kosong. Intinya bahwa pengamatan dengan
pancaindra senantiasa mengisi jiwa manusia. Proses ini terjadi dengan
kesan-kesan (sensation). Setelah terjadi sintesis, analisis, dan perbandingan,
kemudian diolah menjadi pengetahuan (reflection). [7]
Sekolah sebagai tempat proses
pendidikan formal akan lebih baik jika mereka mengutamakan mutu proses
pendidikannya. Jika tidak, sekolah tidak bisa memberi pengalaman belajar
peserta didik. Selama ini sekolah-sekolah cenderung mencari siswa atau
mahasiswa sebanyak-banyaknya sebagai input untuk diproses
melalui pendidikan yang diselenggarakan.
Salah satu bentuk penjaminan mutu dalam segi prosesnya adalah memperhatikan
sumber dya manusia yakni siswa denagn memberikan asupan-asupan ilmu dan
pemahaman terhadapnya agar dapat menjalankan kehidupan yang lebih baik dan bisa
melakukan hal-hal yang menjadi keahliannya.[8]
Sumber daya manusia merupakan
elemen utama organisasi dibandingkan dengan elemen lain seperti modal,
teknologi, dan uang sebab manusia itu sendiri yang mengendalikan yang lain.
Membicarakan sumberdaya manusia tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan atau
proses manajemen lainnya seperti strategi perencanaan, pengembangan manajemen
dan pengembangan organisasi. Keterkaitan antara aspek-aspek manajemen itu
sangat erat sekali sehingga sulit bagi kita untuk menghindari dari pembicaraan
secara terpisah satu dengan lainnya.[9]
Pengelolaan sumber daya manusia tidak hanya terpusat pada kegiatan seleksi,
penempatan, pengupahan, pelatihan, transfer, promosi serta berbagai tindakan
lainnya, yang fokusnya adalah pada kepentingan organisasi kerja. Tugas utama
dari pengelolaan sumber daya seringkali hanya mengusahakan agar personil dapat
bekerja secara efektif. Dalam artian yang luas pengembangan sumber daya manusia
terutama meliputi pendidikan dan pelatihan, peningkatan kesehatan manusiawi,
yang menyegarkan dalam organisasi, dan pertemuan ilmiah seperti seminar,
simposium perlu untuk ditingkatkan.
Ciri yang konkrit dari program pendidikan dan pelatihan dalam peningkatan
mutu unjuk kerja personil selalu berkembang, karena kebutuhan organisasi kerja
dan masyarakat selalu berubah. Kekuatan potensial yang dapat menimbulkan
perubahan adalah yang saling berkaitan. Pelatihan dan pengembangan SDM
menjadi suatu keniscayaan bagi organisasi, karena penempatan karyawan secara
langsung dalam pekerjaan tidak menjamin mereka akan berhasil. Karyawan baru
sering sering merasa tidak pasti tentang peranan dan tanggung jawab mereka.
Permintaan pekerjaan dan kapasitas karyawan haruslah seimbang melalui program
orietasi dan pelatihan. Keduanya sangat dibutuhkan. Sekali para karyawan telah
dilatih dan telah menguasai pekerjaannya, mereka membutuhkan pengembangan lebih
jauh untuk menyiapkan tanggung jawab mereka di masa depan. Ada kecenderungan
yang terus terjadi, yaitu semakin beragamnya karyawan dengan organisasi yang
lebih datar, dan persaingan global yang meningkat, upaya pelatihan dan
pengembangan dapat menyebabkan karyawan mampu mengembangankan tugas kewajiban
dan tanggung jawabnya yang lebih besar.[10]
Sebagai pendukung pemahaman dan keterampilan dalam menjalankan suatu
pekerjaan adalah dengan adanya pelatihan-pelatihan. Pelatiahn sudah menjadi
program yang rutin dilaksanakan oleh perusahaan atau organisasi dalam
meningkatkan kinerja karyawan ,staf atau pengurus suatu organisasi. Hal ini
tentu juga bisa dilkukan oleh sekolah atau luar sekolah untuk meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi atau pelajaran sekolah dan menggali bakat-bakat
yang terpendam dalam dirinya.[11]
Ma’had Aly Sukorejo merupakan lemabaga yang husus dalam mencetak
kader-kader ahli fikih dan ushul fikih. Yang Didirikan oleh alm. KHR. As’ad Syamsul
Arifin pada tahun 1990 yang dilatar belakangi kerisauan para ulamak akan
minimnya kader-kader ulamak lanataran masuknya berbagai macam aliran ke
indonesia yang mengancam punahnya orang yang akan mempelajari dan memahami
agama dengan benar. Pada ahir tahun 1980 Kerisauan mereka dihaturkan pada kyai As’ad
ternyata Kiai As’ad merasakan hal yang sama. Beliau mengusulkan, agar mencari
kader-kader unggul dari masing-masing pesantren untuk digembleng dan
di-training secara khusus dan di tempat khusus pula. Tujuannya adalah untuk
mencetak kader faqihu zamanihi (ahli
ilmu agama di zamannya), ulama yang mempunyai integritas keilmuan memadai dan
mampu menjawab persoalan-persoalan di sekitarnya, sekaligus menjadi uswah bagi
umatnya
Untuk mencapai terwujudnya cita-cita pendiri Ma’hd Aly maka disusunlah
kurikulum dan program-prokram kerja yang mendukung.
Dalam penyusunan dan pelaksanaan program kerja, Ma’had Aly meng
klasifikasikan menjadi dua, yaitu :
a. Program Kerja Reguler
Program kerja reguler adalah program kerja yang dilakukan secara berkala
dalam jangka waktu tiga tahun yang dikhususkan dalam enam semester.
1. Penerimaan Peserta didik Ma’had
Aly (lih. peserta didik)
2. Penugasan (penjadwalan) tenaga
pengajar (lih. tenaga pengajar)
3. Penyusunan Kurikulum dan
Refferensi
4. Proses Perkuliahan (lih.
Proses dan Pola Pendidikan)
5 Model Evaluasi dan Parameter
Kelulusan
b. Program Kerja non-Reguler
Progran kerja non-reguler adalah program kerja yang dilaksanakan
berdasarkan kebutuhan masyarakat santri (social student demand), sebagai
penunjang kemampuan dan skill santri, secara garis besar digolongkan manjadi :
1. Seminar
2. Pelatihan
Untuk memperdalam penguasaan dan pemahaman materi Ma’had Aly mengadakan
pelatihan-pelatihan diantaranya pelatihan manasik haji, pelatihan sholat jamaah dan pelatihan ushul fikih dan
lain sebagainya.
Namun Dari beberapa
pelatihan yang dilkukan masih banyak yang kurang memnuhi prosedur pelatihan dan
masih perlu untuk diperbaiki dan dikembangkan. oleh karena iu peneliti tertarik
untuk mengangkat judul pengembangan pelatihan ushul fikih denagn participatory
training dalam meningkatkan kualitas santri Ma’had Aly Sukorejo.
B. Identifikasi dan pembatasan
1. Identifikasi
a. Banyaknya materi yang diberikan dalam
pelatihan dengan waktu yang terbatas
b. Waktu pelatihan terlalu padat yakni 11 jam
c. Kurangnya waktu istirahat bagi peserta
d. Tidak adanya evaluasi di ahir pelatihan
C. Rumusan masalah
a. Bagaimanakah model pelatihan ushul fikih di Ma’had
Aly Marhalah Ula Sukorejo Situbondo.
b. Bagaimanakah desain pelatihan ushul fikih
dengan participatory training Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.
D. Tujuan pengembangan
a. Untuk mengetahui model pelatihan ushulfikih Ma’had
Aly marhalah ula Sukorejo Situbondo.
b. Untuk mengetahui desain pelatihan ushul fikih
dengan participatory training Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.
E. Manfaat Pengembangan
a. Bagi lembaga Ma’had Aly
sebagai salah satu bahan
masukan dalam rangka meningkatkan kualitas kurikulum Ma’had Aly
b. Bagi pengurus Ma’had Aly
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran kepada pihak-pihak yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan Ma’had Aly.
c. Bagi siswa
diharapkan mendapat hasil belajar yang
memuaskan dengan terlaksannya pelatihan ushul fikih
F. Spesifikasi produk
Dalam hal ini produk yang
akan dikembangkan addalah pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo
yang dilaksankan tiga kali setiap angkatan (selama tiga tahun).
Adapun format
pelatihannya adalah sebagai berikut:
1)
Tahap Awal
1.
Fasilitator memberikan pengarahan
tentang aturan pelatihan yang efektif dan efesien.
2.
Fasilitator memberikan pengarahan
dan pengantar tentang materi yang akan disampaikan oleh narasumber.
3.
Fasilitator mempersilahkan pemateri
untuk memulai penyampian materinya sesuai dengan alokasi waktu yang telah
ditetapkan oleh panitia.
2)
Penyampaian Materi (Entering
Behavior)
1.
Narasumber memulai penyampaian
materi dengan mengucapkan salam pembuka, membaca
al-Fatihah dan lain sebagainya.
2.
Narasumber menjelaskan,
menerangkan, dan menyajikan materi yang telah disiapkan sampai tuntas, dengan
durasi waktu 45 menit.
3.
Narasumber mempersilahkan peserta
pelatihan untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan terkait dengan
penyampian materi yang telah disampaikan oleh narasumber.
4.
Narasumber memberikan tanggapan
atau penjelasan terhadap pertanyaan atau tanggapan peserta pelatihan.
5.
Setelah semua rangkaian penyampaian
materi sudah selesai, pemateri menutup penyampaian materi.
6.
Narasumber kembali menyerahkan
forum pelatihan kepada Fasilitator.
7.
Narasumber memimpin sendiri
jalannya forum dengan efektif dan efisien sampai batas waktu yang telah di
tetapkan oleh fasilitator.
3)
Pra Pendalaman Materi
1.
Fasilitator mengambil alih jalanya
forum sekaligus mereview materi yang telah disampaiakan oleh
narasumber.
2.
Fasilitator menginstruksikan kepada
peserta pelatihan untuk berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
3.
Sebelum acara diskusi kelompok
dimulai, fasilitator mengadakan bina suasana.
4.
Fasilitator menyiapkan serta memberikan
materi diskusi kepada masing-masing kelompok.
5.
Fasilitator memberikan penjelasan
dan pengarahan kepada masing-masing kelompok terkait dengan mekanisme disko
(diskusi kelompok) yang efektif dan efesien.
4)
Pendalaman Materi
1.
Fasilitator mempersilahkan kepada
masing-masing kelompok untuk memulai diskusinya, dengan batas waktu yang telah
ditentukan.
2.
Setelah disko selesai, Fasilitator
menginstruksikan kepada tiap-tiap perwakilan kelompok untuk mempresentasikan
hasil diskusinya kepada peserta lain (panel).
3.
Setelah masing-masing dari kelompok
selesai panel, fasilitator memberikan tanggapan dan menutup forum.
G. Definisi istilah
a. participatory training
Pelatihan partisipasi
adalah pelatihan yang mengikut sertakan peserta pelatihan atau keterlibatan
yangberkaitan dengan keadaan lahiriahnya pelatihan partisipasi adalah pelatihan
dimana peserta berperan secara aktifdalam proses atau alur tahapan program dan
pengawasannya, mulai dari tahapsosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan
pelestarian kegiatan denganmemberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam
bentuk materill
b. Ushul fikih
Dalil-dalil fikih yang
bersifat global, dan metode penggunaannya serta karakteristik orang yang
mengoprasikan dalil tersebut.
BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
A. KAJIAN TEORI
1. pengertian pelatihan
Istilah pelatihan dalam kamus lengkap Inggris-Indonesia merupakan
terjemaahan dari kata “training” dalam Bahasa inggris. Secara harfiah
akar kata “training” adalah “train” yang berarti, memberi
pelajaran dan praktik (give teaching an practice), menjadikan berkembang
dalam arah yang dikehendaki (cause to grow in a required direction), persiapan
(preparation), dan praktik (practice).[12]
Maksudnya adalah pelatihan merupakan proses pendidikan yang dilaksanakan secara
sistematis dengan tujuan-tujuan untuk memberikan pelajaran dan hal yang baru
maupun mengembangkan potensi didalam diri dengan cara melalui dari persiapan
pelatihan sampai melaksankan praktik pelatihan.
Dan banyak pengertian pelatihan yang
dikemukakan oleh beberapa ahli anatara lain sebagai berikut. [13]
istilah
latihan yang dipergunakan disini adalah untuk menunjukan
setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan kemampuan pegawai
guna menyelesaikan pekerjan-pekerjaan tertentu.
Dalam keterangan lain, pelatihan diartikan sebagai serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan
keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seseorang
individu.[14]
Sementara dalam Instruksi Presiden No. 15
tahun 1974 disebutkan mnegenai pengertian
pelatihan dirumuskan sebagai berikut:
Pelatihan adalah bagian
dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh meningkatkan
keterampilan diluar sitem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif
singkat dan dengan menggunakan metode yang lebih mengutamakan praktik dari pada
teori.
Menurut Goldstein dan Gressner, pelatihan lebih menekankan pada tempat
pelatihannya, dan dimana mendefinisikan pelatihan sebagai usaha sistematis
untuk menguasai keterampilan, peraturan, konsep ataupun cara berperilaku yang
berdampak pada peningkatan kinerja. Misalnya, untuk pelatihan untuk suatu
jabatan kerja, setting pelatihan diusahakan semirip mungkin dengan lingkungan
kerja yang sebenarnya. Contoh lainya, pelatihan juga bisa dilakukan ditempat
yang sangat berbeda dengan lingkungan kerja yang sebenarnya, misalnya ruangan
kelas.[15] Pelatihan dapat diartikan sebagai berikut
: Training merupakan suatu istilah
yang memiliki konotasi tertentu bergantung pada pengalaman seseorang dan latar
belakangnya. Bagi seseorang yang antusias pada balap (racing), maka
training merupakan usaha untuk mencetak pemenang. Bagi pemain sirkus, training
merupakan usaha untuk menjinakan binatang-binatang dan menunjukan kemahiran
dimuka penonton. Bagi pemilik anjing yang disekolahkan atau dilatih, training
berfungsi sebagai upaya menjalankan tugas-tugas keamanan. Dalam dunia kerja,
training biasanya dihubungkan dengan pemberian petunjuk, orientasi dan
pengarahan supaya pekerja bisa bekerja lebih baik.[16]
Jika didefinisikan, training adalah pengajaran atau pemberian pengalaman
kepada seseorang untuk mengembangkan tingkah laku (pengetahuan, skill, sikap)
agar mencapai sesuatu yang diinginkan Robinson, Dalam Dictionary of
Education, pelatihan (training) diartikan sebagai suatu pengajaran tertentu
yang tujuan telah ditentukan secara jelas, biasanya dapat diragakan, yang
menghendaki peserta dan penilaian terhadap perbaikan unjuk kerja peserta didik.[17]
2. Tujuan pelatihan
Pendidikan Nonformal Dimensi dalam keaksaraan Fungsional, Pelatihan, dan
Andragogi. Pelatihan dapat diartikan sebagai berikut : Pelatihan jenis apapun sebenarnya tertuju
pada dua sasaran, yaitu partisipasi dan organisasi. Dengan pelatihan,
diharapkan terjadi tingkah laku pada partisipan pelatihan yang sebenarnya
meupakan anggota suatu organisasi dan, yang kedua, perbaikan organisasi itu
sendiri, yakni agara menjadi lenih efektif. Apabila pelatihan tertuju pada
karyawan perusahaan atau pabrik, tujuan pelatihan adalah agar individu karyawan
tersebut menjadi lebih baik pula, misalnya lebih produktif. Pada latihan kader
organisasi, misalnya, pelatihan bertujuan memperbaiki kecakapan kader dan
selanjutnya diharapkan organisasinya lebih efektif dalam melaksanakan
program-program dan mencapai tujuannya.[18]
Tujuan penelitian yang diungkapkan oleh Dale S. Beach mengemukakan, bahwa tujuan
pelatihan adalah untuk memperoleh perubahan dalam tingkah laku mereka yang
dilatih. secara lebih rinci tampak bahwa tujuan pelatihan adalah untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang.[19]
Sedangkan menurut Marzuki ada tiga tujuan
pokok yang harus dicapai dengan pelatihan, yaitu : [20]
a)
memenuhi
kebutuhan organisasi
b)
Memperoleh pengertian dan pemahaman
yang lengkap tentang pekerjaan dengan standar dan kecepatan yang telah
ditetapkan dan dalam keadaan yang normal serta aman.
c)
Membantu para pemimpin organisasi
dalam melaksanakan tugasnya
Secara khusus dalam kaitan dengan pekerjaan,
Simamora mengelompokan tujuan pelatihan ke dalam lima bidang, yaitu: [21]
a)
Memutakhirkan keahlian para
karyawan sejalan dengan perubahan teknologi. Melalui pelatihan, pelatih
memastikan bahwa karyawan dapat secara efektif menggunakan teknologi-teknologi
baru.
b)
Mengurangi waktu belajar bagi
karyawan untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan.
c)
Membantu memecahkan permasalahan
operasional.
d)
Mempersiapkan karyawan untuk
promosi, dan
e)
Mengorientasikan karyawan terhadap
organisasi.
Adapun tujuan pelatihan yang dikemukakan oleh
Sudjana yaitu diantaranya sebagai berikut: [22]
a)
Sebagai tolak ukur penilaian dalam
arti bahwa pelatihan dinilai berhasil apabila tujuan yang telah ditentukan
dapat tercapai sebagaimana yang telah diharapkan. Dengan cara lain ketercapaian
pelatihan menjadi indikator keberhasilan pelatihan yang telah dirancang
sebelumnya.
b)
Sebagai pemberi arah bagi semua
unsur/ komponen pelatihan, khususnya pelatih dan peserta pelatihan. Dengan kata
lain pelatih dapat merancang kegiatan yang akan dilakukan untuk membelajarkan
peserta dalam mencapai tujuan pelatihan.
c) Sebagai
pemberi acuan tentang standar/kriteria untuk merancang kurikulum pelatihan
seperti materi dan teknik serta media pelatihan dan alat evaluasi keluaran
pelatihan.
3. Prinsip-prinsip Pelatihan
Menurut Dale yoder dalam tulisannya
menyebutkan sembilan asas yang berlaku umum dalam kegiatan pelatihan,
diantaranya (1) Individual differences; (2) Relation to job anAlysis; (3)
motivation; (4) active participation; (5) selection of trainess; (6) selection
of trainers; (7) trainer’s of training; (8) training method’s dan (9)
principles of learning.
(1) Perbedaan individu; (2) Hubungan dengan pekerjaan anasis; (3) motivasi;
(4) partisipasi aktif; (5) pemilihan trainess; (6) pemilihan pelatih; (7)
pelatih pelatihan; (8) metode pembelajaran dan (9) prinsip pembelajaran.[23]
Karena pelatihan
merupakan bagian dari proses pembelajaran, maka prinsip-prinsip pelatihanpun
dikembangkan dari prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip-prinsip umum agar
pelatihan berhasil adalah sebagai berikut :
a. Prinsip perbedaan individu Perbedaan-perbedaan
individu dalam latar belakang sosial, pendidikan, pengalaman, minat, bakat, dan
kepribadian harus diperhatikan dalam menyelenggarakan pelatihan.
b. Prinsip motivasi Agar peserta pelatihan
belajar dengan giat perlu ada motivasi. Motivasi dapat berupa pekerjaan atau
kesempatan berusaha, penghasilan, kenalkan pangkat atau jabatan, dan
peningkatan kesejahteraan serta kualitas hidup. Dengan begitu pelatihan
dirasakan bermakna oleh peserta pelatihan.
c. Prinsip pemilihan dan pelatihan para pelatih
Efektivitas program pelatihan anatara lain bergantung pada para pelatih yang
mempunyai minat dan kemampuan melatih. Anggapan bahwa seseorang yang dapat
mengerjakan seseuatu dengan baik akan dapat melatihkannya dengan baik pula
tidak sepenuhnya benar. Karena itu perlu ada pelatihan bagi para pelatih.
Selain itu pemilihan dan pelatihan para pelatih dapat menjadi motivasi tambahan
bagi peserta pelatihan.
d. Prinsip belajar Belajar harus dimulai dari
yang mudah menuju kepada yang sulit, atau dari yang sudah diketahui menuju
kepada yang belum diketahui.
e. Prinsip partisipasi aktif Partisipasi aktif
dalam proses pembelajaran pelatihan dapat meningkatkan minat dan motivasi
peserta pelatihan.
f.
Prinsip fokus pada batasan materi Pelatihan dilakukan hanya untuk menguasai
materi tertentu, yaitu melatih keterampilan dan tidak dilakukan terhadap
pengertian, pemahaman, sikap dan penghargaan.
g. Prinsip diagnosis dan koreksi Pelatihan
berfungsi sebagai diagnosis melalui usaha yang berulang-ulang dan mengadakan
koreksi atas kesalahan-kesalahan yang timbul.
h. Prinsip pembagian waktu Pelatihan dibagi
menjadi sejumlah kurun waktu yang singkat.
i.
Prinsip keseriusan Pelatihan jangan dianggap sebagai usaha sambilan yang
bisa dilakukan dengan seenaknya.
j.
Prinsip kerjasama Pelatihan dapat berhasil dengan baik melalui kerjasama
yang baik antar semua komponen yang terlibat dalam pelatihan.
k. Prinsip metode pelatihan Terdapat berbagai
metode pelatihan, dan tidak ada satu pun metode pelatihan yang dapat digunakan
untuk semua jenis pelatihan. Untuk itu perlu dicarikan metode pelatihan yang
cocok untuk suatu pelatihan .
l.
Prinsip hubungan pelatihan dengan pekerjaan atau dengan kehidupan nyata
Pekerjaan, jabatan, atau kehidupan nyata dalam organisasi atau dalam masyarakat
dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan, keterampilan, dan dikap apa
yang dibutuhkan, sehingga perlu
diselenggarakan pelatihan.[24]
4. Pelatihan Dalam Pendidikan Luar Sekolah
Pelatihan merupakan salah satu bagian dari pendidikan non formal atau
dikatakan pendidikan Pendidikan luar sekolah dimana pendidikan luar sekolah adalah
setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar
sekolah, dimana seseorang memperoleh informasi-informasi pengetahuan, latihan
ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan
mengembangkan tingkat kerterampilan, sikap-sikap peserta yang efisien dan
efektif dalam lingkungan keluarga bahkan
masyarakat dan negaranya.
Pengertian dari keterangan diatas sesuai dengan Undang-undang R.I Nomor 20
tahun 2003 tetang sistem pendidikan nasional, pasal 26 ayat 4 menyatakan bahwa
lembaga pelatihan merupakan satuan pendidikan non formal disamping satuan
pendidikan lainnya yaitu kursus, kelompok belajar, majelis ta’lim, kelompok
bermain, taman penitipan anak, pusat kegiatan belajar masyarakat dan satuan
pendidikan sejenis.[25]
Adapun sasaran dari pendidikan non formal menurut Depdiknas seluruh lapisan masyarakat, tidak terbatas usia,
jenis kelamin, status social ekonomi dan tingkat pendidikan sebelumnya. Hal ini
dikatakan bahwa pendidikan non formal seyogyanya mampu melayani seluruh lapisan
masyarakat yang membutuhkan baik dalam hal tambahan pengetahuan, skill, dan
keterampilan.
Sedangkan dam UU no. 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional,
pasal 26 ayat 1 menyebutkan bahwa pendidikan non formal diselenggarakan bagi
warga, masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan formal dalam rangka
mendukung pendidikan sepanjang hayat life long education. Pelatihan
dalan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat 1 telah dituliskan
bahwa “Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang
memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah,
dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan
sepanjang hayat. Dan satuan yang ada di dalamnya seperti yang dituliskan pada
pasal 26 ayat 4 bahwa “Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus,
lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis”. Salah satu satuan yang
ada didalam Pendidikan Luar Sekolah yakni yang sudah dituliskan diatas yaitu
kursus dan pelatihan dan pada pasal 26 ayat 5 bahwa “Kursus dan pelatihan
diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan,
keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri,
mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi”.[26]
Berdasarkan pengertian dan penjelasan diatas, bahwa pendidikan non formal
pada hakekatnya mendasari berbagai pendidikan atau pembelajaran yang ada diluar
sistem pendidikan yang formal secara keseluruhan. Pelatihan sebagian bentuk
dari pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah, dan memiliki tujuan
untuk membelajarkan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan pendidikan sebagai
bentuk dari pendidikan sepanjang hayat.
5. Model-model pelatihan
Model pelatihan adalah pelaksanaan pelatihan yang terdapat program
pelatihan dan tata cara pelaksanaannya. Kemudian di dasarkan pada kategori
dan jenis pelatihan lalu ditentukan suatu model pelatihan. Biasanya dalam
pelatihan itu sendiri terdapat model-model yang sering di gunakan organisasi
dan perusahaan untuk melath para angota organisasi atau karyawannya[27]
Pengembangan model menurut Pramono (2011) adalah usaha penyempurnaan,
penemuan sesuatu yang baru (adaptif, dan inovatif) menurut kaidah-kaidah dan
metode ilmiah tertentu sehingga melahirkan formulasi yang dikehendaki. Pengembangan model meliputi model program, model pembelajaran, model pelatihan, dan model proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar tertentu untuk menjadikan peserta didik dapat menerapkan teori ke dalam praktik sehingga memiliki keterampilan di bidang mata ajaran atau ilmu pengetahuan.[28]
Menurut IPABI
pusat menyatakan bahwa
tahapan-tahapan dalam pengembangan model terdiri
dari dari dua yaitu, menyusun rancangan
pengembangan model, dan melaksanakan
pengembangan model.[29]
Pelatihan sebagai sebuah
konsep program yang
bertujuan meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan seseorang (sasaran
didik), berkembang sangat pesat dan modern.
Perkembangan model pelatihan
(capacity building, empowering, training dll pengembangan kapasitas,
pemberdayaan, pelatihan dll))
saat ini tidak
hanya terjadi pada
dunia usaha, akan tetapi
pada lembaga-lembaga profesional
tertentu model pelatihan
berkembang pesat sesuai
dengankebutuhan belajar, proses
belajar (proses edukatif),
assessment, sasaran, dantantangan lainnya (dunia global dll.).
Model
pelatihan pada awalnya berkembang pada dunia usaha terutama melalui magang
tradisional, dalam sebuah magang tradisional kegiatan belajar
membelajarkan dilakukan
oleh seorang warga
belajar (sasaran didik)
dan seorang sumber
belajar (tutor),
maka dalam perkembangan
selanjutnya interaksi edukatif
yang terjadi tidak hanya melalui
perorangan akan tetapi terjadi melalui
kelompok warga belajar (sasaran didik, sasaran
pelatihan) yang memiliki
kebutuhan dan tujuan
belajar yang sama dengan seorang,
dua orang, atau lebih
pelatih (sumber belajar,
trainers).
Salah satu konsep
mengapa model pelatihan dibangun adalah sangat bergantung
pada kondisi itu (warga belajar, sasaran
didik dan pelatih/tutor). Hal
tersebut sangat beralasan karena kebutuhan dan
tujuan pelatihan dapat
tercapai apabila warga belajar, tutor
saling mema hami, menghargai,
pengertian dan saling
membelajarkan satu
dengan lainnya.[30]
Di dalam
dunia usaha model pelatihan (Training) dibangun
atas dasar kebutuhan
peningkatan
produksi,memperluas
pemasaran, dan kemampuan
perusahaan dalam memantapkanpengelolaan unit
usaha itu sendiri.[31] Interaksi
edukatif yang terjadi
pada modelpelatihan itu
adalah adanya interaksi
edukatif antara tiga
kelompok orang dalam kegiatan belajarnya.
Kelompok pertama,
adalah orang-orang yang
telah memiliki keahlian dalam
bidang usaha. Merekalah
yang me nguasai pengetahuan
dan keterampilan
untuk meningkatkan produksi,
pengadaan bahan Baku,
dan pemilikan Dana. Kelompok
kedua, yakni orang-orang
yang telah memiliki
keahlian sebagaimana
keahlian kelompok pertama. Keahlian itu mereka peroleh dengan belajar dari kelompok
pertama, namun mereka tidak memiliki
modal usaha. Kelompok ketiga adalah orang-orang
yang belum memiliki
keahlian sebagaimana keahlian
yang telah dimiliki oleh
orang pertama dan kedua.
Orang-orang yang termasuk
pada kelompok ketiga ini
sedang belajar dari
kelompok pertama dan atau
kelompok kedua pada saat mereka bekerja
di perusahaan. Dengan
kata lain mereka
belajar sambil bekerja. Kondisi dan
perkemba ngan interaksi edukatif
tersebut terjadi
pada abad pertengahan,
ketika dunia industri
mulai berkembang. (Abad pertengahan
sampai awal abad ke-19)[32]
Sejak masa
rintisan sampai masa
sekarang latihan terus
tumbuh dan berkembang, Latihan
dilakukan oleh berbagai
lembaga pemerintah, badan-badan swasta, dan
organisasi kemasyar akatan lainnya.
Lembaga-lembaga pemerintah baik yang berstatus
departemen maupun non-departemen, menyelenggarakan pelatihan dalam
berbagai bidang terutama
yang berhubungan dengan
tugasnya, latihan tersebut di antaranya
bertujuan meningkatkan
kemampuan staf dan petugas
dalam lingkungan mereka masing-masing. Beberapa
kategori dan model pelatihan
yang dilakukan
lembaga pemerintah departemen
dan non-departemen di antaranya
adalah dalam
bentuk: pre-service
training (pra jabatan), in-service training (latihan dalam jabatan) dan social service
training (latihan
dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat).
Pelatihan-pelatihan tersebut di antaranya
berdasar pada konsep kebutuhan
jabatan dan atau self-actualisation.
Perkembangan pelatihan
sehingga melahirkan model-model
pelatihan yang sederhana sampai
pada model pelatihan
yang kompleks sangat
bergantung pada budaya ma nusia
(masyarakat itu sendiri).
Terutama yang berkaitan dengan
dunia pendidikan (belajar), usaha, manajemen,
teknologi, masyarakat dll.).
Suatu model
pelatihan dianggap efektif manakala mampu dilandasi kurikulum, pendekatan dan
strategi yang sesuai
dengan kebutuhan belajar
sasaran didik dan permasalahan-permasalahan yang
terjadi di tengah-tengah nya. Untuk
itu diperlukan persyaratan khusus
dalam membangun sebuah
model pelatihan yang
efektif dan efesien. Persyaratan
tersebut diantaranya adalah
kebutuhan belajar peserta
pelatihan (sasaran didik, warga belajar
dll.) istilah tersebut dalam dunia
pendidikan luar sekolah dikenal dengan
TNA (Training Needs
Asse ssment), SMA (Subject
Matter AnAlysis) dan ATD.[33]
Pelatihan berdasar pada kebutuhan (Training Needs Assessment)
Kebutuhan pelatihan sangat
berkaitan erat dengan
kebutuhan belajar, kebutuhan belajar
diartikan dengan kesenja
ngan kemampuan di
antara kemampuan yang telah
dimiliki dengan kemampuan yang
dituntut, atau dipersyaratkan dalam kehidupan sasaran
didik (peserta pelatihan).
Kemampuan tersebut
menyangkut kemampuan pengetahuan, sikap,
nilai, dan tingkah
laku sesuai dengan
aspek yang menjadi konteks
perhatian. Apabila kita
sedang berbicara dalam
kaitannya dengan peserta pelatihan
(sasaran), maka kebutuhan
peserta pelatihan (sasaran)
tersebutsangat berkaitan dengan
pengetahuan, keterampilan dan
sikap yang berlaku
pada kehidupannya
atau pada dunia kerjanya. Kebutuhan belajar
pada peserta pelatihan
(sasaran) (manusia) dapat berkembang, bertambah
dan berkurang, bahkan
dapat secara berkelanjutan
dan berganti-ganti.[34]
Terpenuhinya suatu
kebutuhan, dapat menjadi
potensi untuk melahirkan kebutuhan
baru yang kedudukannya
lebih tinggi. Apabila
peserta pelatihan
(sasaran) telah memperoleh
kemampuan membaca (sebagai
kebutuhan dasar),
kemudian dia menilai
kemampuan membaca dirinya,
setelah tahu bahwa
dia mampu,
dia akan berlanjut
untuk mengetahui secara
mendalam isi buku
yang ditemuinya.
Begitu pula apabila
peserta pelatihan (sasaran)
telah memahami pengetahuan dasar,
maka secara langsung
akan melakukan self-assessment dan hasil assessment tersebut akan menjadi modal
untuk mengetahui pengetahuan
yang lebih tinggi di atasnya. Akan
tetapi di balik
itu kebutuhan akan
berubah bertambah dan berkurang, hal
ini diakibatkan oleh
keterba tasan peserta pelatihan
(sasaran) dalam memandang penting atau tidaknya pengeta huan untuk
diri sendiri, serta
kemauan dan kemampuan dalam memahami diri. [35]
Oleh karena
itu kebutuhan belajar
yang tumbuh dalam
diri menuntut adanya program
belajar yang dapat
memenuhinya. Begitu pula keaneka
ragaman kebutuhan belajar yang
dirasakan menuntut adanya
program belajar yang
lebih aktif dan beraneka ragam
pula. Sehingga usaha
penetapan kebutuhan belajar
perlu ada usaha untuk melakukan
identifika sinya (approaches to
training and development dan need assessment pendekatan untuk pelatihan dan pengembangan dan penilaian
kebutuhan). Beberapa teknik
TNA ya ng dapat
dikenali diantaranya adalah
:interviewing, Observing, working with groups, and writing
questioners and surveys. mewawancarai,
mengamati, bekerja dengan kelompok, dan menulis kuesioner dan survei
Ada 3 model
pelatihan yang sering digunakan yaitu sebagai berikut : [36]
1. Model Sistem
Model system ini bentuk dari pelatihan ini
dilaksanakan dan serta di upayakan dari awal tidak terjadi kesalahan, agar pada
tahap akhir dapat dipastikan tujuan dari model pelatihan ini menjadi berhasil. Model
sistem terdiri dari lima tahap, yaitu :
Analisis dan identifikasi: dengan menganalsisi
serta identifikasi kebutuhan dari pelatihan itu sendiri seperti menganalisis
departemen, kebutuhan karyawan yang membutuhkan pelatihan serta memperkirakan
biaya pelatihan dan langkah selanjutnya dengan evaluasi kinerja yang actual
karena untuk mengembangkan kinerja.
Merancang: Desain dan memberikan pelatihan
untuk memenuhi kebutuhan yang telah diidentifikasi. Langkah ini mengharuskan
pengembangan tujuan pelatihan,mengidentifikasi langkah belajar, sequencing dan
penataan isi.
Mengembangkan:dimanafase ini membutuhkan
daftar kegiatan dalam program pelatihan yang akanmembantu para peserta untuk
belajar, memilih metode pengiriman, memeriksa
materidan memvalidasi informasi.
Penerapan:Menerapkan adalah bagian tersulit
dari sistem karena satu langkah yang salah dapat menyebabkan kegagalan program
pelatihan.
Evaluasi: Mengevaluasi setiap fase sehingga
untuk memastikan itu telah mencapai tujuannya
2. Model
Pengembangan Sistem Pembelajaran (Instructional system development model)
Dalam model ISD ini juga terdapat 5 tahapan,
kelima tahapan tersebut hampir sama dengan sistem model dan model ini dapat
membantu dan menentukan serta mengembangkan strategi yang menguntungkan,
mengurutkan konten dan memberikan media jenis tujuan pelatihan yang di capai.
IDS terdapat adanya Tahapan atau proses-proses yaitu:Analisis kebutuhan, Perencanaan
pelatihan, Pengembangan materi, Pelaksanaan diklat tersebut, Evaluasi diklat[37]
3.
Model Transisional
Model transisi berfokus pada organisasi secara
keseluruhan. Dalam pelaksanaan diklat ini berjalannya sesuai dengan pada visi,
misi dan value organisasi yang melaksanakan diklat. Dan diklat ini dapat
terlaksana apabila pimpinan dapat memyatuak persepsi untuk mencapai yang telah
dirumuskan di dalam visi, misi dan nilai
dalam organisasi.[38]
Visi
yaitu fokus pada satu titik bahwa organisasi bertujuan untuk mencapaisesuatu
setelah waktu tertentu. Pernyataan visi memberi informasi dimana organisasi
melihat dirinya untuk beberapa tahun ke depan. Visi mungkin termasuk pengaturan
panutan, atau membawa beberapa transformasi internal atau bertemu dengan
beberapa tenggang waktu lainnya.
Misi
yaitu menjelaskan keberadaan organisasi. Alasan untuk mengembangkan pernyataan
misi adalah untuk memotivasi, menginspirasi, dan menginformasikan karyawan
tentang organisasi. Pernyataan misi menceritakan bagaimana organisasi ingin
dilihat oleh pelanggan, karyawan, dan semua pemangku kepentingan lainnya.
Nilai, adalah terjemahan dari visi dan misi
menjadi cita-cita atau tujuan yang dingin dicapai yang mencerminkan nilai-nilai
yang di pegang teguh organisasi dan independen dari lingkungan industri pada
saat ini. Pada Model Transisional ini
menganggap organisasi secara keseluruhan serta tujuannya untuk menjaga tiga hal
dalam pikiran sampai model pelatihan selanjutnya dilaksanakan.
Terdapat 5 fase (pengulangan yang mengacu pada
peningkatan) yaitu:
a.
Analyze & identify job skripsi
b.
Design & provide training
c.
Develop
d.
Implementing
e.
Evaluating
6.
Participatory training
a. Pengertian Partisipasi
Dilihat dari segi etimologi, kata partisipasi
berasal dari bahasa Belanda”Participare”. Dalam bahasa Inggris kata
partisipasi adalah ”participations” berasal dari bahasa latin yaitu ”participatio”.
Perkataan participare terdiri daridua suku kata, yaitu part dan cipare. Kata
part artinya bagian dan kata cipareartinya ambil. Jika dua suku kata tersebut
disatukan berarti ambil bagian, turutserta. Dalam hal ini turut serta atau
bagian siswa yang memiliki hobi atau kesenangan bermain sepakbola di sekolah.
Melalui berbagi aktivitas gerak yangmemiliki tujuan kearah yang lebih baik.
yaitu dengan ditandainya ada perubahandalam hal kognitif, afektif, dan
psikomotor siswa.[39]
Partisipasi adalah penyetaraan mental dan emosi dalam situasi kelompok yang
mendorong mereka untuk mengembangkandaya pikir dan perasaan mereka bagi
tercapainya tujuan-tujuan, bersama bertanggung jawab terhadap tujuan tersebut[40].
Menurut Kafler partisipasi adalah keikutsertaan seseorang dalam suatu kegiatan
yang mencurahkan baik secara fisik maupun mental dan emosional. partisipasi
fisik merupakan partisipasi yang langsung ikut serta dalam kegiatan tersebut,
sedangkan partisipasi secara mental dan emosional merupakan partisipasi dengan
memberikan saran, pemikiran, gagasan, dan aspek mental lainnya yang menunjang
tujuan yang diharapkan”.[41]
Sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokratis dimana orangdilibatkan
dan diikutsertakan dalam perencanaan serta pelaksanaan dan juga ikutmemikul
tanggung jawab sesuai tingkat kematangan dan tingkat kewajiban.Partisipasi itu
menjadi lebih baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidangmental serta penentuan
kebijaksanaan. Partisifasi merupakan keterlibatan mental dan emosi serta fisik
anggotadalam memberikan inisiatif terhadap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
olehsuatu organisasi serta mendukung mencapai tujuan bertanggung jawab
atasketerlibatannya.[42]
Dari pengertian
partisipasi di atas dapat diambil suatu kegiatan tertentu.Bukan saja hanya ikut
serta tetapi keterlibatan emosional, mental serta fisik anggota dalam memberikan
saran ide, kritik, serta inisiatif terhadap kegiatan-kegitan yang dilaksanakan.
Serta mendukung pencapaian tujuan serta bertanggung jawab atas keterlibatannya.
Dalam hal kajian ini partisipasi yang dimaksud adalah partisipasi siswa
terhadap tingkat partisipasi bermain sepakbola. Partisipasi adalah
keikutsertaan, peranserta atau keterlibatan yangberkaitan dengan keadaan
lahiriahnya.[43]
Cristovao mengatakan bahwa ”Participation becomes, then, peoples involvement
in reflection and action, a process of empowerment and active involvement in
decision making throughout a programme, and access and control over resources
and institutions Partisipasi menjadi, kemudian, keterlibatan masyarakat dalam
refleksi dan tindakan, sebuah proses pemberdayaan dan keterlibatan aktif dalam
pengambilan keputusan selama sebuah program, dan akses dan kontrol atas sumber
daya dan institusi.”. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat
berperan secara aktifdalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya,
mulai dari tahapsosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan
denganmemberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (PTO PNPMPPK, 2007). Hoofsteede
menyatakan bahwa: ‘‘patisipasi adalah the taking partin one ore more phases
of the process” mengambil bagian dalam satu atau beberapa tahap proses. Sedangkan Keith Davis menyatakan bahwa patisipasi “as mental and
emotional involment of persons of person in a group situation which encourages
him to contribute to group goals and share responsibility in them” sebagai keterlibatan mental dan emosional orang-orang
dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk berkontribusi pada tujuan
kelompok dan berbagi tanggung jawab di dalamnya.[44]
Verhangen dalam Mardikanto menyatakan bahwa,“partisipasi merupakan suatu
bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yangberkaitan dengan pembagian:
kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat”.Theodorson dalam Mardikanto
mengemukakan bahwa “dalam pengertiansehari-hari, partisipasi merupakan
keikutsertaan atau keterlibatan seseorang(individu atau warga masyarakat) dalam
suatu kegiatan tertentu”. Keikutsertaanatau keterlibatan yang dimaksud di sini
bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktifditujukan oleh yang bersangkutan.
Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepatdiartikan sebagi keikutsertaan
seseorang di dalam suatu kelompok sosial untukmengambil bagian dalam kegiatan
masyarakatnya, di luar pekerjaan atauprofesinya sendiri. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terhadap tumbuh dan berkembangnyapartisipasi dapat didekati dengan
beragam pendekatan disiplin keilmuan. Menurutkonsep proses pendidikan,
partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responsesatas rangsangan-rangsangan
yang diberikan yang dalam hal ini, tanggapan merupakan fungsi dari manfaat (rewards)
yang dapat diharapkan.Partisipasi masyarakat menurut Hetifah Sj. Soemarto adalah : proses ketika warga sebagai individu maupun
kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses
perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung
mempengaruhi kehiduapan mereka.[45]
Pelatihan partisipasi adalah pelatihan yang mengikut sertakan peserta
pelatihan atau keterlibatan yangberkaitan dengan keadaan lahiriahnya pelatihan
partisipasi adalah pelatihan dimana peserta berperan secara aktifdalam proses
atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahapsosialisasi,
perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan denganmemberikan sumbangan
tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill[46]
Model pelatihan partisipatif adalah model yang menekankan pada proses pelatihan,
di mana kegiatan belajar dalam pelatihan dibangun atas dasar partisipasi aktif
(keikut sertaan) peserta pelatihan dalam semua aspek kegiatan pelatihan, mulai
dari kegiatan merencanakan, melaksanakan, sampai pada tahap menilai kegiatan
pembelajaran dalam pelatihan. Upaya yang dilakukan pelatih pada prinsipnya
lebih ditekankan pada motivasi dan melibatkan kegiatan peserta.
Mnegenai beberapa perkara sangat penting adanya partisipasi masyarakat karena
ada tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting
bagi hal tersebut. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat
guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat,
tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek- proyek akan gagal, alasan
kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program
pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya,
karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai
rasa memiliki terhadap poyek tersebut. Alasan ketiga yang mendorong
adanya partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan
suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat
mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development
yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia.
b. Tipologi Partisipasi
Penumbuhan dan pengembangan partisipasi seringkali terhambat olehpersepsi
yang kurang tepat, yang menilai masyarakat “sulit diajak maju” olehsebab itu
kesulitan penumbuhan dan pengembangan partisipasi juga disebabkankarena sudah
adanya campur tangan dari pihak penguasa.
Berikut adalah macam tipologi partisipasi:[47]
a) Partisipasi Pasif / manipulatif
dengan karakteristik diberitahu
apa yang sedang atau telah terjadi, pengumuman sepihak oleh pelaksanaan proyek
tanpa memperhatikan tanggapan masyarakat dan informasi yang diperlukan terbatas
pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran.
b) Partisipasi Informatif
memiliki karakteristik
dimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, masyarakat tidak diberi
kesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penelitian.
c) Partisipasi konsultatif
dengan karateristik siswa
berpartisipasi dengan cara berkonsultasi, tidak ada peluang pembatasan
keputusan bersama.
d) Partisipasi intensif
memiliki karakteristik
yang memberikan korbanan atau jasanya untuk memperoleh imbalan berupa
intensif/upah. siswa tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran atau
eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan siswa tidak memiliki andil untuk
melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah intensif dihentikan.
e) Partisipasi Fungsional
memiliki karakteristik
yang membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek, pembentukan kelompok
biasanya setelah ada keputusan-keputusan utama yang disepakati, pada tahap awal
tergantung terhadap pihak luar namun secara bertahap menunjukkan
kemandiriannya.
f) Partisipasi interaktif
memiliki ciri dimana kita
berperan dalam analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan penguatan
kelembagaan dan cenderung melibatkan metoda interdisipliner yang mencari
keragaman prespektik dalam proses belajar mengajar yang terstuktur dan
sisteatis. Kitapun memiliki peran untuk mengontrol atas (pelaksanaan)
keputusan- keputusan merek, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses
kegitan.
g) Self mobilization (mandiri)
memiliki karakter yang
mengambil inisiatif sendiri secara bebas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar)
untuk mengubah sistem atau nilai-nilai yang mereka miliki. Maka kita
mengambangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan
bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang diperlukan.
c. Tahap-Tahap Partisipasi
Uraian dari masing-masing tahapan partisipasi adalah sebagai berikut :[48]
a) Tahap partisipasi dalam pengambilan keputusan
Pada umumnya, setiap
program pembangunan masyarakat (termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan
alokasi anggarannya) selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat, yang
dalam hal ini lebih mencerminkan sifat kebutuhan kelompok-kelompok elit yang
berkuasa dan kurang mencerminkan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak.
Karena itu, partisipasi dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya
forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung di dalam
proses pengambilan keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah
setempat atau di tingkat lokal.
b) Tahap partisipasi dalam perencanaan kegiatan
Dalam masalah tahapan
partisipasi ada tiga tingkatan yaitu : partisipasi dalam tahap perencanaan,
partisipasi dalam tahap pelaksanaan, partisipasi dalam tahap pemanfaatan.
Partisipasi dalam tahap perencanaan merupakan tahapan yang paling tinggi
tingkatannya diukur dari derajat keterlibatannya. Dalam tahap perencanaan,
orang sekaligus diajak turut membuat keputusan yang mencakup merumusan tujuan,
maksud dan target. Salah satu metodologi perencanaan pembangunan yang baru adalah
mengakui adanya kemampuan yang berbeda dari setiap kelompok masyarakat dalam
mengontrol dan ketergantungan mereka terhadap sumber-sumber yang dapat diraih
di dalam sistem lingkungannya. Pengetahuan para perencana teknis yang berasal
dari atas umumnya amat mendalam. Oleh karena keadaan ini, peranan masyarakat
sendirilah akhirnya yang mau membuat pilihan akhir sebab mereka yang akan
menanggung kehidupan mereka. Oleh sebab itu, sistem perencanaan harus didesain
sesuai dengan respon masyarakat, bukan hanya karena keterlibatan mereka yang
begitu esensial dalam meraih komitmen, tetapi karena masyarakatlah yang
mempunyai informasi yang relevan yang tidak dapat dijangkau perencanaan teknis
atasan.
c) Tahap partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan
Partisipasi masyarakat
dalam pembangunan, seringkali diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak
(yang umumnya lebih miskin) untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya di
dalam kegiatan pembangunan. Di lain pihak, lapisan yang ada di atasnya (yang
umumnya terdiri atas orang kaya) yang lebih banyak memperoleh manfaat dari
hasil pembangunan, tidak dituntut sumbangannya secara proposional. Karena itu,
partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan pembangunan harus diartikan
sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja, uang tunai,
dan atau beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan
diterima oleh warga yang bersangkutan.
d) Tahap partisipasi dalam pemantauan dan
evaluasi kegiatan
Kegiatan pemantauan dan
evaluasi program dan proyek pembangunan sangat diperlukan. Bukan saja agar
tujuannya dapat dicapai seperti yang diharapkan, tetapi juga diperlukan untuk
memperoleh umpan balik tentang masalah- masalah dan kendala yang muncul dalam
pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan. Dalam hal ini, partisipasi
masyarakat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan
serta perilaku aparat pembangunan sangat diperlukan[49]
e) Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil
kegiatan Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan, merupakan unsur
terpenting yang sering terlupakan. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk
memperbaiki mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan
merupakan tujuan utama. Di samping itu, pemanfaaatan hasil pembangunan akan
merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk Selalu berpartisipasi
dalam setiap program pembangunan yang akan datang.[50] Tingkat Kesukarelaan Partisipasi
Dusseldorp membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaansebagai berikut:
a) Partisipasi spontan, yaitu peranserta yang
tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman, penghayatan, dan
keyakinannya sendiri.
b) Partisipasi terinduksi, yaitu peranserta yang
tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan,
pengaruh, dorongan) dari luar; meskipun yang bersangkutan tetap memiliki
kebebasan penuh untuk berpartisipasi.
c) Partisipasi tertekan oleh kebiasaan, yaitu
peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana
layaknya warga masyarakat pada umumnya, atau peranserta yang dilakukan untuk
mematuhi kebiasaan, nilai- nilai, atau norma yang dianut oleh masyarakat
setempat. Jika tidak berperanserta, khawatir akan tersisih atau dikucilkan
masyarakatnya.
d) Partisipasi tertekan oleh alasan
sosial-ekonomi, yaitu peranserta yang dilakukan karena takut akan kehilangan
status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari
kegiatan yang dilaksanakan.
e) Partisipasi tertekan oleh peraturan, yaitu
peranserta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari peraturan/ketentuan-ketentuan
yang sudah diberlakukan.
d. Syarat tumbuh partisipasi
menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi, sangat ditentukan
oleh 3 (tiga) unsur pokok, yaitu:[51]
a) Adanya kemauan yang diberikan kepada kita,
untuk berpartisipasib. Adanya kesempatan kita untuk berpartisipasic. Adanya
kemampuan kita untuk berpartisipasi Lebih rinci Slamet menjelaskan tiga
persyaratan yang menyangkutkemauan, kemampuan dan kesempatan untuk
berpartisipasi adalah sebagaiberikut:
1) Kemauan Secara psikologis kemauan
berpartisipasi muncul oleh adanya motif intrinsik (dari dalam sendiri) maupun
ekstrinsik (karena rangsangan, dorongan atau tekanan dari pihak luar). Tumbuh
dan berkembangnya kemauan berpartisipasi sedikitnya diperlukan sikap-sikap
yang:Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan. 2) Sikap
terhadap penguasa atau pelaksana pembangunan pada umumnya. 3) Sikap untuk
selalu ingin memperbaiki mutu hidup dan tidak cepat puas sendiri. 4) Sikap
kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah, dan tercapainya tujuan pembangunan.
5) Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu
hidupnya.
2) Kemampuan Beberapa kemampuan yang dituntut
untuk dapat berpartisipasi dengan baik itu antara lain adalah: 1) Kemampuan
untuk mengidentifikasi masalah. 2) Kemampuan untuk memahami
kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. 3) Kemampuan untuk
melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta
sumber daya lain yang dimiliki kemampuan adalah kapasitas individu melaksanakan
berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Lebih lanjut Robbins menyatakan pada
hakikatnya kemampuan individu tersuusun dari dua perangkat faktor yaitu
kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.[52]
3) Kesempatan Berbagai kesempatan untuk
berpartisipasi ini sangat dipengaruhi oleh: 1) Kemauan politik dari
penguasa/pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan. 2)
Kesempatan untuk memperoleh informasi. 3) Kesempatan untuk memobilisasi dan memanfaatkan
sumberdaya. 4) Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi tepat
guna. 5) Kesempatan untuk berorganisasi, termasuk untuk memperoleh dan
mempergunakan peraturan, perizinan dan prosedur kegiatan yang harus
dilaksanakan. 6) Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu
menumbuhkan, menggerakkan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi
masyarakat dalam pembangunan.
Sementara Mardikanto
menyatakan bahwa pembangunan yangpartisipatoris tidak sekedar dimaksudkan untuk
mencapai perbaikan kesejahteraanmasyarakat (secara material), akan tetapi harus
mampu menjadikan wargamasyarakatnya menjadi lebih kreatif. Karena itu setiap
hubungan atau interaksiantara orang luar dengan masyarakat sasaran yang
sifatnya asimetris (seperti:menggurui, hak yang tidak sama dalam berbicara,
serta mekanisme yangmenindas) tidak boleh terjadi. Dengan dimikian, setiap
pelaksanaan aksi tidakhanya dilakukan dengan mengirimkan orang dari luar ke
dalam masyarakatsasaran, akan tetapi secara bertahap harus semakin memanfaatkan
orang-orangdalam untuk merumuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam
masyarakatnyasendiri.
Mardikanto menjelaskan
adanya kesempatan yang diberikan, seringmerupakan faktor pendorong tumbuhnya
kemauan, dan kemauan akan sangatmenentukan kemampuannya
e. Ciri-ciri partisipasi
Seseorang yang ikut serta berpartisipasi dalam suatu kegiatan
memilikiciri-ciri yang dijadikan barometer atau tolak ukur keikutsertaanya
itu.Beberapa yang ikut serta seseorang dalam kegiatan dijelaskan oleh bahwa
seseorang berpartisipasi terhadap suatu kegiatan memilkibeberapa ciri antara
lain: [53]
a) Secara langsung ikut dalm proses kegiatan
b) Memiliki keputusan untuk mncapai tujuan yang
telah ditentukan
c) Memberikan tanggapan dan saran dalam proses
kegiatan
d) Memberikan informasi tentang segala sesuatu
dalam usaha membuat
e) Keputusan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan
f) Terdapat kesempatan untuk ikut memiliki
kegiatan tersebut
g) Memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan
h) Merasakan manfaat dari hasil kegiatan
Selanjutnya Siswanto menjelaskan tentang
ciri-ciri orang yangberpartisipasi khususnya dalam suatu organisasi memiliki
ciri-ciri antara lain: [54]
a) Jarang tidak hadir dalam suatu kegiatan
organisasi
b) Memiliki tujuan jelas
c) Bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya
d) Memberikan info tentang tugasnya,
e) Melaksanakan sesuai dengan aturan yang
digariskan dalam organisasi.
f.
Manfaat Partisipasi
Keith Davis mengemukakan manfaat prinsipil partisipasi, yaitu:
a) Lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang
benar.
b) Dapat digunakan kemampuan berfikir kreatif
dari para anggotanya.
c) dapat mengendalikan dnilai-nilai martabat
manusia, motivasi serta membangun kepentingan bersama/
d) Lebih mendorong seseorang untuk lebih
bertanggung jawab,
e) Lebih memungkinkan untuk mengikuti perubahan.
g. Mengukur Tingkat Partisipasi
Untuk mengukur partisipasi seseorang atau sekolah terhadap suatu kegiatan
yaitu melalui tes. Mengenai tes di jelaskan oleh Rusli Lutan sebagai berikut:”Sebuah tes adalah sebuah instrumen
yang dipakai untuk memperoleh tentangseseorang atau objek”. Selanjutnya Muchis Yahya mengemukakan
bahwa untukmengukur partisipasi anggota antara lain:
a) Kerajinan dan ketepatan membayar simpanan
b) Seringnya menghadiri kegiatan
c) Seringnya menghadiri rapat
d) Motivasi anggota
Dari laporan lapangan Majalah Prisma no.6 tahun X Juni 1981 dapat
disimpulkan bahwa untuk mengukur partisipasi ditentukan oleh beberapa halsebagai
berikut ini:
a) Kritik, usul, saran, dan pendapat dari anggota
yang terbuka
b) Ketepatan melaksanakan tugas dan kewajiban
c) Kehadiran dalam rapat
d) Kesediaan anggota untuk berkorban.
7.
Penegrtian konsep
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep berarti; pengertian,
gambaran mental dari objek, proses, pendapat (paham), rancangan (cita-cita)
yang telah dipikirkan.[55]
Agar segala kegiatan berjalan dengan sistematis dan lancar, dibutuhkan suatu
perencanaan yang mudah dipahami dan dimengerti. Perencanaan yang matang
menambah kualitas dari kegiatan tersebut. Di dalam perencanaan kegiatan yang
matang tersebut terdapat suatu gagasan atau ide yang akan dilaksanakan atau
dilakukan oleh kelompok maupun individu tertentu, perencanaan tadi bisa
berbentuk ke dalam sebuah peta konsep
Pada dasarnya konsep merupakan abstraksi dari suatu gambaran ide,
atau menurut Kant yang dikutip oleh Harifudin Cawidu yaitu gambaran yang
bersifat umum atau abstrak tentang sesuatu.[56]
Fungsi dari konsep sangat beragam, akan tetapi pada umumnya konsep memiliki
fungsi yaitu mempermudah seseorang dalam memahami suatu hal. Karena sifat
konsep sendiri adalah mudah dimengerti, serta mudah dipahami.[57]
Adapun pengertian konsep menurut para ahli:4
1.
Soedjadi, mengartikan konsep ke
dalam bentuk atau suatu yang abstrak untuk melakukan penggolongan yang nantinya
akan dinyatakan kedalam suatu istilah tertentu.
2.
Bahri, konsep adalah suatu
perwakilan dari banyak objek yang memiliki ciri-ciri sama serta memiliki
gambaran yang abstrak.
3.
Singarimbun dan Efendi, konsep
adalah suatu generalisasi dari beberapa kelompok yang memiliki fenomena
tertentu sehingga dapat digunakan untuk penggambaran fenomena lain dalam hal
yang sama. Adapun konsep yang dimaksud dalam penelitian ini berdasarkan uraian
di atas adalah gambaran umum atau abstrak tentang model pelatihan ushul fikih.
B. Penelitian yang relevan
Beberapa penelitian telah dilakukan seblumnya menunjukkan bahwa adanya
pelatihan dan disiplin kerja sangat membantu kinerja karyawan dalam pencapaian
suatu tujuan perusahaan. Sehingga perusahaan tersebut dapat berjalan dengan
baik dan mempunyai karyawan yang benar – benar mempunyai skill dibidangnya
masing – masing. Dalam penelitian ini,
penulis mencoba mengambil rujukan dari beberapa penelitian sebelumnya yang
mempunyai kaitan yang kurang lebih sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
penulis. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pendalaman mengenai topik
penelitian yang akan dilakukan. Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan
dengan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 2.1 penelitian yang relevan
|
no |
Nama peneliti |
Variabel penelitian |
Judul penelitian |
Metode penelitian |
Hasil penelitian |
|
1. |
Afni |
Pelatihan disiplin kerja, motivasi kerja, dan produktivitas karyawan |
Pengaruh Pelatihan, Disiplin Kerja, Dan Motivasi Terhadap Produktivita s
Kerja Karyawan CV. Sapu Dunia Semarang |
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kuantitatif. |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pelatihan, disiplin kerja,
dan motivasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap variabel produktivitas
kerja sehingga hipotesis diterima. Nilai koefisien determinasi sebesar 69,3
persen menunjukkan 39 bahwa variabel pelatihan, disiplin kerja, dan motivasi memberi pengaruh
sebesar 69,3 persen terhadap produktivitas kerja. Sedangkan sisanya 30,7
persen adalah pengaruh dari variabel lain yang tidak diamati pada tabel
signifikan variabel pelatihan 0,000 , disiplin kerja 0,000 dan motivasi 0,029 |
|
02 |
Titin Olga Silvia |
Pelatihan, Disiplin, dan Kinerja Pegawai. |
Pengaruh Pelatihan Dan Disiplin Terhadap Kinerja Pegawai Kesehatan
Kabupaten Dharmasray a |
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dan kausatif dengan menggunaka n program SPSS. |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh signifikan antara
variabel disiplin terhadap kinerja pegawai dinas kesehatan kabupaten
Dharmasraya dengan nilai t hitung4.497 > 1.995, dan tingkat signifikan
sebesar 0.000 < 0.05. |
|
|
|
|
|
|
|
C. Kerangka pemikiran
Model Latihan
Partisipatif (Participatory training Model). Model latihan ini mencakup 10
langkah kegiatan berurutan
yang dapat digambarkan sebagai berikut. Model pelatihan ini
sebenarnya merupakan pembaharuan
(inovasi) dari model-model yang telah
diuraikan terdahulu. Model
pembelajaran partisipatif sebenarny menekankan pada
proses pembelajaran, dimana
kegiatan belajar dalam
pelatihan dibangun
atas dasar partisipasi
aktif (ke ikut sertaan)
peserta pelatihan dalam
semua aspek
kegiatan pelatihan, mulai
dari kegiatan merencanakan,
melaksanakan, sampai pada tahap
menilai kegiatan pembelajaran
dalam pelatihan. Upaya
yang dilakuka pelatih pada
prinsipnya lebih dite kankan
pada motivasi dan
melibatkan kegiatan
pada awal kegiatan pelatihan inte nsitas
peranan pelatih adalah
tinggi : Peranan ini
ditampilkan dalam membantu
peserta dengan menyajikan informasi mengenai bahan ajar (bahan latihan) dan dengan
melakukan motivasi dan
bimbingan kepada peserta.
Intensitas kegiatan pelatih (sumber)
makin lama makin
menurun sehingga perannya
lebih diarahkan untuk memantau
dan memberikan umpan
balik terhadap kegiatan
pelatihan dan sebaliknya kegiatan peserta
pada awal kegiatan
rendah, kegiatan awal
ini digunakan hanya untuk
menerima bahan pelatihan,
informasi, petunjuk, bahan-bahan,
langkah- langkah kegiatan dll.
Kemudian partisipasi warga
makin lama makin
menaik tinggi dan aktif
membangun suasana pelatihan yang lebih bermakna.
D. Rancangan model
Bagan 2.1 rancangan model

BAB III
METODE
PENELITIAN
A.
Pendekatan
Penelitian
1.
Jenis Penlitian
Demi
memperoleh hasil yang baik dan berkualitas dalam penelitian, maka haruslah
mengikuti aturan-aturan dan metode penelitian pada umumnya. Metode merupakan
cara paling bijak guna mencapai suatu tujuan penelitian. Suatu tujuan tidak
akan lepas dari adanya metode dalam rangka mengumpulkan data pada suatu
penelitian.[58]
Metode
penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan
tujuan dan kegunaan tertentu.[59]
Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang diperhatikan yaitu :
a)
Cara ilmiah berarti kegiatan
penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, emperis, dan
sistematis.
b)
Rasional berarti kegiatan yang
dilakukan dengan cara-cara yang masuk
akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.
c)
Empiris berarti cara-cara yang
dilakukan dapat diamati oleh panca indra manusia, sehingga orang lain dapat
mengamati dan mengetahui cara yang digunakan.
d)
Sistematis berarti proses yang
dilakukan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang
bersifat logis.
Pendekatan diartikan juga sebagai sudut pandang peneliti terhadap
permasalahan dalam pnelitian, yang di dalamnya diperlukan metode untuk mencapai
suatu tujuan yang diharapkan. Berdasarkan permasalahan yang diteliti,
pendekatan penelitian yang dipilih adalah penelitian pengembangan, karena yang
diperlukan dari kegiatan penelitian tersebut berupa data-data deskriptif dan
menghasilkan produk tertentu yang diharapkan.[60]
Metode penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan
pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi dasar, pandangan-pandangan
filosofi, pertanyaan, dan isu-isu yang dihadapi dalam penelitian. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau Risearch
and Development (R&D). Penelitian dan pengembangan merupakan metode penelitian
yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan
produk tersebut.[61]
Untuk menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian tertentu
yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut
supaya dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian
pengembangan.
Metode R&Dyang akan dikembangkanoleh peneliti, tahapannya
disesuaikan dengan waktu yang tersedia, kemampuan yang dimiliki, dan kebutuhan
dalam penelitian, namun tidak mengurangi karakteristik serta esensialisasi
dalam R&D. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 1). Studi pendahuluan;
2). Tahap pengembangan; 3). Penetapan produk final.[62]
Secara umum, tahap-tahap penelitian sebagaimana tertulis di atas,
dituangkan dalam bentuk bagan proses R&D sebagai berikut:
bagan 3.1 Prosedur Penelitian dan Pengembangan
Keterangan bagan 3.1 prosedur penelitian dan
pengembangan model pelatihan ushu fikih melalui beberapa tahap yaitu:
a.
Tahap studi pendahuluan
b.
Tahap studi pengembangan
c.
Validasi desain produk
d.
Tahap pertama uji coba terbatas
e.
Revisi produk tahap kedua
f.
Tahap kedua uji coba lebih meluas
g.
Revisi produk tahap kedua
h.
Penetapan produk final
Dalam tahap studi
pendahuluan meliputi tiga hal yakni:
1).
Analisis potensi dan permasalahan
Tahap penting dalam penelitian dan pengembangan adalah analisis
potensi dan masalah. Analisis potensi dan masalah dimaksudkan untuk mendapatkan
jawaban alasan kebutuhan pengembangan dilakukan. Untuk mendapatkan jawaban atas
kebutuhan pengembangan model pelatihan ushul fikih, maka dilakukan dengan: 1)
menganalisis literatur yang mendukung pelatihan ushul fiih 2) analisis
kebijakan atau undang-undang yang mendukung pelatihan ushul fikih 3) analisis
pembelajaran yang mendukung pelatihan ushul fikih dan 4) melakukan penelitian
pendahuluan untuk memetakan kebutuhan pengembangan pelatihan ushul fikih.
Penelitian dapat dilaksanakan dari adanya
potensi atau masalah. Potensi adlah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan
memiliki nilai tambah.[63]
Semua potensi akan berkembang menjadi masalah bila kita tidak dapat
mendayagunakan potensi-potensi tersebut. Namun demikian, masalah juga dapat
dijadikan potensi, apabila kita dapat mendayagunakan.
2).
Menyusun desain pelatihan ushul fikih
Menyususn desain pelatihan usul fikih dengan mengacu pada
kebutuhan-kebutuhan peserta pelatihan dan visi misi lembaga.
3).
Mengumpulkan data dan informasi
Setelah
potensi dan masalah dapat ditunjukan secara faktuall dan uptode, maka
selanjutnya perlu dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai
bahan untuk perenccanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi
masalah tersebut.
Dalam
penelitian ini digunakan empat teknik pengumpulan data yaitu obsrvasi,
wawancara, dan analisa dokumentasi berupa hasil penelitian. Secara rinci,
teknik pengumpulan data diuraikan sebagai berikut:
a)
Obseervasi
Observasi
adalah suatu kegiatan yang memusatkan perhatiannya terhadap obyek dengan
menggunakan alat indera. Pada prinsipnya metode observasi dalam penelitian ini
adalah pengarahan seluruh kemampuan inderawi untuk proses penyelidikan terhadap
segala obyek yang ada.[64]
Dalam kegiatan
observasi ini , peneliti atau tenaga lapangan melakukan pengamatan dilapangan
secara sistematis, kontinyu, objektif dan menyeluruh terhadap fenomena yang
terjadi.[65]
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data pada saat obsrvasi adalah pedoman
atau pedoman observasi. Data yang secara procedural harus dijaring melalui
observasi, misalnya data mengenai manajemen pelatihan ushul
fikih.
Sedangkan
data yang akan diperoleh adalah sebagai berikut :
1)
Perencanaan pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.
2)
Pelaksanaan pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.
3)
Hamabatan dan dukungan pelaksanaan pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo
Situbondo.
b)
Wawancara
Metode
wawancara atau interview adalah percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara
(interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.[66]
Dalam
peneitian ni, penelliti menggunakan jenis interview/wawancara yang menggunakan
kombinasi interview/wawancara bebas dan interview /wawancara terpimpin, yaitu
suatu wawancara bebas yang terjadi dimana pewawancara sudah meniapkan sejumlah
pertanyan (kerangka pertanyaan) yang akan di tanyakan kepada terwawancara, tapi
cara mewawancarai tergantung pada
kemampuan pewawancara.
Dalam
penelitian ini , wawancara dilakukan secara mendalam, terbuka, dengan
memanfa’atkan kedekatan hubungan dengan sumber data. Hal ini dilakukan dengan
megadakan pendekatan terhadap informasi dan mengguakan petunjuk umum wawancara
serta membuat kerangka dan garis besarr pokok-pokok yang akan ditanyakan kepada
terwawancara dalam proses wawancara tersebut.
c)
Dokumen
Metode
dokumenter adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, surat kabar,
majalah, prasasti, notulen rapat, legge, agenda dan sebagainya.[67]
Dokumentasi merupakan penelitian terhadap referensi-referensi yang
berkaitan dengan focus permasalahan penelitian.[68]
Informasi yang dikaji kadang bersumber dari dokumen, misalnya buku, jurnal,
laporan kegiatan, majalah, daftar nilai, notulen rapat, transkrip, prasasti,
peraturan-peraturan, catatan harian dan yang sejenisnya.
Kumpulan data verbal yang berbentuk tulisan disebut dengan dokumen
dalam arti sempit. Sedangkan dokumen dalam arti luas sebagaimana pendapat Ibnu
yang dikutip oleh Moch. Ainin adalah meliputi foto, rekaman, video, disk, dan
monument. Apabila informasi atau data yang akan di analisis itu berupa
document, maka pelaksanaan pengumpulan datanya disebut dengan teknik
dokumentasi.[69]
Dat-data dokumen ini memiliki sifat yang tetap, sehingga apabila
terdapat ketidak sesuaian, mudah untuk di cek kembali. Sifat inilah yang
membedakan data-data dengan data-data yang diperoleh dari hasil meetode yang
lain, yang berbentuk kata-kata atau tindakan dan gejala yang kesemuanya
bersifat labil.
Data yang akan diperoleh
dalam penggunaan teknik ini adalah sebagai berikut:
1)
Konsep pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.
2)
Data pelaksanaan pelatihan dari awal sampai ahir.
3)
Laporan pelaksanaan kegiatan pelatihan ushul fikih Sukorejo Situbondo.
d)
Triangulasi
Triangulasi
diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari
berbagai teknik pengeumpulan data dan sumber data yang telah ada.[70]
Maka apabila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka
sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data,
yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dari
berbagai sumber data.
Berarti
peneliti menggunakan teknik, pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan
data dari sumber yang sama.
B.
LOKASI
PENELITIAN
Penelitian ini berlokasi di Ma’had Aly lembaga kader ahli fikih dan ushul fikih Sukorejo
Situbondo jawa timur.
C.
PROSEDUR
PENGEMBANGAN
Dalam usaha mengembangkan model
pelatihan ushul fikih ialah memalui beberapa tahap sesuai dengan teori pengembangan yaitu:
a. Tahap studi pendahuluan
b. Tahap studi pengembangan
c. Validasi desain produk
d. Tahap pertama uji coba terbatas
e. Revisi produk tahap kedua
f. Tahap kedua uji coba lebih meluas
g. Revisi produk tahap kedua
h. Penetapan
produk final
1.
Studi
Pendahuluan
Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan
keagamaan formal, pesantren-pesantren lain secara umum merupakan wahana
tafaqquh fi ad-din, pusat pengembangan ilmu-ilmu agama. Namun, ditilik dari
eksisitensinya sebagai takhashush fi ‘ilmi al-fiqh, Ma’had Aly menpunyai
target-target capaian yang lebih spesifik dibanding pesantren-pesantren lainnya.
Untuk mendukung dan
merealisasikan visi misi lembaga Ma’had Aly maka disamping menjalankan
pembelajaran sebagaimana mestinya lembaga Ma’had Aly juga mengadakan
peltihan-pelatihan ushul fikih setiap tahunnya. pelatihan tersebut dimaksudkan
sebagai media untuk memperdalam dan mengaplikasikan Ushul Fiqh
Sebagai Istinbat al-Ahkam Terhadap an-Nushush al-Syar’iyah.
Studi pendahuluan yang dilakukan dalam rangka menghimpun data dan
informasi yang terkait dengan pelaksanaan pelatihan ushul fikih di Ma’had Aly menggunakan metode dokumentasi, interview, dan
observasi. Semua ini dilakukan dalam rangka mengkroscek persoalan yang akan
diteliti sehingga produk yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran dan bisa
menjawab persoalan yang tengah terjadi selama proses pelaksanaan pelatihan ushul fikih.
Berdasarkan
survey studi pendahuluan, peneliti menemukan beberapa hal dalam pelatihan ushul
fikih yang dilaksanakan srtiap tahun di Ma’had Aly 1. Pelatihan ushul fikih Ma’had
Aly dilaksankan tidak sesuai kebutuhan santri 2. Tidak ada waktu yang
ditetapkan dalam kegiatan peltihan ini. 3. Perencannnya pelatihannya tidak
matang. 4. Idak ada evaluasi atau tes penguasaanmateri seelah pelatihan. 5.
Tidak mengacu pada standar pelatihan yang umum. 6. Jangka hari pelatihan tidak
sesuai dengan banyaknya materi. 7.
Jadwal pelatihan terlalalupadat sehingga tidak efektif 8. Kurangnya bina
suasana sehingg pelatihan membosankan.
2.
Perencanaan
Pengembangan Model
mengembangkan
model latihan yang
dapat dinamai Model Tujuh Langkah (The Seven-step
Model). Model ini
mencakup langka langkah sebagai berikut.
Pertama adalah mela ksanakan
identifikasi dan analisis
kebutuhan latihan. Kedua ialah
merumuskan dan mengembangkan tujuan-tujuan latihan. Ketiga,merancang kurikulum
latihan. Keempat,
Memilih dan
mengembangkan metodelatihan. Kelima, menentukan
pendekatan evaluasi latihan.Keenam, melaksana kan program latihan. Ketujuh, melakukan
pengukuran hasil latihan.
Langkah-langkah hendaknya
dilakukan secara berurutan.
Namun, hasil langkah
ketujuh, yaitu pengukuran hasil latihan, dapat diguna kan sebagai
masukan bagi langkah kedua, yaitu untuk mengembangkan tujuan-tujuan latihan
atau langkah pertama,
yaitu untuk mengidentifikasi
dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan latihan.
3. Validasi, Evaluasi, dan Revisi Modul
Setelah produk
telah didesain, selanjutnya peneliti akan melakukan validasi produk kepada para
ahli. Para ahli yang dimaksud meliputi ahli materi, media dan pengembang
instruksional. Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah
rancangan produk secara rasional akan lebih efektif dari yang lama. Dikatakan
secara rasional karena validasi disini masih bersifat penilaian berdasarkan
pemikiran rasional, belum merupakan fakta di lapangan. Oleh sebab itu, validasi
produk dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang
sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang dirancang tersebut. Setiap
pakar diminta untuk menilai modul tersebut, sehingga selanjutnya dapat
diketahui kelemahan dan kekuatannya. Validasi desain dilakukan dalam bentuk
menilai secara langsung terhadap produk yang sudah disediakan oleh peneliti.
Dalam hal ini, peneliti telah menyediakan lembar penilian, sehingga pakar
tinggal mengisi lembar tersebut. Komponen-komponen yang akan dinilai pun sudah
tertuang dalam lembar tersebut. Disini peneliti melibatkan tiga pakar dalam
melakukan penilain terhadap para pakar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil
Pengembangan Model
1. Profil Ma’had Aly Sukorejo
a. Latar Historis Ma’had Aly
Dilatar belakangi oleh satu kerisauan bahwa semakin maju yang dilakukan
pesantren-pesantren dalam rangka penyesuaian kurikulum dan segala aturan
pendidikan formal lainnya, dikhawatirkan justeru orang-orang yang alim fiqh
(fuqaha’) akan semakin kecil. Berbeda dengan yang terjadi di awal abad XX,
pesantren begitu berperan dalam mencetak ahli-ahli fiqh, untuk tampil sebagai
panutan umat. Justeru ketika pesantren begitu maju, selalu ingin menyesuaikan
dengan lingkungan, orang yang ahli dalam bidang hukum Islam semakin berkurang.
Selanjutnya, sejumlah ulama sowan kepada KH. As’ad Syamsul Arifin
mengadukan perihal kekhawatiran itu. Bak gayung bersambut, ternyata kyai As’ad
merasakan hal yang sama. Beliau mengusulkan, agar mencari kader-kader
unggul dari masing-masing pesantren
untuk digembleng dan di-training secara khusus dan di tempat khusus pula.
Tujuannya, mencetak kader faqihu
zamanihi (ahli ilmu agama di zamannya), ulama yang mempunyai integritas
keilmuan memadai dan mampu menjawab persoalan-persoalan di sekitarnya,
sekaligus menjadi uswah bagi umatnya. Dari sinilah kemudian muncul ide
pendirian sebuah institusi Pendidikan Tinggi pasca pesantren yang mereka sebut
Ma’had Aly digulirkan. Dan sebagai salah satu pengasuh pesantren, beliau
bersedia menjadikan pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo sebagai pilot
project.
Ide besar Al- Marhum KH.R. As’ad
tentang pendirian Ma’had Aly ini sempat mengendap beberapa saat (mungkin karena
kesibukan para masayikh). Baru muncul kembali, ketika dalam peringatan peringatan
Haul Akbar KH. Syamsul Arifin tahun 1989. Saat itu KH. Hasan Basri Lc, salah
seorang pengurus teras Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah membacakan wasiat
KH. Hasyim Asy’ari yang berbunyi : “Kamu As’ad supaya banyak mencetak
kader-kader Fuqaha’ di akhir zaman”
Kemudian setelah acara haul Beliau mengumpulkan para kyai di kediaman
Kyai sebelah barat. Dari pertemuan ini dibentuk team kecil untuk membahas
langkah-langkah teknis pendirian Ma’had Aly. Team ini diketuai oleh KH. Hasan
Bashri Lc, (Situbondo) yang
beranggotakan ; (alm) KH. Abd. Wahid Zaini, SH. (Probolinggo), KH. Yusuf
Muhammad, LLM (Jember) KH. Nadhir Muhmmad (Jember) KH. Khatib Habibullah
(Banyuwangi) dan KH. Afifuddim Muhajir (Situbondo).
Setelah pembicaraan di kediaman KH.R. As’ad, pembicaraan mengenai langkah
awal yang harus diambil dilaksanakan di kediaman KH. Khatib Habibullah yang
kemudian dengan pembahsan secara intensif meyangkut sillaby, tenaga edukatif
dan sebagainya. dalam rentang waktu kurang lebih tujuh bulan. Dari berbagai kajian
intensif terangkum beberapa konsep yang cukup matang tentang pendirian Ma’had Aly
dan dipresentasikan dalam sebuah seminar yang dihadiri oleh beberapa tokoh
ulama diantaranya KH. Moh. Tholchah
Hasan, KH. Ali Yafi’i, KH. Sahal
Mahfudz, Prof. KH. Ali Hasan Ad-dariy An-nahdi dan KH. Masdar F. Mas’udi. Meskipun konsep rancangan
pendirian Ma’had Aly telah cukup matang, namun belum lengkap bagi Beliau
sebelum mendapat restu masayikh Indonesia di antaranya dan KH. Ali Ma’sum dan
Makkatul Mukarramah seperti Syekh yasin Al-Fandany, DR. bin Sayyid Muhammad bin
Alawiy al-Malikiy, Sekh Isma’il bin Utsman al-Yamaniy. Setelah mendapat restu
dari para ulama’ barulah secara resmi Beliau mendirikan Sebuah Lembaga Pasca
Pesantren pertama di Indonesia pada tanggal 21 Pebruari 1990, yang kemudian
dikenal dengan Al-Ma’had Al-Aly Lil Ulum al-Islamiyah Qism al-Fiqh. Sebuah
lembaga pendidikan Islam yang menitik beratkan pada kajian persoalan-persoalan
hukum formal syariah (fiqh).
Kenapa mesti fiqh ?. Karena disamping berdasarkan wasiat KH. Hasyim
Asy’ari, Beliau mulai merasakan gejala adanya kelangkaan ulama yang menguasai
fiqh secara utuh dan mampu
mengaplikasikannya dalam memecahkan persoalan kontemporer secara komprehenship
dan bertanggungjawab.
Di sisi lain, fiqh sering dipahami hanya sebatas standarisasi halal-haram
semata yang harus diterima apa adanya tak boleh di otak-atik ketimbang sebagai
referensi perilaku umat manusia dalam mengantarkan mereka kepada suatu
kehidupan beragama dan bermasyarakat secara baik dan berkualitas. Eksesnya,
fiqh menjelma menjadi perangkat undang-undang formal yang rigid, tidak rasional
dan tak mampu beradaptasi dengan dinamika masyarakat. Ujung-ujungnya umat
semakin menjauhkan diri dari jangkaun fiqh. Salah satu buktinya, animo
masyarakat untuk menguasai fiqh khususnya dan ilmu-ilmu agama umumnya dalam
skala luas semakin menurun. Di sinilah kemudian Pondok Pesantren yang sejak
lahir memproklamirkan diri sebagai lembaga pendidikan tafaqquh fi al-din, mulai
kehilangan identitasnya.
Persoalan-persoalan inilah yang ingin dijawab Kyai As’ad dan ulama-ulama
lainnya dengan mendirikan Ma’had Aly.
b. Dasar visi dan misi lembaga
1)
Dasar
Ma’had Aly berdasarkan Islam dan Pancasila. Dengan dasar Islam
dimaksudkan bahwa Ma’had Aly di adakan, diselenggrakan dan dikembangkan
berangkat (point of depture) dari ajaran Islam, proses pengelolaannya secara
islami dan menuju apa yang diidealkan oleh pendidikan yang islami. Dengan dasar
pancasila dimaksudkan bahwa Ma’had Aly diselenggarakan, dikembangkan dan
diamalkan dalam wacana Pancasila sebagai landasan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara bagi seluruh warga Indonesia.
2)
Visi
Visi Ma’had Aly adalah menjadi salah satu pusat study islam dengan
spesialisasi fiqh (Pendidikan Kader Fuqaha’ Indonesia).
3)
Misi
Seiring dengan visi diatas, maka misi Ma’had ‘Aly :
o
Mengadakan kajian Islam secara
menyeluruh, utuh dan komprehensif dengan menjadikan fiqh dan ushul fiqh sebagai
fokus kajian.
o
Mengembangkan sistem pendidikan
pesantren yang mampu menjawab problematika soaial keagamaan secara tepat dan
benar seiring dengan dinamika sosial, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
c. Orientasi dan Tujuan
Seiring dengan tantangan kehidupan dalam era globalisasi dengan persaingan
yang keras dan dinamika yang tinggi,
maka orientasi Ma’had Aly dalam abad 21 ini tidak dapat lain kecuali harus
berorientasi pada mutu, kebenaran dan
kebaikan bagi seluruh kepentingan bangsa dan negara sebagai konsekuensi logis
bahwa islam adalah untuk semua, “rahmatan lil ‘alamien”.
Ma’had Aly
sebagai lembaga pendidikan keagamaan formal, pesantren-pesantren lain secara
umum merupakan wahana tafaqquh fi ad-din, pusat pengembangan ilmu-ilmu agama.
Namun, ditilik dari eksisitensinya sebagai takhashush fi ‘ilmi al-fiqh, Ma’had Aly
menpunyai target-target capaian yang lebih spesifik dibanding
pesantren-pesantren lainnya. Dalam hal ini, Ma’had Aly diproyeksikan sebagai :
1)
Pemulihan, pemurnian dan pengembangan
pesantren salafi dalam dimensi ilmiah, amaliah dan khuluqiyah.
2)
Pengembangan khazanah ilmu-ilmu
keislaman.
3)
Pemulihan, pemurnian dan
pengembangan fungsi kitab salaf (kitab kuning) sebagai wahana tumbuh dan
berkembangnya kader-kader ulama (fuqaha’) yang mampu menjadi panutan masyarakat
masa kini maupun masa datang dengan kaualifikasi sebagai berikut :
a)
Tidak hanya memahami dan menguasai
kitab/ilmu fiqh sebagai produk ijtihad, tetapi memahami jalan pikiran dan
wawasan ulama (kaifiyah al-istinbath wa al-istidlal) yang dituangkan dalam
karya besar mereka.
b)
Mampu memecahkan maslah-masalah
kontemporer melalui penguasaan dan wawasan dalam memahami fiqh
c)
Relevansi antara maqasid
al-tasyri’iyah dan nushus al-tasyri’
d)
Metode penggalian dan pengambilan
hukum (thariq al-istinbath dan al-istidlal)
e)
Perubahan fatwa seiring dengan
perubahan waktu, tempat dan keadaan (taghaiy al-fatwa bi taghaiyyur
al-azminah wa alamkinah wa al-ahwal)
f)
Lebih memperhatikan terhadap
teks-teks hukum kully /universal daripada hukum-hukum juz’iy /parsial (ihtimam
an-nushush bi al-ahkami al-kulliyah la al-juziyyah)
g)
Memiliki keselarasan antara sifat al-ilm,
al-wara’ dan al-i’tidal.
d. Sifat dan Fungsi
Lembaga
Sebagai lembaga Pendidikan Tinggi, Lembaga Ma’had Aly bersifat independen,
dengan pengertian, Ma’had Aly bebas menentukan arah kebijakan dan kurikulum
sendiri, dan fungsi ma’had Aly adalah :
1) Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang
meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
2) Menjadi agen moderinisasi bangsa dan negara
dalam wadah masayarakat madani (civil society)
e. Organisasi
Ma’had Aly
1) Struktur
Struktur kelembagaan Ma’had Aly dari tahun
ketahun mengalami perubahan dan beberapa penyempurnaan. Susunan Pengurus Ma’had
Aly saat ini adalah sebagai berikut
:
a) Pimpinan, yaitu Mudir ‘Am.:
Tugas pokok Mudir ‘Am adalah bertanggungjawab
atas semua kebijakan-kebijakan yang diambilnya, seperti menyusun, merancang
pengembangan Ma’had Aly dan mengontrol kerja pengurus dan aktivitas santri.
Secara kelembagaan bertanggung jawab kepada Pondok Pesantren Salafiyah
Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
b) Unsur Pelaksana, terdiri dari :
o
Mudir I
Bertugas di bidang Akademik, meliputi
pengornisasian aktivitas sekretariat, administrasi, perpustakaan dan fasilitas
lembaga lainnya, termasuk pembinaan jaringan dan komunikasi dengan pihak
terkait untuk pengembangan lembaga. Secara kelembagaan bertanggungjawab kepada
Mudir ‘Am.
o
Mudir II
Bertugas dibidang kurikulum dan kemahasiswaan,
yaitu bertanggungjawab terhadap aktifitas belajar mengajar santri, merancang
dan menfasilitasi pengembangan dibidang keilmuan dan pembinaan kemahasiswaan.
Secara kelembagaan bertanggung jawab pada Mudir ‘Aam
o
Katib
Melaksanakan program dari pimpinan Lembaga,
mengatur lalu lintas aktivitas sekretariat dan melaporkan secara berkala
perkembangan lembaga kepada pimpinan.
o
Administrasi.
Melaksanakan secara tehnis tugas administrasi
lembaga, dokumentasi dan penertiban arsip serta mengatur lalu lintas
administrasi lainnya.
o
Keuangan
Menyusun pengajuan belanja pendidikan,
menyusun anggaran belanja lembaga dan mengatur pembelanjaan harian, mingguan
dan bulanan.
C. Unsur Kelengkapan, yaitu :
1) Biro Pendidikan dan Pengawasan (Haiatu
al-Tarbiyah wa al-Isyrof)
Membina dan membimbing kreatifitas santri dan
mengawasi jalannya aktivitas lembaga dan santri.
2) Biro LITBANG
Meneliti aktifitas lembaga, merancang
pengembangan keilmuan santri dan mengusulkan serta mengakomodasi semua pihak
untuk pengembangan kredibilitas santri.
3) Biro Perpustakaan dan Pengembangan Bahasa
Menyusun perencanaan administrsi dan
pengembangan perpustakaan. serta menciptakan lingkungan yang kondusif untuk
pengembangan bahasa Asing.
Berkaitan dengan mekanisme pergantian kepemimpinan, ditempuh jalan sebagai
berikut :
1) Memperhatikan aspirasi yang berkembang di
kalangan peserta didik (senat mahasiswa).
2) Minta pertimbangan dari penasehat dan tenaga pengajar.
3) Menggodok dan menyeleksi para calon untuk
ditetapkan oleh pengasuh.
f.
Tenaga Pengajar
Secara kurikuler tenaga pengajar di Lembaga ini dapat dikelompokkan menjadi
tiga bagian, yaitu :
1) Al-Muhadhirun, yaitu beberapa tenaga pengajar
yang secara temporal memberikan kuliah umum dengan tema-tema sentral yang
meliputi Masail Fiqhiyah, Ushul Fiqh, Sosial Politik, Tasawwuf dan Filsafat.
2) Al-Mudarrisun, yaitu beberapa tenaga pengajar
yang secara rutin memberikan kuliah dengan jadwal dan mata kuliah yang telah
ditentukan.
3) Al-musyrifun,
yaitu beberapa tenaga pengajar yang bertugas sebagai pendamping harian,
dengan mengawasi dan membimbing santri secara intensif.
Dalam proses rekrutmen tenaga edukatif (dosen), ada dua hal yang dilakukan.
Yaitu :
1. Ada rekomendasi kelayakan
dari Dewan Masyayikh.
2. Ujian/tes kelayakan secara
tidak langsung melalui seminar/diskusi.
Untuk lebih jelasnya beberapa nama tenaga pengajar tersebut, dapat dilihat
pada bagian lampiran.
g. Peserta Didik
Pendaftaran Peserta didik (santri) Ma’had Aly dilakukan setiap tiga tahun
sekali, sesuai dengan masa pendidikan. Dalam artian, setelah satu angkatan
selesai, baru diterima peserta didik yang baru. Penerimaan santri baru Ma’had Aly
melalui dua tahapan, yaitu pendaftaran dan seleksi.
Persyaratan bagi calon santri Ma’had Aly adalah harus menyerahkan surat
rekomendasi dari Pondok Pesantren yang mengirimnya. dan atau menyerahkan
identitas diri.
Sedangkan proses seleksi calon santri Ma’had Aly, sebagai berikut :
1) Bisa membaca dan memahami teks kitab Fathu
al-Mu’in dan atau yang sederajat.
2) Punya kemampuan analisa keilmuan terutama
dalam bidang ilmu fiqh dan ushul fiqh.
Out put Ma’had Aly terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu melanjutkan
studi (S-2 dan S-3) baik dalam negeri maupun luar negeri, mengasuh lembaga
pendidikan di daerahnya masing-masing
dan sebagian di PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
h. Proses Penyelenggaran Pendidikan.
1) Kurikulum
Kurikulum Ma’had Aly diartikan sebagai
seperangkat rencana pendidikan yang berisi cita-cita pendidikan yang
dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan Proses Belajar Mengajar
(perkuliahan). Kurikulum ini di susun dengan mengunakan dua lampiran; yaitu
pendekatan akademik dan pendekatan pesantren salaf. Di Ma’had Aly ini kurikulum
dikategorikan menjadi :
a) Materi Pokok (Al-Asasiyah)
b) Materi Pendukung (Al-Musa’idah)
c) Materi Pelengkap (Al-Idhafiyah)
2) Jenis, Proses dan Pola Pendidikan
Untuk
mencapai misi dan tujuan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan perkuliahan di
Ma’had Aly, di-manage dengan
memadukan antara metode tradisional-pesantren dan metode perkuliahan-akademik
dengan mengintegralkan aspek-aspek proses pendidikan.
a)
Jenis Pendidikan
Ma’had Aly
Jenis Pendidikan Ma’had Aly adalah pendidikan akademik dan profesional.
b)
Aktifitas Belajar
Mengajar
Ma’had Aly sebagai sarana pembentukan kader
ulama’ masa depan tentu diciptakan suasana yang kondusif dalam proses
perkuliahan (PBM). Ini terlihat pada aktifitas belajar di Ma’had Aly yang
dilaksanakan mulai pagi, sore hingga malam hari. Aktifitas pendidikan pada pagi
– sore hari berbentuk kuliah. Sedangkan aktifitas malam berbentuk diskusi.
Sistem yang dipakai adalah sistem ceramah, diskusi dan penugasan (pembuatan
makalah). Dari ketiga metode ini, metode ceramah masih dominan. Sementara
metode diskusi ditunjang oleh kegiatan ekstra kurikuler yang dilakukan santri
3) Metode
Pengajaran
Dalam usaha pencapaian
tujuan ideal tersebut, maka metode belajar mengajar yang ditempuh menggunakan
tiga pendekatan :
a. Pendekatan tekstual,
yaitu memahami nushush secara lughawiyah,
harfiyah dan tarkibiyah. Hal ini
ditempuh dengan dua cara, yaitu al-tadris
(bimbingan seorang dosen) dan mudarosah (diskusi).
b. Pendekatan kontekstual,
yaitu memahami nushsuh secara cermat
dan dititik beratkan pada maqashid
al-syar’iyyah-nya dengan telaah secara kritis (al-naqd). Kajian ini dilakukan dengan lintas madzhab dan
disampaikan dalam beberapa kuliah umum, penyusunan karya tulis, studi naskah
dan lain-lain.
c. Pendekatan naqdiyah
(kritis), yaitu melatih diri untuk mencoba melihat beberapa karya para imam
mujtahid dengan muqobalatu al-kutub
al-qodimah wa al-mu’ashirah (komparasi kitab-kitab klasik dan referensi
kontemporer).
4)
Materi Pengajaran
Materi
pengajaran meliputi :
a.
Materi
pokok (al-Asasiyah), yaitu fiqh, ushul fiqh, , tafsir al-ahkam, hadits
al-ahkam, dan qawaid al-fiqhiyah. Materi ini disampaikan sampai akhir dirosah.
b.
Materi
penunjang (al-Idhafiyah), yaitu fiqh al-siroh, ulumu al-Qur’an, tarikh
al-tasyri’. ulum al-hadits dan fiqh siyasah. Secara umum materi ini disampaikan
dalam dua semester.
c.
Materi
pendukung (al-Musaidah), yaitu filsafat tasa-wwuf, sosiologi, sejarah Islam di
Indonesia dan beberapa materi yang dianggap perlu sesuai perkembangan.
i.
Program kerja
Dalam penyusunan dan pelaksanaan program
kerja, Ma’had Aly meng klasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1)
Program Kerja Reguler
Program kerja reguler
adalah program kerja yang dilakukan secara berkala dalam jangka waktu tiga
tahun yang dikhususkan dalam enam
semester.
a) Penerimaan Peserta didik Ma’had Aly (lih. peserta didik)
b) Penugasan (penjadwalan) tenaga pengajar (lih.
tenaga pengajar)
Penjadwalan tenaga
pengajar disesuaikan dengan kebutuhan perkuliahan (PBM) untuk materi-materi
yang diajarkan pada semester tertentu, dengan mengacu pada kurikulum yang
berlaku.
c) Penyusunan Kurikulum dan Refferensi
d) Proses Perkuliahan (lih. Proses
dan Pola Pendidikan)
e)
Proses
perkuliahan di Ma’had Aly, untuk setiap mata kuliah dijadwalkan se- minggu
sekali untuk mata kuliah pokok dan penunjang. sedangkan mata kuliah yang
diberikan oleh dosen yang mempunyai banyak jadwal didampingi oleh asisten
dosen.
f)
Model Evaluasi dan Parameter Kelulusan
Manajemen evaluasi, sebagai sarana pengukur dan untuk pengembangan Ma’had
Aly dilakukan setiap se-tengah tahun (satu semester) dengan dua metode.
Pertama, ujian tulis untuk semua mata kuliah dan kedua, ujian lisan untuk mata
kuliah pokok, yaitu:
a) Ujian tulis dan lisan untuk materi pokok serta
ujian tulis untuk materi-materi penunjang (idhafiyah/musa’idah).
b) Penulisan karya ilmiyah berupa tesis/risalah dan dinyatakan lulus oleh
forum munaqasah.
Kemudian kriteria kelulusan pada ujian akhir meliputi :
a) Penguasaan materi-materi pokok minimal 80 %
b) Punya integritas ke-ulama-an.
2)
Program Kerja non-Reguler
Progran kerja
non-reguler adalah program kerja yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan
masyarakat santri (social student demand), sebagai penunjang kemampuan dan
skill santri, secara garis besar digolongkan manjadi :
a)
Seminar
b)
Pelatihan
2. Model pelatihan yang dikembangkan
a. Identitas produk
Bentuk : Bahan cetak (material printed)
Judul : Bahan yang dikembangkan berjudul
|
“model pelatihan ushul fikih Ma’had Aly dengan participatory training” |
Sasaran : pelaksana dan fasilitator
pelatihan ushul fikih
Penyusun :
M. Syaiful Anwar
Tebal halaman : 74 halaman
Ukuran kertas : A5 (14,8 cm X 21 cm)
Jenis Huruf dan ukuran font
§ Huruf Latin : Time
New Roman ukuran 09
: Comic Sans MS ukuran 09
§ Heading : Time
New Roman ukuran 09
§ Sub Heding : Time
New Roman ukuran 12
§ Spasi : 1
pada semua aspek
Bagan 4.1 model pelatihan usul fikih
![]()
b. Kajian aspek desain teks
1) Ukuran kertas (page size)
Ukuran kertas yang digunakan adalah A5 (14,8 cm X 21 cm). Penggunaan ukuran
ini dengan alasan kemenarikan dan ekonomis. Walaupun tidak ada ketentuan khusus
dalam persoalan ini, pemilihan ukuran halaman ini sangat perlu untuk
diperhatikan karena cukup representatif atau memadai untuk melakukan kreasi dan
eksplorasi.
2) Tipe dan ukuran font (type size)
Meskipun penggunaan font tidak terlalu bervariasi, namun tampilan dari
panduan pembelajaran yang dibuat enak untuk dilihat, karena lay out sangat sederhana tidak terlalu
banyak model. Terlebih huruf yang digunakan adalah time new roman dan comic
sans ms, dimana kesan utama yang nampak adalah tidak membosankan untuk dilihat
dan dibaca.
3) Penggunaan huruf besar (kapital) dan kecil
Pemakaian hurup besar semua digunakan hanya di penulisan judul utama.
Sedangkan untuk penulisan sub judul menggunakan huruf Capitalize Each Word. Semuan
ini dilakukan atas pertimbangan para pakar bahwa yang dicetak dengan huruf
besar adalah berisi informasi khusus. Untuk penulisan yang lain menggunakan dan
mengikuti kaidah EYD.
4) Warna
Penggunaan warna dalam panduan
pengembangan pembelajaran ini tidak terlalu di tonjolkan, hal ini
terkait dengan pembiayaan. Namun bukan berarti tidak menarik lantaran tidak
mempunyai warna, bahan ajar ini tetap memiliki daya tarik meskipun print
out-nya hanya berwana hitam saja, karena ditulis dengan rapi dan elegan.
5) Pengorganisasian Pembelajaran
Pengorganisasian
pembelajaran ini secara keseluruhan disesuaikan
dengan susunan materi. Komponen-komponen setiap bab sama dan spasi yang
digunakan juga sama, sehingga tidak membingungkan pembaca. Sajian materi yang sistematis dan
konsisten memudahkan para guru untuk menerapkan isi Panduan pengembangan pembelajaran ini.
a. Aspek isi panduan pembelajaran
1) Kata pengantar
Kata pengantar ditempatkan
dibagian awal modul pelatihan sebagai pembuka komunikasi penulis dengan pembaca. Isi dari kata
pengantar adalah upaya penulis untuk berkomunikasi dengan pembaca, dengan
menerapkan prinsip yakni; (1) memunculkan pesan atau citra bahwa modul yang dibaca layak untuk dipelajari. (2) Mengarahkan fokus materi modul pada hal-hal yang
diasumsikan sesuai dengan kebutuhan pembaca.
2) Daftar isi
Daftar isi dibuat agar pembaca lebih mudah mencari isi materi yang ada
pada bahan ajar tersebut dengan melihat halaman yang tertera pada daftar
isi.
3) Pendahuluan
Gambaran tentang konsep atau teori yang yang dijadikan persepektif dalam
melihat kecendrungan atau fenomena yang ada.
4) Tujuan
Mencamtumkan beberapa tujuan-tujuan penting dalam
menyusun modul pelatihan dengan metode participatory training.
5) Pengguna modul
Menyebutkan siapa saja yang dapat memanfaatkan
dan terbantukan dengan adanya modul ini.
6) Cara penggunaan
modul
Menjelaskan cara menggunakan dan memanfaatkan
buku modul ini bagi yang membutuhkan.
7) Waktu pelaksanaan
pelatihan
Menjelaskan waktu yang efektif dalam mengadakan
pelatihan ushul fikih sesuai kebutuhan.
8) Perencanaan
pelatihan
Menjelaskan langkah-langkah dalam merencakan
pelatihan ushul fikih dengan sistematis.
9) Struktur pelatihan
Menjelaskan struktur yang sesuai dengan teori
partisipatif dalam mengadakan pelatihan ushul fikih dengan partisipatif.
10) Proses pelaksanaan
pelatihan
Menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan pelatihan
yang telah direncanakan sebelumnya dengan model partisifasi.
11) Evaluasi pelatihan
Menjelaskan cara mengevaluasi pelaksanaan
pelatihan secara keseluruhan baik dari
segi tehnis dan semacamnya.
c. Faktor pendukung dan penghambat
1) Faktor pendukung
Faktor pendukung dalam
proses berjalannya pelatihan dengan efektif adalah antara lain:
a) Latar belakang keilmuan peserta pelatihan yang dibekali pemahaman dasar ilmu
ushul fikih.
b) adanya pengajian-pengajian ushul fikih sebagai
pemahaman awal mengenai materi pelatihan.
c) Semangatnya semua pihak lebih-lebih peserta
pelatihan berpartisipasi dalam menjalankan pelatihan.
d) adanya sarana dan prasarana yang sangat
memadai khusus pelatihan ushul fikih partisipatif. seperti, (1). adanya materi
pelatihan berbentuk makalah atau kitab-kitab ushul fikih(2). Adanya media elektronik
seperti leptop, LCD, proyekor dan semacamnya.
e) Adanya kemudahan proses administrasi atau rekomendasi
dari berbagai pihak berwenang.
2) Faktor penghambat
Faktor penghambat yang
dihadapi dibedakan menjadi tiga yaitu, kendala dari fasilitator, dari segi peserta
dan dari segi bahan pelatihan.
a) Kendala dari segi fasilitator
Fasilitator
merupakan kunci dalam mensukseskan pelaksanaan pelatihan karena ia yang
bertugas untukmemfasilitasi berjalannya pelatihan kalau fasiliatator kurang
aktif dalam tugassnya maka pelatihan tidak akan berjalan dengan baik.
b)
Kendala dari peserta
Kendala-kendala yang
dihadapi peserta ketika proses pelatihan berlangsung yaitu. Kurangnya
konsentrasi peserta disebabkan narasumber ketika menyampaikan materi dengan
sistem ceramah sehingga kurang bervariasi atau kurang dalam memberikan
kesempatan peserta untuk bertanya atau menaggapi sehingga siswa merasa bosan,
dan disebabkan ketidaksamaan kecepatan memahami materi pelatihan antara peserta
satu dengan yang lain.
c)
Kendala bahan materi pelatihan
Penggunann bahan materi
pelatihan dengan bentukmakalah atau kitab kuning hal itu kurang bermakna jika
tidak ada modul, kurangnya penggunaan modul tulisan yang bervariasi, bergambar
dan mudah dipahami oleh siapapun terutama oleh siswa.
B. Kelayakan model (teoritik dan empiris)
Kelayakan model yang dikembangkan ditentukan oleh penilaian para ahli
terhadap produk yang dikembangkan. Penilaian yang dilakukan oleh para ahli
bersifat teoritis, bukan lapangan. Karena keterbatasan waktu dan biaya,
ahli yang diberikan untuk menilai panduan ini hanya 2 orang saja. Dalam hal ini penilaian materi dipercayakan kepada Prof. Dr. H. Abu Yazid,MA, LLM. Salah seorang dosen Pascasarjana yang menjabat sebagai rektor di IAI Ibrahimy Sukorejo Situbondo. Selain itu, beliau juga seorang guru besar di surabya. Dan penilaian model dipercayakan kepada Dr. Abd.
Djalal, M.Ag . Penilaian yang dilakukan bersifat
deskriptif, dengan melakukan penilaian berdasarkan lembar instrumen yang telah
disediakan oleh peneliti sendiri.
Hasil penilaian ahli terhadap panduan
pembelajaran yang dikembangkan terhimpun dalam tabel
berikut ini:
1. Kumpulan hasil penilaian ahli bahasa terhadap modul pelatihan
yang
dikembangkan
Penilaian
Kelayakan Aspek Kebahasaan
Tabel 4.1 instrumen validasi
|
No |
Indikator |
Deskripsi |
Skala Penilaian |
Kritik/Saran |
||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||
|
1 |
Kesantunan
penggunaan bahasa. |
Penggunaan
bahasa yang tetap
santun dan tidak
mengurangi nilai-nilai
pendidikan. |
|
ü |
|
|
|
|
|
2 |
Ketepatan
istilah. |
Istilah-istilah
yang digunakan
tepatdan sesuai
dengan bidang MPI. |
|
|
ü |
|
|
|
|
3 |
Kemudahan
memahami melalui penggunaan bahasa. |
Penggunaan
bahasa mendukung kemudahan memahami
modul pelatihan |
|
ü |
|
|
|
|
Penilaian
Kelayakan Aspek Penyajian
Tabel 4.2 instrumen penilaian validasi
|
No |
Indikator |
Deskripsi |
Skala Penilaian |
Kritik/Saran |
||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||
|
1 |
Petunjuk
penggunaan modul pelatihan disampaikan dengan jelas. |
Petunjuk
penggunaan memudahkan pembaca untuk memahami modul pelatihan |
|
ü |
|
|
|
|
|
2 |
Keruntutan
penyajian modul pelatihan |
Penyajian
runtut dari bagian awal sampai akhir |
|
ü |
|
|
|
|
Penilaian
Aspek Tampilan Menyeluruh
Tabel 4.3 instrumen penilaian validasi
|
No |
Indikator |
Deskripsi |
Skala Penilaian |
Kritik/Saran |
||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||
|
1 |
Kemenarikan
sampul buku. |
Desain
sampul memberi kesan
positif sehingga
mampu menarik
minat pembaca. |
|
|
ü |
|
|
|
|
2 |
Keteraturan
desain halaman buku. |
Desain
halaman buku teratur. |
|
|
ü |
|
|
|
|
3 |
Pemilihan
jenis dan ukuran huruf. |
Jenis dan
ukuran huruf memudahkan pembaca. |
|
ü |
|
|
|
|
|
4 |
Kesinambungan
transisi antar halaman. |
Trasnsisi
antar halaman berkesinambungan. |
|
|
ü |
|
|
|
|
5 |
Kemudahan
untuk membaca teks/tulisan. |
Teks dan
tulisan mudah
dibaca. |
|
|
ü |
|
|
|
|
6 |
Pemilihan
warna. |
Warna yang
digunakan sesuai dengan karakteristik produk. |
|
|
ü |
|
|
|
|
7 |
Cetakan,
penyelesaian dan jilid modul dilakukan dengan rapi. |
Produk
dicetak dengan rapi. |
|
ü |
|
|
|
|
Berdasarkan penilaian kelayakan materi,
kebahasaan, penyajian, dan tampilan menyeluruh, maka modul pelatihan ushu fikih
ini dinyatakan:
|
|
Layak untuk
selanjutnya digunakan dalam palatihan ushul fikih tanpa revisi. |
|
ü |
Layak untuk
selanjutnya digunakan dalam pelatihan ushul fikih dengan revisi sesuai saran. |
|
|
Tidak layak
produksi maupun digunakan dalam pelatihan di Ma’had Aly. |
2. Kumpulan hasil penilaian ahli bahasa terhadap panduan pembelajaran
yang
dikembangkan
tabel 4.4 instrumen penilaian validasi
|
No |
ASPEK PENILAIAN |
Skala Penilaian |
Kritik/Saran |
||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
|||
|
|
Kecukupan
isi |
|
|||||
|
1 |
Memudahkan lembaga dalam merencanakan program pelatihan |
ü |
|
|
|
|
|
|
2 |
memudahkan
pelaksana dalam melaksanakan program
pelatihan |
ü |
|
|
|
|
|
|
3 |
memudahkan lembaga dalam evaluasi pelatihan |
ü |
|
|
|
|
|
|
|
Ketetapan
isi |
|
|||||
|
4 |
modul pelatihan
disusun sesuai dengan konsep manajemen pelatihan |
|
ü |
|
|
|
|
|
5 |
modul pelatihan
disusun sesuai dengan kemampuan pelaksana |
ü |
|
|
|
|
|
|
6 |
Kesesuaian
modul pelatihan dengan konsep pelatihan partisipatif |
ü |
|
|
|
|
|
|
7 |
Kebenaran
substansi materi modul pelatihan |
ü |
|
|
|
|
|
|
8 |
Kesesuain
buku pedoman dengan alat-alat kordinasi Ma’had Aly |
ü |
|
|
|
|
|
|
|
Kemenarikan
isi |
|
|||||
|
9 |
modul pelatihan
mampu membantu lemabga dalam membuat program pelatihan |
ü |
|
|
|
|
|
|
10 |
Kesesuaian modul pelathan dengan standar
kerja Ma’had Aly |
|
ü |
|
|
|
|
|
11 |
Kesesuaian modul pelatihan dengan kebutuhan
pelaksana pelatihan Ma’had Aly |
|
ü |
|
|
|
|
|
12 |
Manfaat untuk penambahan wawasan pengetahuan
wpelaksana pelatihan |
ü |
|
|
|
|
|
|
13 |
Kesesuaian modul pelatihan dengan
bentuk-bentuk kegiatan Ma’had Aly |
ü |
|
|
|
|
|
|
14 |
kesesuaian sampul
terhadap modul pelatihan |
ü |
|
|
|
|
|
|
|
Kualitas
Keseluruhan |
|
|||||
|
15 |
buku pedoman
sesuai dengan teori manajamen pelatihan |
|
ü |
|
|
|
|
|
16 |
buku pedoman disusun dengan baik |
ü |
|
|
|
|
|
Penilaian
Kelayakan Aspek Penyajian
Tabel 4.5 instrumen penilaian validasi
|
No |
Indikator |
Deskripsi |
Skala Penilaian |
Kritik/Saran |
||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||
|
1 |
Petunjuk
penggunaan modul pelatihan disampaikan dengan jelas. |
Petunjuk
penggunaan memudahkan pembaca untuk memahami cara pengunaan modul |
ü |
|
|
|
|
|
Penilaian
Aspek Tampilan Menyeluruh
Tabel 4.6 instrumen penilaian validasi
|
No |
Indikator |
Deskripsi |
Skala Penilaian |
Kritik/Saran |
||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||
|
1 |
Kemenarikan
sampul buku. |
Desain
sampul memberi kesan
positif sehingga
mampu menarik
minat pembaca. |
ü |
|
|
|
|
|
|
2 |
Kemudahan
untuk membaca teks/tulisan. |
Teks dan
tulisan mudah
dibaca. |
ü |
|
|
|
|
|
Berdasarkan penilaian kelayakan materi,
kebahasaan, penyajian, dan tampilan menyeluruh, maka modul pelatihan ushul
fikih ini dinyatakan:
|
Layak untuk
selanjutnya digunakan dalam palatihan ushul fikih tanpa revisi. |
|
|
Layak untuk
selanjutnya digunakan dalam pelatihan ushul fikih dengan revisi sesuai saran. |
ü |
|
Tidak layak
produksi maupun digunakan dalam pelatihan di Ma’had Aly. |
|
Semua data hasil penilaian ahli dijadikan sebagai landasan untuk merevisi
modul pelatihan sebelum
diuji coba di lapangan. Setelah melakukan revisi berdasarkan masukan dari ahli,
barulah modul pelatihan yang dikembangkan layak untuk di uji coba. Hal ini juga disampaikan oleh
ahli bahwa kesimpulan dari penilian adalah panduan pembelajaran telah layak untuk
di uji coba setelah melakukan perbaikan
berdasarkan masukan-masukan yang telah diinventarisir.
BAB V
PEMBAHASAN
A.
Proses
Pengembangan modul pelatihan
1. Urgensitas Perencanaan Penyusunan modul pelatihan
Menurut para
ahli, iklim pelatihan yang dikembangkan oleh para pelaksana mempunyai
pengaruh yang sangat besar untuk menunjang keberhasilan sebuah pelatihan. Kualitas dan keberhasilan sangat tergantung oleh kemampuan dan
ketepatan fasilitator dalam memilih serta menggunakan metode pelatihan. Berdasarkan pengamatan dan analisis konseptual terhadap realitas
pelatihan ushul fikih di lokasi
penelitian, ternyata proses pelatihan berlangsung
kurang kondusif, hal ini tentu berdampak terhadap kemampuan peserta dalam menguasai materi pelatihan semangat peserta untuk mengikuti
pelatihan nampaknya tidak begitu kelihatan, sehingga peserta seakan-akan nampak sangat terpaksa dalam mengikuti pelatihan.
Sekilas
realitas ini memberikan dorongan kepada peneliti untuk melakukan upaya tindak
lanjut guna memberikan konstribusi yang nyata sehingga persoalan ini segera
terselesaikan. Dari itu, peneliti kemudian merencanakan untuk menyusun modul pelathan dengan metode partisipatif. Tahap
perencanaan penyusunan ini nampak sangat krusial, karena perencanaan merupakan
proses yang menentukan bagaimana proses pembelajaran akan mencapai
tujuan-tujuan Hal ini disebabkan perencanaan merupakan proses menentukan
rancangan tindakan bagaimana peneliti membangun langkah-langkah dan
tahapan-tahapan demi tercapainya tujuan pelatihan tanpa melupakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam
pelaksanaan perencanaan.
Namun begitu,
penyusunan rencana modul pelatihan ini masih
sangat fleksibel. Artinya perencanaan tersebut bisa menyesuaikan terhadap
lingkungan eksternal yang dinamis. Sebab faktor eksternal merupakan hambatan
terhadap pelaksanaan rencana yang akan dilakukan dalam penelitian, sehingga
perencanaan itu sedikit banyak bisa diubah tanpa mengubah tujuan untuk apa
perencanaan pelatihan itu dilakukan. Penetapan rencana pengembangan
pelatihan itu penting dilakukan guna tujuan dari sebuah penelitian menjadi
jelas dan terarah. Perencanaan sebagai langkah awal dari pencapaian tujuan akan
memberikan arah dan kejelasan tujuan tersebut, sehingga semua instrumen ataupun
langkah-lagkah dalam penelitian dapat juga tercapai.
Selain itu,
penyusunan rencana penelitian pengembangan pelatihan dilakukan agar semua proses penelitian lebih fokus dan tidak
terlalu bertele-tele. Ketika planing penelitian sudah jelas dan benar,
maka peneliti akan memahami prosedur apa saja yang akan dilakukan sebagaimana
yang telah dirancang dalam perencanaan.
Selain itu,
penyusunan rencana penelitian juga bisa membantu peneliti untuk bisa mengidentifikasikan berbagai hambatan
dan peluang. Dengan adanya perencanaan penelitian, peneliti mampu
mengidentifikasi berbagai hambatan dan peluang yang ada ketika melakukan
penelitian. Adanya hambatan dan peluang yang datang akan menuntut peneliti
untuk mempersiapkan tindakan-tindakan antisipasi, sehingga peneliti tetap berada
di lajur menuju tujuan awal.
2. Penyusunan model pelatihan ushul
fikih
a.
Spesifikasi asumsi mendasar
Program pelatihan harus didasarkan pada asumsi yang jelas. Pada awal abad dua puluh,
Jhon Dewey mendengarkan filsafat progresivisme, yang kemudian melahirkan
filosof belajar konstruktivisme dengan mengajukan teori kurikulum dari metode
pembelajaran yang berhubungan pengalaman dan minat siswa. Inti ajarannya adalah
siswa akan belajar dengan baik apabila yang mereka pelajari berhubungan dengan
apa yang telah mereka ketahui. Proses belajar akan produktif jika siswa
terlibat aktif dalam proses belajar.[71]
Diantara
pokok-pokok pandangan progresivisme antara lain:
1)
Siswa belajar dengan baik apabila
mereka secara efektif dapat mengonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa
yang dipelajari.
2)
Anak Harus bebas agar bisa
berkembang dengan wajar.
3)
Penumbuhan minat melalui pengalaman
langsung untuk merangsang belajar.
4)
Guru sebagai pembimbing dan
peneliti.
5)
Harus ada kerja sama antara sekolah
dengan masyarakat
6)
Sekolah progresif harus merupakan
laboratorium untuk melakukan eksperimen.
Knowles menyatakan bahwa orang dewasa telah memiliki pengalaman, konsep
diri dan kesiapan untuk belajar, mana kala pelatihan tersebut sesuai dengan
kebutuhannya. Mereka cendrung bosan apabila didekte karena dianggap tidak
memiliki pengetahuan apapun.[72]
Sehingga pelatihan tidak sesuai dengan keinginan mereka dan tidak memberi
pengaruh apapun dalam ilmunya sebgamana yang diharapkan. Mereka ingin menjadi
bagian darikegiatan-kegiatan pengembangan atau peningkatan kapasitas dirinya
agar apa yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan yang dirasakannya. Hal ini
hanya dapat diperoleh dalam kegiatan pendidikan, pelatihan dan kursus yang
mengikutsertakan mereka ikut aktif dalam proses pembelajarannya, dari sejak
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Harapan seperti ini dapat diperoleh
melalui kegiatan pendidikan, pelatihan dan kursus yang menggunakan pendekatan
partisipatif.[73]
Kemudian dalam masyarakat modern sepertisekarang seiap orang dituntut agar
mampu agar mampu menghaddapi persaingan yang makin kompetitif, baik didalam
maupun diluar negri. salah satu cara untuk mengantisipasi persaingan ini adalah
dengan peningkatan sumber daya manusia yang komprehensif.
Atas
pertimbangan asumsi ini, peneliti kemudian melakukan pengembangan pelatihan dengan
pendekatan participatory training. Karena model
participatory training, peserta
didik akan terbantu dalam mengembangkan pemahaman dan sikap sesuai dengan keinginnnya dan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja secara
bersama-sama di antara anggota kelompok akan meningkatkan motivasi,
produktivitas, dan perolehan belajar.
Dalam
penyusunan dan analisis asumsi model pelatihan peneliti
tidak terlalu mengalami kesulitan dan hambatan yang berarti, karena masalah dan
fokus penelitian yang sangat jelas, sehingga bisa membantu peneliti dan tidak
kesulitan dalam menyusun asumsi pendekatan pembelajaran yang akan dijabarkan
dalam penelitian pengembangan.
b.
Analisis kebutuhan kurikulum
Ada beberapa
alasan kenapa suatu lembaga harus mengembangkan program
pelatihan. Salah satunya adalah karena tuntutan kurikulum. Oleh sebab itu,
langkah utama yang diperhatikan dalam penyusunan pelatihan adalah kurikulum. Pengembangan pelatihan harus
memperhatikan tuntutan kurikulum. Artinya pembelajaran yang
dikembangkan benar-benar sesuai dan akurat dengan kurikulum yang diterapkan di
lokasi penelitian.
Pada kurikulum
di Ma’had Aly, lembaga dituntut untuk mempunyai kemampuan
mengembangkan pembelajaran sendiri. Karena tidak mengikuti kurikulum pusat. Oleh karenanya lembaga harus bisa
membuat panduan pelatihan sendiri yang
sesuai dengan kondisi Ma’had yang
bersangkutan. Lebih-lebih pada tataran realitas hal ini benar-benar terjadi di Ma’had Aly Sukorejo Situbondo. .
Dalam
penyusunan panduan pembelajaran ini, peneliti
benar-benar memperhatikan karakteristik sasaran. Hal ini disebabkan panduan pelatihan yang ada sering kali
tidak cocok untuk peserta, karena pola
pelatihan yang didesain dalam modul pelatihan tersebut masih kurang tepat. Untuk itu, panduan pelatihan yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik
sasaran. Selain lingkungan sosial, budaya, dan geografis, karakteristik sasaran
juga mencakup tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal pserta, minat, latar belakang keluarga, dan lain-lain.
c.
Prosedur Penelitian
Sebagaimana
telah ditegaskan dalam bab III bahwa penelitian ini mengadopsi prosedur pengembangan yang dilakukan Borg dan Gall mengembangkan pembelajaran mini (mini
course) melalui 10 langkah, namun karena keterbatasan waktu, tenaga, dan
biaya penelitian disederhanakan menjadi empat tahap saja. Hal ini tentu membuat
penelitian ini nampak memiliki kelemahan karena tidak memenuhi sepuluh langkah
yang telah ditetapkan oleh Borg dan
Gall. Akan tetapi, pada prinsipnya, dalam melakukan prosedur penelitian,
peneliti juga perlu untuk mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada,
sehingga penelitian bisa berjalan sesuai dengan harapan. Atas pertimbangan hal
ini, peneliti kemudian menyederhanakan prosedur yang ada menjadi empat langkah
saja, dengan melaksanakan prosedur pokok-pokok saja.
d.
Menulis modul pelatihan yang didesain dengan model participatory training
Setelah
memastikan akan kebutuhan penulisan modul pelatihan, selanjutnya
peneliti menyusun modul pelatihan yang sudah direncanakan. Model pelatihan yang disusun berupa modul pelatihan, maka
langkah-langkah penulisanpun mengikuti hal-hal yang seharusnya ada dalam modul
pelatihan, sehingga modul pelatihan yang disusun benar-benar menggambarkan
prosedur dan manajemen pelatihan untuk mencapai target dari adanya pelatihan.
Modul pelatihan yang dibuat benar-benar harus bisa digunakan oleh fasilitator
sebagai pedoman pembinaan untuk melaksanakan pelatihan, karena di dalamnya
berisi petunjuk secara rinci, pertemuan demi pertemuan, mengenai tujuan, ruang
lingkup materi yang harus diajarkan, kegiatan pemberian materi oleh narasumber,
media, dan evaluasi yang harus digunakan.
Dari sekian
banyak komponen dalam modul, peneliti
melakukan modifikasi dari beberapa model modul yang sudah ada.
Karena fokus peneliti pada semua aspek pelaksanaan pelatihan, maka modul pelatihan disusun agar
bisa menjadi pedoman dalam modul pelatihan dengan
model participatory training.
e.
Validasi Desain
Validasi
desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam
hal ini modul pelatihan yang baru diterapkan
secara rasional akan lebih efektif atau tidak dari yang lama. Dikatan secara
rasional, karena validasi masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran
rasional, belum berupa fakta lapangan. Sejatinya, proses validasi dilakukan
dengan menghadirkan beberapa ahli untuk memberikan penilaian, bahkan peneliti
seharusnya melakukan presentasi dihadapan ahli, namun karena keterbatasn
situasi dan kondisi, penilaian ahli dilakukan dengan mengisi instrumen
penilaian yang telah peneliti sediakan.
Persoalan mendasar yang tengah
dihapai dalam proses validasi ini adalah ahli yang dilibatkan dalam melakukan
penilaian hanyalah ahli ushul fikih dan
pemakai/pelaksana. Tidak melibatkan ahli manajeman Namun,
penilaian dari beliau-beliau sudah bisa menjamin bahwa pengembangan modul yang
dibuat akan benar-benar lebih efektif dan bisa memecahkan persolan yang dihapi.
Ditambah lagi dengan saran-saran dari pembimbing yang memang ahli manajeman
pendidikan. Hasil penilaian yang telah dilakukan oleh para ahli kemudian
diperbaiki sehingga tingkat kesalahan dan kekurangan bisa diminimalisir.
f.
Uji coba lapangan
Kelayakan modul pelatihan akan benar-benar teruji jika telah di uji di lapangan. Sebagaimana
telah dijelaskan di depan bahwa uji coba lapangan hanya terbatas di Ma’had Aly formal marhalah ula Sukorejo Situbondo saja. Bisa
dikatakan uji coba ini terbatas pada kelompok kecil saja, tidak ada uji coba
kelompok besar dengan melibatkan Ma’had Aly lain lain. Namun
setidaknya, uji coba mhad Aly terbatas ini
sudah bisa menjamin kualitas modul pelatihan ini sudah
sangat baik. Suatu modul yang telah
selesai disusun, sekalipun penyusunannya sudah menempuh langkah-langkah yang
baik, namun tetap perlu perbaikan yang mengnyakut isi maupun efektivitasnya.
Kegiatan perbaikan yang dimaksud adalah melalui review atau uji coba. Proses
ini dilakukan untuk memperoleh tanggapan dari beberapa orang terhadap produk
yang yang disusun, sehingga akan diperoleh masukan dalam upaya perbaikan produk
yang telah selesai disusun.
Setelah
melakukan uji coba, diharapkan modul yang
baru ini bisa membuktikan bahwa modul
pelatihan benar-benar bisa meningkatkan pemahaman peserta pelatihan. Dalam bisa
ditunjukkan dengan hitungan statistik yang menunjukkan
bahwa rata-rata hasil pelatihan yang
menggunakan modul pelatihan participatory training jauh lebih
meningkat dibanding dengan metode lama. Secara kualitatif juga menunjukkan
bahwa peserta menyatakan pelatihan secara partisipatif sangat cocok dan membuat semnagat dan pelatihan berjlan efektif ketika
melakukan uji coba lapangan.
Jumlah peserta haus relatif ideal, untuk membuat proses
uji coba berjalan dengan lancar. Lebih-lebih para peserta pelatihan bisa diatur dengan mudah. Hal ini menjadi faktor pendukung dalam
melakukan uji coba lapangan. Namun kendala utama adalah tidak semua isi modul pelatihan peneliti diuji secara
keseluruhan. Lagi-lagi ini terkait dengan waktu yang sangat minim.
Walaupun
peneliti hanya berhasil membuat modul pelatihan dan
tidak sampai mengujinya, ini tidak dianggap masalah karena memang
keterbatasan waktu dan kesulitan lembaga untuk mengadakan pelatihan diluar
waktu yang telah ditentukan. Namun, modul ini akan menjadi rujukan dan bahan uji
coba bagi peneliti selanjutnya ynag berminat untuk melanjutkan ujicoba
pengembangan modul pelatihan ini. yang peneliti uji coba hanya satu materi
pelajaran saja. Akan tetapi,
Dengan demikian, salah satu keterbatasan dari panduan pembelajaran ini adalah
hanya diperuntukkan untuk Ma’had Aly Sukorejo Situbondo ataupun sekolah
yang memiliki ciri khas yang sepadan. Oleh sebab
itu, penggunaan modul pelatihan ini untuk keperluan lain perlu
pengkajian lebih lanjut dan penyesuaian dengan kondisi setempat.
B.
Produk model pelatihan
1. Kelemahan mode12l pelatihan
Modul pelatihan, memiliki peran penting dalam pelatihan. harus benar-benar memberikan kemudahan
dalam memfasilitasi pelatihan dan diminati oleh peserta pelatihan. Sebab,
apabila pelatihan tidak sesuai dengan keinginan peserta maka sulit sekali akan
menemukan tujuan ahir dari adanya pelatihan yaitu memantapkan sebuat
pengetahuan secara teoritik dilanjutkan cara aplikatif. Mengiat
pentingnya peran pelatihan, maka perlu ada upaya yang tepat untuk
memilih modul pelatihan. Setiap orang perlu melakukan
telaah yang mendalam sehingga modul pelatihan yang dikembangkan
benar-benar tepat. Setidaknya ada
beberapa kriteria yang harus ditelaah dalam menentukan kelayakan sebuah modul pelatihan yakni: isi (konten), gaya penyajian, dan kemasan.
a.
Konten
Pedoman dasar
untuk menentukan kelayakan isi modul adalah kesesuaiannya
dengan aspek-aspek pelatihan yang tertuang
dalam manajeman pelatihan. isi modul yang dikembangkan memungkinkan bagi fasilitator dan penyelenggara untuk merangsang kreativitas dan inspiratif. Partisipasi dari pesserta juga merupakan hal yang penting untuk
dipertambangkan. Dan yang paling penting adalah tidak mengandung kesalahan
logika, konsep, prinsip, dan paradigma keilmuan serta tidak mengundang konflik
terhadap keagamaan, kebangsaan, dan universal..
b.
Gaya Penyajian
Gaya penyajian
adalah cara modul dalam mengomunikasikan isi kepada pembaca. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan gaya penyajian ini. Pertama,
kesederhanaan bahasa dan komunikatif serta mudah dipahami. Kedua,
Penyajian yang runit dengan ilustrasi
yang mempermudah untuk memahami gagasan. Ketiga, bentuk tulisan, tata
letak serta pewarnaan yang tidak membosankan.
Kekurangan
daripada panduan ini adalah dari gaya penyajiannya yang masih
sama kayak panduan pada biasanya. Yang membedakan dengan pembelajaran yang lain hanya pada persoalan pemilihan font dan juga lay out dan
pelaksanaan pelatihan menggunakan model participatory. Di dalamnya tidak terdapat ilustrasi yang cukup banyak. Sementara
untuk warna, karena pertimbangan bahwa pembelajaran yang dibuat
adalah modul pegangan penyelenggara dan fasiliatator.
c.
Kemasan
Bagamaimanapun juga, kemasan yang menarik merupakan daya tarik
pertama sebelum melihat isi buku. Pertama, dimensi buku yang memudahkan
siswa membawanya. Kedua, cover dan jilidan yang cukup kuat sehingga
memungkinkan awet dan tahan lama. Dari
segi kemasan, modul pelatihan.
Selanjutnya, kelemahan modul
pelatihan ini juga bisa dilihat dari aspek penggunaan modul pelatihan sendiri sebagai pendekatan. Meskipun sisi positif modul pelatihan cuku banyak, namun begitu di dalamnya juga terdapat beberapa
kekurangan yang perlu diperhatikan. Kelemahan modul pelatihan bersumber pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam (intern)
dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu sebagai berikut.
a.
Dengan ikutnya para peserta dalam semua aspek pelatihan yakni merencanaka,
merumuskan, melakasanakan, dan evaluasi pelatihan, hal ini, membutuhkan lebih
banyak waktu ketimbang diputuskan langsung oleh peneyelenggara.
b.
fasiliatator harus mempersiapkan pelatihan secara
matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu;
c.
Agar proses pelathan berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan
biaya yang cukup memadai;
d.
Selama kegiatan diskusi kelompok
berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas
sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan saat
diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan peserta yang lain menjadi pasif..
2.
Kelebihan modul pelatihan
Meskipun modul pelatihan yang disusun memiliki kekurangan, namun juga memiliki
kelebihan yang lebih banyak. Kelebihan
ini bisa dilihat dari beberapa aspek.
Kalau dilihat dari isi materi pelajaran yang disajikan,
penyusunan panduan ini memiliki kelebihan dari sisi bahwa penyusunannya
berdasarkan prinsip-prinsip pelatihan, yakni:
1)
Bersadarkan kebutuhan belajar (learning need
based). Sumber informasi tentangkebutuhan belajar adalah peserta dan calon
pesert. Kebutuhn ini dapat pula diidentifikasi oleh lembaga atau organisasi
yang memberi tugas pada peserta serta dari pihak yang menjadi sasaran pelayanan
lembaga atau organisasi dimana peserta bekerja dan mendapat tugas. Pentingnya
kebutuhan belajar ini didasarkan atas asumsi bahwa peserta akan belajarsecara
efektif bila semua komponen program pembelajaran dapat membnatu mereka untuk
memenuhi kebutuhan belajar inilah yang menjadi titik tolak penyusunan dan
pengembangan program pelatihan partisipatif.
2)
Beorentasi pada tujuan kegiatan pelatihan (training
goal and objectives oriented) tujuan pelatihan disusun oleh sumber pelatihan
bersama peserta, denagn mempertimbangkan pengalaman peserta, potensi yang
dimiliki serta sumber-sumber yang tersedia dilingkungan kehidupan mereka serta
kemungkinan hambatan –hambatan yang muncul dalam kegiatan pelatihan.
3)
Berpusat pada peserta (partisipant centered).
Peserta diikut sertakan dan berperan penting dalam kegiatan perencanaan,
pelaksnaan, dan evaluasi. Mereka tiak menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kebutuhan belajar atau
evaluais belajar, akan tetapi juga berperan dalam merumuskan alat-alat atau
instrumen yang digunakan untuk kegiaan tersebut. Mereka juga ikut serta dalam
mengembangkan bahan pelatihan yang cocock dengan pencapaian tujuan pelatihan
mereka sendiri.
4)
Pelatihan berdasarkan pengalaman (experiantial
training). Proses pelatihan partisipatif disusun dan dilaksanakan dengan
berangkat dari hal-hal yang telah dipelajari berupa pengetahua, nilai dan
keterampilan yang telah dimiliki peserta, serta dari pengalaman peserta, baik
pengalaman dari tugas pekerjaan sehari-hari maupun pengalaman nyatayang diangkat dari tugas atau pekerjaan
mereka. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam proses pelatihan lebih
menitik beratkan pada pemecahan masalah.
BAB
VI
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan proses pengembangan terhadap model pelatihan ushul fikih di Ma’had Aly Marhalah Ula Sukorejo
Situbondo dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Pelaksanaan pelatihna ushul fikih di Ma’had Aly Marhalah
Ula Sukorejo Situbondo terlihat para peserta kurang aktif berpartisipasi dalam pelatihan
dan ikut serta dalam semua proses pelatihan mulai dari perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi. Oleh karena itu tawaran model participatory training dianggap cocok untuk
mengatasi hal tersebut dalam pelatihan ushul fikih Ma’had Aly Marhalah Ula Sukorejo
Situbondo. Pengembangan ini dikembangkan
dalam empat tahap, yakni : 1) Melakukan analisis kebutuhan (need assasemen), 2) merancang dan mengembangkan produk awal
dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan modul pelatihan dan unsur-unsur pelatihan, 3) memvalidasi hasil produk yang dikembangkan kepada ahli sebelum produk bisa di uji cobakan, 4) evaluasi dan revisi modul pelatihan dari hasil pengembangan ini dapat dijadikan acuan
dan rujukan dalam proses pelatihan ushul fikih di Ma’had
Aly Sukorejo khususnya dan Ma’had Aly lainnya yang
memiliki karakteristik yang sama pada umumnya.
2.
Pengembangan yang dilakukan telah
menghasilkan satu produk modul pelatihan, yang
berjudul, “modul pelatihan ushul fikih dengan participatory
training Ma’had Aly Sukorejo Situbondo” Berdasarkan hasil uji validasi ahli, modul pelatihann ini secara umum sudah baik.
Berdasarkan tanggapan dan penilaian yang telah dilakukan dapat simpulkan bahwa modul pelatihan ini dapat membantu dan memudahkan penyelenggara, pelaksana dan fassilitator pelatihan untuk melaksanakan dan menjalankan pelatihan
sesuai dengan harapan semuanya baik penyelenggara maupun peserta.
B.
Saran-saran
Berdasarkan
uraian dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang peneliti identifikasi dari
berbagai pihak yang diharapkan dapat menjadi masukan dalam penelitian
pengembangan pelatihan
di masa mendatang, sehingga dapat menghasilkan produk modul pelatihan
yang lebih baik dan sesuai dengan sasaran penelitian, diantaranya:
1.
Hendaknya dalam
tahap awal pengembangan pelatihan,
analisis kebutuhan produk pengembangan, lebih diitensifkan dalm di-explore lebih mendalam, sehingga produk panduan pembelajaran mampu mengakomodir
harapan guru dan siswa serta benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
2.
Modul pelatihan memiliki keterbatasan,
diantaranya: 1) tidak sampai di uji
cobakan karena keterbatasan waktu, 2) uji validasi tidak diujikan pada banyak orang (ahli)
namun hanya di uji oleh dua ahli.
3.
Dalam memanfaatkan
modul pelatihan ini, masih memerlukan panduan pelatihan yang lain sebagai
referensi panduan
pelatihan, karena produk pengembangan lebih fokus kepada pelatihan secara umum. Disarankan, modul pelatihan dibuat lebih fokus lagi pada semua aspek
pelatihan seperti modul perencanaan, panduan pelaksanaan, dan panduan evaluasi
pelatihan.
4.
Produk pengembangan ini hendaknya dapat diuji cobakan dan dikembangkan lebih lanjut
dengan materi, contoh-contoh
pelaksanaan sehingga diharapkan pendekatan participatory training dapat diaplikasikan secara menyeluruh
terhadap pelatihan ushl fikih
di Ma’had Aly Sukorejo dan disekolah lain yang memiliki
karakteristik sama.
5.
Bagi pengembang pelatihan, hendaknya dapat melakukan
pengembangan pelatihan dengan
menggunakan metodelogi
pengembangan yang lebih cermat dan konsisten dalam melakukan langkah-langkah
pengembangan, sehingga dapat menghasilkan produk panduan pembelajaran yang teruji dan
valid.
6.
Produk panduan pembelajaran ini tidak mungkin dapat
mengatasi permasalahan secara keseluruhan yang terjadi pada proses pelatihan ushul fikih secara menyeluruh.
Dengan demikian, diperlukan ada upaya tindak lanjut yang lain dengan melibatkan
pihak-pihak terkait, sehingga proses pelatihan benar-benar aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
kartika Ikka. 2011. Mengelola Pelatihan Partisipatif.(Bandung:
Alfabeta.)
Manullang K. 1990. Manajemen Partisipatif. (Jakarta: SIUP.)
samsudin Sadili. 2010. Manajemen sumber daya manusia.(Bandung: CV
Pustka
Setia.)
Pidarta Made. 2015. Perencanaan
pendidikan partisipatori dengan pendekatan
sistem. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dwivedi Anju. 2004. Metodelogi pelatihan partisipatif. Yogya Karta:
Bantul
Yogyakarta.
Hartuti Evi rine. 2012. Udang-undang republik indonesia nomor 20 tahun
2003
tentang pendidikan
nasional.(Yogyakarta:Laksana).
Wasito Wojo. 2007. Kamus umumlengkap indonesia-ingris. Ingris-indonesia.
(Yogyakarta:Pengarang.)
Kamil Musthofa. 2012. Model pendidikan dan pelatihan(konse dan aplikasi).
(Jakarta: ALFABETA.)
Marzuk Saleh i. 2010. Pendidikan non formal.(Jakarta: Rosda.).
Sudjana. 2010.
Sistem dan manajemen pelatihan.(Yogya Karta: Falah Produktion)
Rosset Allison
. Training needs assesment.1987
Sujana Djudju. 2009. Evaluasi program pendidikan luar sekolah.(Jakrta
:Remaja
Rosdakarya.)
Setyanto Ardi. 2014. Panduan sukses komunikasibelajar mengajar.(Jogjakarta:
Diva Press.)
Tjokrowinoto Moeljarto. 1996 . Pembangunan: dilema dan tantangan.( Yogya
Karta:Pustaka Pelajar).
Subroto Suryo,2002, Proses Belajar Mengajar
Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta)
Santoso
Sastropoetro, partisipasi, komunikasi, persuasi dan disipilin dalam
pembangunan nasional. (Bandung:Alumni)
Sugiyono, 2012. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung:
Alfabeta,
8000 Kamus
Bahasa Indonesia,( Semarang. CV.Aneka Ilmu).
Ainin Moch.,2007. Metodologi Peneltian Bahasa Arab, Pasuruan: Hilal Pustaka.
Moleong Lexy J.,1989.Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung:Remaja
Karya).
Arikunto.Prosedur
Penelitian edisi revisi, Rineka Cipta
Iskandar,2008.Metodologi Penelitian Pendidikan
dan Sosial.Jakarta: Gaung
Persada
Press
Stewart Jim, Mengelola Perubahan Melalui
pelatihan dan Pengembangan
(Managing
Change Through Training and Development), PT Gramedia,
Jakarta
1997.
Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM),
IKIP Jakarta,
Kumpulan
Makalah Pelatihan Mengajar Bagi Instruktur PUSDIKLAT,
Koordinator Pendidikan dan Pelayanan Kepada
Masdyarakat, IKIP Jakarta 1996.
Melvin L Mel Silberman, , 101 Ways To Make
Training Active, Pfeiffer &
Company
Johannesburg, London, San Diego, Sydney, Totonto,1995
Auvine, Brian, A Manual For Group
Facilitators, The Center for Conflict
Resolution,
Madison, Wiconsin 1978.
Bina Swadaya, 2000 . Modul Pelatihan Pelatih Bagi Keluarga Besar DELIVERI,
(Bahan
Pelatihan Pelatih I), Novotel, Bogor,
John D. A Ingalls,. 1973. Trainers Guide to Andragogy, Washington,
DC: US
Department
of Health, Education and Welfare, May.
Deliveri Project, Laporan Pelatihan Pelatih
(Training of Trainers) Bagi Staf
Dinas
Peternakan (Propinsi dan Kabupaten), 1997, 1998 dan 1999.
[1] Sadili Samsudin. Manjemen Sumber Daya Manusia. (Bandung: CV Pustaka Setia. 2010). hal. 111
[2] Evi Rine Hartuti. Udang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Pendidikan Nasional.(Yogyakarta:Laksana.2012) hal. 11
[3] Hamdani,
Strategi Belajar Mengajar, (Bandung:Cv Pustaka Setia, 2011) hal. 12
[4] E.S. Kasihani Kasbolah, Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). (Malang: Departemen
Pendidikan dan
Kebudayaan, 1998) hal. 09
[5] Kasihani Kasbolah. Penelitian Tindakan
Kelas. (Jakarta: Bumi Aksara. Kusumo Priyono, 2001), hal. 15
[6] Mulyasa E. Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung:
Remaja Rosda Karya, 2006) hal. 06
[7] Wina Senjaya, Stategi Pembelajaran, (Jakarta:
Kencana Pranada Media, 2001) hal. 20
[8] Omar
Malik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2008), hal. 15
[9] Samiawan, Pendekatan Keterampilan Pros
Bagaimana Mengaktifkan Siswa, (Jakarta: Gramedia, 1985) hal. 06
[10] Rusman, Manajemen Kurikulum,(Jakarta:
Raja Wali Press, 2008), hal. 37
[11] Musthofa Kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(konse dan aplikasi).(Jakarta:
ALFABETA.2012) hal. 04
[12] Wojowasito. Kamus Umum Lengkap
Indonesia-Ingris. Ingris-Indonesia. (Yogyakarta:Pengarang.2007) hal. 701
[13] Musthofa kamil. Model Pendidikan
Dan Pelatihan Konse Dan Aplikasi .(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 3-4
[14] Musthofa Kamil. Model Pendidikan
Dan Pelatihan(konse dan aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 04
[15] Musthofa Kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse Dan Aplikasi).(Jakarta:
ALFABETA.2012) hal. 06
[16] Saleh Marzuki. Pendidikan Non
Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 175
[17] Saleh Marzuki. Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 176
[18] Saleh Marzuki. Pendidikan Non
Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 175
[19] Musthofa Kamil. Model Pendidikan
Dan Pelatihan(Konse Dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 10
[20] Saleh Marzuki. Pendidikan Non
Formal.(Jakarta: Rosda.2010). hal. 180
[21] Musthofa kamil. Model Pendidikan
Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012) hal. 10
[22] Sudjana. Sistem dan Manajemen
Pelatihan. (Yogya Karta: Falah
Produktion 2010) hal. 105
[23]
Dale Yoder, Training needs assesment, 1987, hal. 35
[24]
Musthofa
kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta:
ALFABETA.2012) hal. 19
[25] Sudjana. Sistem dan Manajemen
Pelatihan. (Yogya Karta: Falah Produktion 2010) hal. 03
[26]
Musthofa
kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta:
ALFABETA.2012) hal. 40
[27] Much Misbeh, Model Pelatihan Berbasis Sks,
(Jakarta: Rosda.2013). hal. 34
[28]
Saleh Marzuki.
Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 140
[29]
Musthofa
kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta:
ALFABETA.2012) hal. 33
[30] Allison Rosset. Training Needs
Assesment. 1987
[31] Djudju Sujana. Evaluasi Program
Pendidikan Luar Sekolah. (Jakrta Remaja ROSDAKARYA.2009). hal. 12
[32] Djudju Sujana. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah.(Jakrta
Remaja ROSDAKARYA.2009). hal. 12
[33]
Saleh Marzuki.
Pendidikan Non Formal.(Jakarta: ROSDA.2010). hal. 50
[34]
Musthofa
kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan (Konse dan Aplikasi).(Jakarta: ALFABETA.2012)
hal.53
[35]
udjana. Sistem
dan Manajemen Pelatihan.(Yogya Karta: Falah Produktion 2010) hal. 111
[36] Much Misbeh, Model Pelatihan Berbasis SKS,
(Jakarta: Rosda.2013). hal. 56
[37] Much
Misbeh, Model Pelatihan Berbasis Sks, (Jakarta: Rosda.2013). hal. 32
[38]
Musthofa
kamil. Model Pendidikan Dan Pelatihan(Konse dan Aplikasi).(Jakarta:
ALFABETA.2012) hal.44
[39] Ardi Setyanto. Panduan Sukses Komunikasi Belajar Mengajar.(Jogjakarta:
DIVA PRESS.2014), hal. 208
[40] Moeljarto Tjokrowinoto. Pembangunan:
Dilema Dan Tantangan.( Yogya Karta: Pustaka
Pelajar, 1996 ) hal. 65
[41] : Abdurrahman, Mulyono. : Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar / Mulyono Abdurrahman.( Jakarta :Rineka Cipta.1999)hal. 33
[42] Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar Di Seekolah, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2002) hal. 21
[43] Santoso Sastro Poetro, Partisipasi Komunikasi, Persuasive Dan
Disiplin Dalam Membangunan Nasional, (Bandung: Alumni) hal. 54
[44] Keith Davis. Human Relations at
Work. (McGraw-Hill,
1962).hal. 222
[45]
Santoso Sastro Poetro, Partisipasi
Komunikasi, Persuasive Dan Disiplin Dalam Membangunan Nasional, (Bandung:
Alumni) hal. 57
[46] PTO PNPMPPK, 2007
[47]
Santoso Sastro Poetro, Partisipasi
Komunikasi,(tp. tt), hal. 76
[48]
Santoso Sastro Poetro, Partisipasi
Komunikasi, Persuasive Dan Disiplin Dalam Membangunan Nasional, (Bandung:
Alumni) hal. 65
[49] Mardikanto. Pemeberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik.(Jogjakarta:
ALFABETA.2001). hal.03
[50] Mardikanto. Pemeberdayaan masyarakat dalam perspektif kebijakan publik.(Jogjakarta:
ALFABETA.2001). hal.04
[51] Margono Slamet. Membentuk pola prilaku manusia pembangunan (Bandung:IPB
PRESS.2003). hal. 15
[52] Robbins. Manajemen edisi
kesepuluh.(Jakarta:ERLANGGA.1998).hal. 55
[53] Nitisemo. Manajemen Personalia.(Jakarta:Ghalia
Indonesia.1998). hal. 283
[54] Siswanto. Pengantar Manajemen
(Jakarta:Bumi Aksara,2011).hal. 25
[55] Pusat Pembinaan Bahasa Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan RI, (Jakrta: Balai Pustaka, 1994), h. 520
[56] Harifudin Cawidu, Konsep Kufr Dalam
al-Qur'an, Suatu Kajian Teologis Dengan Pendekatan Tematik (Jakarta: Bulan
Bintang, 1991), h. 13.
[57] Idtesis.Com, Pengertian Konsep Menurut
para Para Ahli, (Diposting Tanggal 20 Maret 2015).
https://idtesis.com/konsep-menurut-para-ahli/ (Diakses; Tanggal 23 desember 2018).
[58] Maleong Lexy, Metodologi Penelitian
Kuantitatif, (Bandung: Remaja Rodakarya, 2005) hal. 12
[59] Sugiyono, 2012. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta, hal: 02
[60] Mohammad Nadzir, Metode Penelitian, (
Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999) hal. 26
[61] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D (Surabaya: Erlangga,2011), hlm.333.
[62] Setyo sari, metode penelitian pendidikan
dan pengembangan,(Jakarta:kencana, 2010) hal. 18
[63] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D (Surabaya: Erlangga,2011), hlm.334.
[64] 8000
Kamus Bahasa Indonesia,CV.Aneka Ilmu:Semarang,h.104
[65] Moch. Ainin, Metodologi Penelitian Bahasa Arab, (Pasuruan: Hilal Pustaka. 2007)
h.117
[66] Lexy J. Moleong, M.A, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung:Remaja Karya, 1989),h.174
[67] Arikunto.Prosedur
Penelitian edisi revisi, Rineka Cipta,h.236
[68] Iskandar, Metodologi
Penelitian Pendidikan dan Sosial.Jakarta:
Gaung Persada Press. 2008) h.219
[69] Moch. Ainin, Metodologi Penelitian Bahasa Arab, (Pasuruan: Hilal Pustaka. 2007)
h.122
[70] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D (Surabaya: Erlangga,2011), hlm.270
[71] Yanur Setyaningrum, Desain Pembelajaran;
Berbasis Pencapaian Kompetensi, Panduan Merancang pembelajaran untuk mendukung
Implementasi Kurikulum 2013, Cet. I, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher,
2013), 85
[72] Ikka kartika, Mengelola Pelatihan Partisipatif,(Bandung:ALFABETA,2011).hal.
03
[73] Ikka kartika, Mengelola Pelatihan Partisipatif,(Bandung:ALFABETA,2011).hal.
05
Komentar
Posting Komentar